RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Blackout Batam: Kamera Bergeser Semalam Sebelum Ke...

Ekonomi

Blackout Batam: Kamera Bergeser Semalam Sebelum Kejadian, Polisi Masih Dalami Bukti

Sepekan setelah blackout melanda Batam dan Bintan, PLN Batam justru menemukan sejumlah kejanggalan di lokasi kejadian. Penyebab pasti masih di tangan Bareskrim.

PLN Batam Belum Pastikan Hewan Liar Jadi Penyebab Blackout, Tunggu Penyelidikan Polisi

Sudah sepekan berlalu sejak blackout melanda Pulau Batam dan Bintan pada Senin, 12 Oktober 2026, tapi penyebab pastinya belum juga terkuak. Yang ada malah makin banyak tanda tanya.

PT PLN Batam, yang semula sempat mengisyaratkan dugaan intrusi hewan liar di Gardu Induk Sei Harapan, kini melunak. Direktur Utama PLN Batam Kwin Fo mengakui pihaknya belum bisa menyimpulkan bahwa hewan primata yang terekam CCTV di lokasi memang menjadi pemicu percikan api pada peralatan kelistrikan. Hewan itu, kata Kwin, baru terlihat sekitar pukul 11.30 WIB, beberapa jam setelah gangguan terjadi di pagi hari. Saat petugas tiba di lokasi pukul 07.00 WIB, tak ada bangkai maupun jejak hewan di sana.

Tapi soal hewan itu sebenarnya bukan bagian paling menggelisahkan. Kamera CCTV di sekitar gardu induk ternyata sudah bergeser posisinya sejak Minggu malam, 11 Oktober 2026, sekitar pukul 18.43 WIB, tepat sehari sebelum insiden. Akibatnya, trafo yang mengalami percikan tidak lagi tertangkap kamera secara jelas. Kawat pengaman berarus listrik di pagar gardu induk juga terdeteksi padam saat insiden terjadi. "Berdasarkan rekaman, kamera tersebut telah bergeser pada Minggu, sekitar pukul 18.43 WIB, sehari sebelum gangguan terjadi, sehingga trafo yang mengalami percikan tidak lagi terlihat jelas dalam rekaman CCTV," jelas Kwin Fo.

Kwin menduga pergeseran kamera bukan ulah hewan, melainkan ada campur tangan manusia. Tapi ia tidak ingin melangkah lebih jauh dari situ. Urusan sabotase atau bukan, diserahkan sepenuhnya ke Bareskrim Polri dan Polda Kepri yang kini tengah mendalami seluruh bukti. "Kami tidak ingin mendahului. Saya tidak mungkin berspekulasi karena pihak berwajib masih melakukan pendalaman," tegasnya.

Satu isu lain yang ramai beredar ikut dibantah habis-habisan. PLN Batam memastikan blackout tidak ada kaitannya dengan pengujian operasional data center di Batam. Kwin menyebut klaim itu sepenuhnya tidak benar, mengingat ekosistem data center di Batam belum beroperasi penuh dan penggunaan listriknya diperkirakan belum menyentuh 10 persen dari total kapasitas. Sistem kelistrikan Batam saat ini memiliki daya pasok 930 megawatt dengan beban sekitar 780 MW, sehingga cadangan masih aman di kisaran 20 persen. PLN Batam memproyeksikan daya pasok naik ke 1.300 MW pada 2027 melalui pembangunan PLTG, PLTS, dan Battery Energy Storage System.

Sementara investigasi berjalan, PLN Batam bergerak di sisi lain: kompensasi. Bukan, bukan seperti itu. Paralel dengan investigasi, PLN Batam juga mengurus kompensasi pelanggan. Direktur Bisnis dan Pengembangan Usaha PLN Batam Raditya Surya Danu memastikan pelanggan reguler yang terdampak akan otomatis mendapat potongan 10 persen dari komponen tagihan di billing November 2026, tanpa perlu mengajukan permohonan. Mekanisme ini mengacu pada Peraturan Gubernur Kepulauan Riau Nomor 22 Tahun 2017 tentang Tingkat Mutu Pelayanan penyaluran tenaga listrik. "Jadi tidak perlu membuat permohonan maupun pergi ke kantor," kata Raditya.

Untuk pelanggan bisnis atau B2B, kompensasinya lebih besar, berkisar 15 hingga 25 persen dari total pemakaian, tergantung jenis layanan. Kerugian yang ditanggung PLN Batam sendiri akibat insiden ini belum dihitung.

Blackout sebentar bisa jadi sekadar gangguan teknis biasa. Tapi dengan CCTV yang bergeser semalam sebelum kejadian, kawat pengaman yang mendadak padam, dan hewan yang baru muncul berjam-jam setelah insiden, agaknya ini bukan cerita yang akan selesai cepat. Pertanyaannya, sampai sejauh mana polisi mau menggali?