RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Ekonomi  ›  Lowongan Banjir, Penganggur Tetap Jutaan: Ada Apa...

Ekonomi

Lowongan Banjir, Penganggur Tetap Jutaan: Ada Apa dengan Pasar Kerja Kita?

Angka pengangguran Indonesia memang turun, tapi 7,22 juta orang masih menganggur dan anak muda justru makin sulit dapat kerja. Paradoks pasar kerja ini punya akar yang lebih dalam dari sekadar soal jumlah lapangan kerja.

Pertumbuhan Ekonomi untuk Siapa?

Buka LinkedIn atau Jobstreet hari ini, lowongan kerja membanjir. Tapi buka grup WhatsApp pencari kerja mana saja, isinya keluh kesah: puluhan lamaran terkirim, tak satu pun direspons. Dua realitas ini hidup berdampingan, dan penjelasannya tidak sesederhana "lapangan kerja kurang".

BPS mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Mei 2026 berada di angka 4,65 persen, setara 7,22 juta orang. Turun tipis dari Februari 2026, dan kalau ditarik ke Agustus 2025 angkanya ada di 4,85 persen dengan jumlah penduduk bekerja 146,54 juta orang. Di atas kertas, trennya memang ke bawah. Masalahnya, "turun" tidak berarti "membaik" secara substansial, dalam dua tahun terakhir angka penganggur nyaris stagnan di kisaran 7,2 juta orang. Penurunannya ada, tapi tipis sekali.

Kelompok muda? Justru makin berat. TPT usia 15 sampai 24 tahun naik ke 17,37 persen pada Mei 2026, dari 16,36 persen tiga bulan sebelumnya. Saat angka nasional merayap turun, mereka yang baru mau masuk dunia kerja malah menghadapi medan yang kian keras.

Anggapan lama bahwa pengangguran identik dengan rendahnya pendidikan perlu dikubur. Data terbaru menunjukkan TPT tertinggi justru dari lulusan SMK sebesar 7,68 persen, diikuti SMA, lalu kelompok Diploma IV hingga S3 di angka 6,09 persen. Lulusan SD ke bawah? TPT mereka hanya 2,31 persen, karena mereka tidak punya kemewahan untuk menunggu. Sekitar 1,03 juta lulusan perguruan tinggi saat ini tercatat menganggur, sekitar 14,31 persen dari total penganggur nasional, dan porsinya naik dibanding akhir 2025.

Ini bukan ironi kecil. Negara sudah berinvestasi besar dalam pendidikan, tapi ketika lulusannya masuk pasar kerja, ijazah tidak otomatis jadi tiket. Pendidikan dan industri, agaknya, sedang berjalan di rel yang berbeda. Kampus butuh waktu bertahun-tahun untuk merevisi kurikulum, sementara industri bergerak jauh lebih cepat. Ketika sebuah program studi selesai menyiapkan lulusan dengan keterampilan tertentu, kebutuhan pasar bisa saja sudah bergeser ke tempat lain.

Mandiri Institute memperkirakan satu dari dua pekerja Indonesia mengalami vertical mismatch pada 2025, sekitar 72,3 juta orang. Situasi di mana tingkat pendidikan seseorang tidak sesuai dengan tuntutan pekerjaannya. Ekonom Indef menilai ini bukan semata soal kualitas pendidikan, melainkan soal struktur ekonomi yang tidak menghasilkan cukup pekerjaan produktif untuk menampung lulusan yang terus bertambah. Ada pula horizontal mismatch, bidang studi yang sama sekali tidak nyambung dengan pekerjaan yang akhirnya diterima. Sebagian lulusan SMK bekerja di luar jurusannya bukan karena pilihan, tapi karena tidak ingin terus menganggur.

Dari sisi penawaran dan permintaan tenaga kerja, gambarannya juga kurang meyakinkan. Penduduk usia kerja mencapai 219,54 juta orang per Februari 2026, bertambah 2,75 juta dibanding tahun sebelumnya. Penyerapan tenaga kerja? Hanya bertambah 1,89 juta orang dalam periode yang sama. Supply tumbuh lebih cepat dari demand, dan celahnya bukan cuma soal jumlah, tapi juga soal jenis keterampilan yang dibutuhkan versus yang tersedia.

Satu aspek yang sering luput dari perdebatan soal pengangguran adalah kualitas pekerjaan yang ada. Bekerja belum tentu berarti bekerja dengan layak. Bisa jadi hanya beberapa jam sehari, bisa jadi di sektor informal tanpa perlindungan apapun. Rata-rata upah buruh tercatat Rp3,33 juta per bulan, angka yang untuk sebagian besar kota besar terasa mepet. Sektor informal memang berjasa menyerap tenaga kerja ketika formal tidak tersedia, tapi kalau informalitas terus jadi pelabuhan terakhir bukan pilihan, pertanyaannya berubah: apakah penurunan TPT benar-benar merepresentasikan perbaikan kualitas hidup pekerja?

Dari sisi perusahaan pun ada yang perlu dievaluasi. Kemnaker menyebut skill mismatch sebagai faktor utama pengangguran terdidik, termasuk lemahnya literasi digital dan soft skills. Tapi tidak sedikit juga lowongan yang sejak awal dirancang dengan ekspektasi tidak realistis: posisi entry level yang mensyaratkan pengalaman bertahun-tahun, atau satu jabatan yang menuntut daftar keahlian panjang untuk satu orang. Kalau analisis jabatannya saja sudah keliru, lowongan itu akan terus terbuka bukan karena tidak ada pelamar, melainkan karena standarnya memang tidak mungkin dipenuhi. Pertanyaannya, berapa banyak lowongan yang beredar hari ini masuk kategori ini?

Jutaan lowongan terbuka, jutaan orang menganggur. Keduanya nyata. Dan keduanya terjadi karena sistem yang, jujur saja, belum berhasil mempertemukan keduanya dengan tepat.