Lonjakan harga minyak mentah Indonesia ke US$112,81 per barel pada September 2026 bukan sekadar angka di lembar laporan Kementerian ESDM. Ada beban fiskal yang diam-diam menggunung di baliknya: belanja subsidi dan kompensasi energi nasional sudah meledak 54% per September dibanding periode yang sama tahun lalu. Tekanan itu kian berat memasuki kuartal terakhir tahun ini.
ICP September melonjak US$23,38 dari bulan sebelumnya yang masih di angka US$89,43 per barel. Level itu kini hampir dua kali lipat asumsi APBN 2026 yang dipatok US$70 per barel. Agaknya tidak ada yang benar-benar siap dengan skenario ini ketika anggaran disusun.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman menyebut lonjakan itu cerminan ketidakpastian geopolitik yang sedang panas-panasnya. Eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya ketegangan antara AS dan Iran, membuat Selat Hormuz menjadi jalur yang makin riskan. Ekspor minyak melalui selat tersebut sempat anjlok 28% dibandingkan Juli. Penutupan sementara Pipa East-West Arab Saudi berkapasitas 7 juta barel per hari akibat serangan drone, ditambah penundaan kuota produksi OPEC+ serta serangan terhadap infrastruktur kilang di Rusia, membuat pasokan global semakin terjepit.
Harga Pertamax Oktober tetap dipatok Rp15.950 per liter. Tidak ada penyesuaian pada jenis BBM nonsubsidi lainnya. Direktur Perencanaan dan Pertumbuhan Bisnis PT Pertamina Patra Niaga Joko Pranoto menegaskan ada arahan untuk menahan seluruh harga jenis bahan bakar umum retail dan avtur agar tetap di level September. Bukan keputusan komersial biasa: selisih antara harga pasar dan harga jual yang ditahan itulah yang bermuara pada pembengkakan angka subsidi dan kompensasi di neraca fiskal.
VP Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan perusahaan terus mengoptimalkan pengadaan, produksi kilang domestik, dan efisiensi operasional. "Pertamina terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk menjaga keseimbangan antara keterjangkauan harga bagi masyarakat, keandalan pasokan, dan keberlanjutan bisnis perusahaan," ucap Baron.
Soal ketahanan stok, pemerintah mengklaim kondisi aman. Cadangan Pertalite RON 90 bertahan 16-20 hari, sementara Pertamax dan Solar berada di atas 20 hari, kata Menko Bahlil Lahadalia. Rata-rata ICP Januari hingga Oktober 2026 masih terjaga di kisaran US$91-92 per barel, artinya tekanan terberatnya memang terkonsentrasi di bulan-bulan terakhir. Sempat terjadi keterlambatan pasokan di Bali karena kapal dari Jawa tertunda masuk, tapi Bahlil menyebut situasi itu sudah terurai dengan bantuan Forkopimda, Kepolisian, dan TNI. Kendala serupa di sebagian kawasan Jawa Timur pun disebut berangsur teratasi.
Kementerian ESDM memproyeksikan ICP Oktober mulai melandai ke kisaran US$98-103 per barel. Lebih rendah dari September, tapi masih jauh di atas asumsi APBN. Pertanyaannya sederhana: sampai kapan kas negara sanggup menanggung selisihnya?