RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Tekno  ›  Acer Bawa Dua Mesin AI Lokal ke IFA 2026: SFF RTX...

Tekno

Acer Bawa Dua Mesin AI Lokal ke IFA 2026: SFF RTX Spark dan Veriton RI110

Di ajang next@Acer di Berlin, Acer memperkenalkan dua perangkat AI lokal sekaligus: SFF RTX Spark bertenaga superchip NVIDIA Blackwell dengan 1 petaflop dan Veriton RI110 berbasis Intel Arc B390 yang diklaim sanggup jalankan model 120 miliar parameter.

iPhone Ultra render in hand

Berlin jadi panggung Acer pekan ini. Di sela IFA 2026 yang berlangsung 4-9 September, Acer menggelar konferensi pers global next@Acer dan langsung memperkenalkan dua perangkat sekaligus: Acer SFF RTX Spark dan Acer Veriton RI110 AI Mini Workstation. Dua produk, dua pendekatan, satu tema besar: menjalankan AI berat langsung di perangkat tanpa perlu kirim data ke cloud.

Yang paling bikin kepala menoleh adalah Acer SFF RTX Spark. Desktop ringkas ini ditenagai superchip NVIDIA RTX Spark, platform terbaru NVIDIA yang dibangun bersama Microsoft untuk generasi PC Windows berbasis AI personal. Dalamnya ada GPU Blackwell RTX dengan hingga 6.144 CUDA core dan CPU NVIDIA Grace hingga 20-core, terhubung lewat interkoneksi NVLink-C2C. Hasilnya: komputasi AI yang diklaim tembus 1 petaflop dengan unified memory hingga 128 GB. Angka yang tidak main-main untuk desktop seukuran kotak sepatu.

Soal posisi performa GPU-nya, agaknya perlu sedikit ekspektasi yang diluruskan. Berdasarkan laporan Notebookcheck yang beredar, GPU pada RTX Spark setara sekitar 4% di atas GPU laptop GeForce RTX 5070 Ti, tapi masih sekitar 25% di bawah RTX 5080. Dari sisi grafis murni, ini bukan kelas flagship. Keunggulan sesungguhnya justru ada di unified memory besar dan efisiensi daya untuk workload AI, bukan di angka FPS gaming.

Kenapa 128 GB unified memory itu penting? Karena model bahasa besar seperti yang dipakai developer AI butuh ruang memori jumbo untuk berjalan secara lokal. Selama ini, menjalankan model sekelas itu artinya bayar biaya API cloud yang naik-turun tergantung pemakaian. Dengan perangkat seperti ini, biaya itu bisa dikonversi jadi investasi hardware sekali bayar, tanpa data sensitif klien harus meninggalkan mesin. Bagi kreator atau pengembang yang tiap hari eksperimen dengan model besar, penghematan jangka panjangnya bisa lumayan besar, meski harga belinya sendiri kemungkinan tidak murah.

Acer bukan satu-satunya yang bergerak ke sini. NVIDIA memasarkan platform RTX Spark secara lintas brand bersama Microsoft, dan deretan mitra yang sudah merinci produknya mencakup ASUS, Dell, HP, Lenovo, Microsoft Surface, sampai MSI. Pembanding paling langsung buat Acer SFF RTX Spark adalah ASUS ProArt GR1X, yang diumumkan dua hari lebih awal di IFA 2026. Keduanya memakai chip RTX Spark 20-core yang identik. Tapi desain fisik dan konektivitasnya beda cerita: ASUS ProArt GR1X hadir dengan pendingin dual-fan 218 bilah dan dukungan empat monitor 4K, sementara Acer membawa satu HDMI, satu RJ45, empat USB-C sekaligus sebagai jalur daya, plus fleksibilitas penempatan vertikal maupun horizontal.

NVIDIA sudah memastikan platform RTX Spark tersedia di pasar mulai Oktober 2026, dalam dua konfigurasi. Konfigurasi pertama, dengan 6.144 CUDA core dan 20 Grace CPU core, tersedia untuk laptop maupun desktop, dengan RAM mulai 24 GB hingga 128 GB. Konfigurasi kedua yang lebih ringan, 5.120 CUDA core dengan 18 Grace CPU core, hanya untuk laptop dengan batas memori 32 GB.

Di lini yang berbeda, Acer juga memperkenalkan Veriton RI110 AI Mini Workstation. Bukan ekosistem NVIDIA yang jadi landasannya, melainkan Intel Core Ultra X7 358H dengan grafis terintegrasi Intel Arc B390 dan sistem operasi Windows 11 Pro. Meski terdengar lebih konvensional, spesifikasi pendukungnya tidak kecil: LPDDR5X hingga 96 GB dan SSD PCIe Gen 4 hingga 4 TB, dalam dimensi hanya sekitar 138,5 x 131,3 x 52,1 mm. Acer mengklaim perangkat ini mampu mendukung model AI hingga 120 miliar parameter, klaim yang, kalau data ini bisa dipercaya begitu saja, tentu masih perlu dibuktikan di kondisi nyata.

Untuk keterbatasan grafis integrasinya, Acer menyiapkan solusi lewat port OCuLink berbasis PCIe 4.0 x4 dengan bandwidth 64 Gbps. Jalur ini memungkinkan koneksi langsung ke GPU eksternal atau penyimpanan NVMe dengan latensi lebih rendah dibanding Thunderbolt konvensional. Bagi pengguna yang workload-nya terus berkembang, ini bisa jadi jalur upgrade yang masuk akal tanpa harus ganti seluruh unit. Lumayan, setidaknya di atas kertas.

Bersamaan dengan Veriton RI110, Acer memperkenalkan Qubi Claw, AI agent yang berjalan lokal dalam lingkungan sandbox. Fungsinya mencakup riset online otomatis, perencanaan perjalanan, hingga transkripsi audio ke teks. Konsepnya menarik dari sisi privasi. Efektivitasnya di dunia nyata? Masih perlu diuji.

Satu hal yang sama-sama absen dari kedua perangkat ini: harga dan tanggal ketersediaan resmi untuk pasar Indonesia. Acer Indonesia mengarahkan konsumen memantau acerid.com untuk info lanjutan. Pertanyaannya kini menggantung: di angka berapa Acer akan memasarkan keduanya? Sebagus apapun spesifikasi di atas kertas, penetrasi pasar AI PC lokal di Indonesia pada akhirnya akan sangat ditentukan oleh label harga yang terpasang.