Dua emiten grup Adaro, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), kompak mengeksekusi program buyback saham mulai Selasa (20/10/2026). Langkah yang agaknya bukan kebetulan ini muncul ketika pasar modal Indonesia sedang dihajar ancaman serius dari MSCI.
Untuk ADRO, dana yang disiapkan mencapai maksimal Rp5 triliun. Bukan angka kecil. Persetujuan sudah dikantongi dari Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan pada 17 April 2026, dengan periode pelaksanaan 12 bulan sejak 18 April tahun yang sama. Ini bukan kali pertama ADRO masuk pasar beli saham sendiri, eh, bukan, tanpa em dash: sebelumnya perseroan sudah melakukan hal serupa pada 16 Mei hingga 2 Juni 2025, mengumpulkan kembali 33 juta saham.
Corporate Secretary Alamtri Maharani Cindy Opssedha menyebut buyback ini bukan sekadar aksi korporasi rutin. "Langkah ini mencerminkan keyakinan perseroan terhadap fundamental ekonomi nasional dan prospek bisnis jangka panjang, sekaligus menjadi bagian dari dukungan terhadap upaya menjaga stabilitas pasar modal Indonesia," paparnya. Manajemen juga memastikan dana sebesar itu tidak akan menggerus kebutuhan investasi dan operasional, mengingat kondisi likuiditas perseroan yang disebutnya prudent.
AADI, yang melaksanakan buyback berdasarkan keputusan RUPST 22 Mei 2026, memberi ruang waktu lebih panjang dengan periode pelaksanaan hingga 22 Mei 2027. Perseroan belum membeberkan rincian nilai anggaran maupun jumlah saham yang akan dibeli kembali. Berbeda dengan induknya yang sudah memasang plafon Rp5 triliun secara eksplisit.
Konteks di balik serangan buyback ini patut dicermati. Pada 15 Oktober 2026, MSCI mengumumkan konsultasi atas rencana perubahan klasifikasi pasar Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Kalau ini terjadi, banjir capital outflow dari fund berbasis indeks MSCI hampir pasti tak terhindarkan. Bursa Efek Indonesia sudah menggelar pertemuan daring dengan MSCI tepat di hari yang sama buyback kedua emiten ini dimulai. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik tidak mengungkap detail maupun kesimpulan pertemuan tersebut. Bungkam total.
Dua inisiatif juga disiapkan BEI untuk memperkuat transparansi pasar. Pertama, menambahkan keterangan status afiliasi dalam publikasi nama pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1 persen. Kedua, mengeluarkan seluruh saham berkategori high shareholding concentration dari perhitungan IHSG. Jeffrey menegaskan saham-saham HSC, yang saat ini mencakup sekitar 18 persen komponen indeks, tetap bisa diperdagangkan, tapi pergerakan harganya tidak lagi akan menggerakkan jarum IHSG.
Bagi investor yang sudah nyangkut di saham-saham grup Adaro, sinyal buyback ini setidaknya memberikan semacam bantalan psikologis. Pertanyaannya, berapa lama bantalan itu bertahan kalau downgrade MSCI benar-benar terjadi? Rp5 triliun mungkin terasa masif di atas kertas, tapi melawan arus keluar dana indeks global adalah cerita lain.