RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  40 Warga Israel Ditahan dan Diinterogasi di Bandar...

Internasional

40 Warga Israel Ditahan dan Diinterogasi di Bandara Domodedovo

Sekitar 40 warga negara Israel ditahan selama lima jam di Bandara Domodedovo, Moskow, tanpa makanan dan air, di tengah memanasnya hubungan Rusia-Israel akibat konflik Iran.

Lima jam. Tanpa makanan, tanpa air, ponsel disita. Lalu satu kalimat bernuansa politik yang disampaikan petugas kepada para tahanan: "Iran adalah sekutu strategis Rusia, dan musuh Teheran pasti adalah musuh Moskow."

Sekitar 40 warga negara Israel, termasuk pemegang kewarganegaraan ganda dan beberapa anak-anak, mengalami perlakuan itu begitu mendarat di Bandara Domodedovo, Moskow. Bukan mata-mata. Pelancong biasa.

Media oposisi Rusia, Mediazona, melaporkan kelompok itu ditahan dalam kondisi yang digambarkan "keras". Ponsel mereka disita, lalu diperiksa langsung oleh Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB). Setelah berjam-jam interogasi, mereka dibebaskan, tapi masing-masing diwajibkan menandatangani dokumen berupa "peringatan" yang isinya sampai sekarang tidak diungkap secara resmi.

Pihak Israel membenarkan insiden ini. Meski begitu, mereka menyebut jumlah warga yang ditahan kemungkinan lebih kecil dari angka yang beredar di media. Pemerintah Tel Aviv memantau situasi lewat jalur diplomatik, berhati-hati supaya tidak memperkeruh hubungan dengan Moskow.

Konteksnya jelas. Insiden Domodedovo datang persis seiring memanasnya relasi Rusia-Israel, menyusul serangan udara Israel ke Iran pada 20 April yang menghancurkan sebuah rumah sakit di Teheran. Moskow bereaksi keras.

Duta Besar Rusia untuk Teheran, Aleksey Dedov, turun langsung meninjau reruntuhan rumah sakit itu bersama sekelompok diplomat asing yang sengaja diundang pemerintah Iran. "Ini adalah hal yang mengerikan untuk dilihat. Ini adalah bukti pendekatan tidak manusiawi oleh Israel dan AS, ini sangat jelas kejahatan perang," tegas Dedov di lokasi.

Sergey Lavrov menyusul dengan nada lebih tajam. Menlu Rusia itu menyebut eskalasi yang dipicu Washington dan sekutunya telah "melampaui batas-batas kemanusiaan", dan tanggung jawab penuh atas kekacauan di Timur Tengah kini ada di tangan mereka yang memilih jalur kekerasan ketimbang diplomasi.

Bukan retorika kosong, agaknya. Moskow kini terang-terangan menempatkan diri di kubu yang berseberangan dengan Israel. Koordinasi militer dan politik antara Rusia dan Iran yang menguat belakangan ini membuat posisi warga Israel yang berkunjung ke Rusia makin tidak nyaman. Pertanyaannya, sampai di mana eskalasi ini akan berhenti?

Insiden di Domodedovo adalah sinyal. Keras. Waktunya pun, kalau data ini bisa dipercaya, terlalu presisi untuk disebut kebetulan.