Empat peti jenazah berselimut bendera tiba di Pangkalan Angkatan Udara Dover, Delaware, Rabu malam waktu setempat. Prosesi dignified transfer itu menandai kepulangan terakhir empat prajurit AS yang gugur dalam konflik yang kini telah menelan 18 nyawa personel militer Amerika sejak perang melawan Iran dimulai.
Angka 18 bukan sekadar statistik. Setiap kenaikan berarti satu lagi upacara di Dover, satu lagi keluarga yang berdiri di apron landasan menunggu peti jenazah turun dari pesawat. Dan angka itu terus naik, meski Washington berulang kali mengklaim kemampuan militer Teheran sudah berhasil dilumpuhkan.
Keempat prajurit yang dipulangkan Rabu kemarin adalah korban dalam dua insiden terpisah, dengan tiga di antaranya gugur dalam satu serangan tunggal. Pada 17 Juli lalu, rudal dan drone Iran menghantam barak peristirahatan di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti, Yordania, menewaskan Letnan Satu Tyler James Feehan (25), Sersan Angel S. Rampersad (28), dan Prajurit Satu Isabella Gonzales (19). Jam menunjuk tengah malam. Para prajurit itu sedang istirahat.
Gonzales tercatat sebagai korban termuda dalam konflik ini. Perempuan berusia 19 tahun itu baru bergabung dengan Angkatan Darat AS pada 2025 sebagai operator sistem pertahanan udara dan rudal, belum genap setahun berseragam sebelum gugur di Yordania. Feehan punya lintasan karier yang lebih panjang: mantan insinyur tempur Garda Nasional Hawaii yang beralih menjadi perwira aktif pertahanan udara pada 2024. Setelah meninggal, ia mendapat kenaikan pangkat anumerta menjadi kapten.
Presiden Donald Trump hadir langsung dalam prosesi tersebut, memberi hormat saat peti jenazah satu per satu dipindahkan ke kendaraan pengangkut. Sebelum upacara, ia mengakui beratnya momen ini. "Kami akan memberikan penghormatan kepada mereka. Bagi saya, ini adalah salah satu tugas paling berat sebagai presiden, tetapi ini harus dilakukan," katanya kepada jurnalis.
Tapi di balik gestur penghormatan itu, ada kontradiksi yang agaknya sulit diabaikan. Pentagon mencatat sekitar 500 personel AS mengalami luka-luka sepanjang konflik berlangsung, dan yang bikin dahi berkerut: lebih dari 100 di antaranya terjadi hanya sejak awal Juli. Intensitas serangan Iran, kalau data ini bisa dipercaya, justru meningkat dalam sebulan terakhir. Sekitar 96 persen korban luka sudah kembali bertugas, tapi tren ini bertolak belakang dengan narasi kemenangan yang dibangun Trump dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth.
Pertanyaannya sederhana: kalau militer Iran benar-benar sudah lumpuh seperti yang diklaim, dari mana datangnya rudal yang masih sanggup menembus barak militer AS di Yordania?
Perang yang dimulai 28 Februari 2026 ketika AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran itu kini memasuki babak yang semakin mahal biayanya, setidaknya diukur dari nyawa yang pulang dalam peti berbendera.