RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Abu Vulkanik Anak Krakatau: Ancaman yang Tidak Ber...

Bisnis

Abu Vulkanik Anak Krakatau: Ancaman yang Tidak Berhenti Ketika Erupsi Usai

Erupsi Gunung Anak Krakatau pada 7 September 2026 memuntahkan abu vulkanik yang kini menyelimuti sebagian Banten, Jawa Barat, Lampung, dan Bengkulu. Ancamannya tidak berhenti saat erupsi usai.

Jangan Anggap Sepele, Abu Vulkanik Masuk Kabin Mobil

Erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda pada 7 September 2026 pukul 15.00 WIB memuntahkan abu vulkanik yang kini menyelimuti sebagian wilayah Banten, Jawa Barat, Lampung, dan Bengkulu, berdasarkan data sebaran yang dipublikasikan BMKG melalui kanal resminya. Tapi jangan salah baca situasi ini: ancamannya tidak berhenti ketika erupsi usai.

Di Depok, jasa cuci kendaraan kebanjiran pelanggan. Volume cucian harian tembus 50 unit, angka yang cukup untuk menggambarkan betapa jauh dan meratanya abu dari Anak Krakatau menyebar, gunung yang juga erupsi berbarengan dengan Ibu, Semeru, Lewotobi Laki-laki, Ili Lewotolok, dan Sinabung.

Abu vulkanik bukan sekadar kotor. Partikelnya tajam, bersudut, mengandung silika. Sebagian berukuran PM10 dan PM2.5, cukup halus untuk menembus jauh ke dalam saluran pernapasan hingga mencapai alveolus. Dr. dr. Sukamto Koesnoe, Sp.PD, K-A.I, FINASIM, Wakil Ketua I Pengurus Pusat PAPDI, mengingatkan bahwa risiko ini berlanjut jauh setelah erupsi berhenti. "Risikonya berlanjut berhari-hari sampai berminggu-minggu, sampai abu benar-benar dibersihkan atau tersapu hujan," tegasnya.

Dampaknya bukan cuma soal paru-paru. Iritasi mata, konjungtivitis, bahkan lecet pada kornea bisa terjadi akibat karakter partikel yang abrasif. Pengguna lensa kontak disarankan beralih sementara ke kacamata. Pada kulit, abu bisa memicu dermatitis, terutama jika bersifat asam atau bercampur keringat. Sukamto juga menyebut partikel PM2.5 dari abu berpotensi memperburuk kondisi jantung dan pembuluh darah. Yang perlu dikhawatirkan sekarang bukan silikosis, itu risiko paparan bertahun-tahun, melainkan dampak akut: batuk kering, sesak napas, dada berat. Kelompok dengan asma, PPOK, dan bronkitis kronik paling rentan.

Soal perlindungan, Sukamto merekomendasikan masker N95, KN95, atau FFP2. Kunci efektivitasnya bukan sekadar bahan penyaringnya. Masker harus terpasang rapat tanpa celah di sekitar hidung dan pipi, kalau ada celah sekecil apapun, partikel PM2.5 tetap masuk.

Bagi pengendara motor yang terpaksa menembus hujan abu, Manager Safety Riding PT Astra Honda Motor (AHM) Daniel Aria Sulistya Nugroho mengingatkan beberapa hal yang kerap diabaikan. Jangan mengelap visor helm yang kotor dengan sembarangan: partikel abrasif abu justru bisa meninggalkan goresan dan mengaburkan pandangan. Filter udara motor wajib diperiksa karena abu vulkanik sangat mudah menumpuk di sana dan bisa menghajar performa mesin. "Lakukan persiapan sebelum perjalanan, kurangi kecepatan, jaga jarak aman, perhatikan kondisi jalan, dan segera menepi apabila kondisi sudah tidak memungkinkan untuk berkendara dengan aman," ungkap Daniel.

Jalan yang terlapisi abu, apalagi setelah terkena air, licin bak es. Traksi ban amblas. Jarak pandang yang menipis akibat abu dan asap adalah sinyal untuk berhenti, bukan terus melaju.

Untuk pengguna mobil, masalahnya tidak berhenti di lapisan eksterior. Abu vulkanik bisa menyusup melalui celah pintu, ventilasi AC, hingga bawah jok dan celah konsol. Christopher Sebastian, CEO TOP Coat Indonesia, memperingatkan agar pemilik kendaraan tidak langsung menggunakan blower untuk membersihkan abu di dalam kabin. "Kalau langsung ditiup, abu justru bisa beterbangan dan masuk lebih dalam ke celah-celah kabin atau terhirup," jelasnya. Gunakan vacuum dengan high efficiency filtration, bersihkan interior secara bertahap sesuai material komponennya, dan periksa cabin air filter karena komponen ini paling pertama menanggung beban paparan.

Satu hal yang agaknya sering disepelekan: kendaraan yang tampak bersih dari luar belum tentu aman. Abu yang menyusup ke ventilasi AC dan kisi-kisi dashboard bisa kembali beterbangan setiap kali kabin dihidupkan. Interior detailing menyeluruh menjadi pilihan yang masuk akal, bukan kemewahan, setidaknya bagi mereka yang tinggal di area terdampak parah.