RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Air Force One Hadiah Qatar Dikandangkan, Ancaman P...

Internasional

Air Force One Hadiah Qatar Dikandangkan, Ancaman Proksi Iran di Balik Pergantian Pesawat Trump

Pesawat kepresidenan baru AS pemberian Qatar akan dinonaktifkan sebulan untuk peningkatan sistem pertahanan, setelah terungkap ancaman serius dari proksi Iran saat Trump berada di Turki.

Baru Dipakai Sekali, Air Force One Baru Akan "Dikandangkan" Sebulan

Baru dipakai sekali, pesawat Air Force One anyar milik Presiden Donald Trump sudah harus masuk bengkel selama sebulan penuh. Dan alasannya jauh lebih serius dari sekadar peningkatan rutin.

Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt pada Senin (20/7/2026) mengonfirmasi bahwa Boeing 747-8 hibah pemerintah Qatar itu akan dinonaktifkan pada musim gugur ini. "Air Force One yang baru sepenuhnya aman digunakan untuk perjalanan presiden, tetapi akan menjalani peningkatan dan penyempurnaan tambahan pada musim gugur yang akan memakan waktu sekitar satu bulan," kata Leavitt. Selama proses itu, Trump akan kembali mengandalkan armada lama berlapis biru muda yang selama ini ia keluhkan sebagai "sudah tua."

Leavitt tidak merinci peningkatan apa yang akan dikerjakan. Tapi konteksnya cukup bicara sendiri.

Kisah ini bermula dari KTT NATO di Turki. Trump berangkat menumpangi jet Qatar berusia sekitar 14 tahun itu, pesawat yang telah melalui konversi mahal dan relatif terburu-buru sebelum pertama kali dinaiki Trump awal Juli lalu. Masalahnya, jet tersebut belum dilengkapi sistem pertahanan udara canggih yang jadi standar pada armada kepresidenan lama, termasuk kemampuan anti-rudal dan penanggulangan serangan.

Dinas Rahasia AS (Secret Service) menerima laporan intelijen soal ancaman dari kelompok proksi Iran yang secara spesifik membidik Trump dan pesawatnya. Bukan ancaman kosong. Direktur Secret Service Sean Curran menegaskan bahwa level ancaman saat ini berada di titik paling mengkhawatirkan sepanjang kariernya. "Angka ancaman yang diproses oleh lembaga ini mencapai titik tertinggi yang belum pernah saya lihat selama 24 tahun karier saya. Lingkungan keselamatan saat ini sangat tidak stabil di semua lini," tegas Curran. Secret Service pun langsung mendesak Trump beralih ke pesawat kepresidenan lama demi keamanan penerbangan keluar dari Turki.

Hasilnya: Trump meninggalkan Turki dengan Air Force One lama, lalu singgah di Pangkalan Udara Kerajaan Inggris Mildenhall, sebuah persinggahan yang sebelumnya tidak masuk jadwal resmi. Di sana ia berpindah kembali ke jet Qatar untuk melanjutkan perjalanan ke Washington. Trump berdalih persinggahan itu dilakukan agar prajurit AS di Mildenhall bisa melihat pesawat baru, tapi ia juga mengakui dirinya menjadi target "nomor satu" Iran. "Mereka ingin menyingkirkan pemimpin AS, yaitu saya. Nama saya ada di setiap daftar target mereka," kata Trump, seperti dikutip New York Times.

Laporan NYT yang menyingkap detail kemampuan pertahanan pesawat itu kemudian memicu gelombang lanjutan. FBI mengirimkan surat panggilan kepada sejumlah jurnalis NYT untuk bersaksi di hadapan dewan juri federal. Pemerintahan Trump juga meminta catatan telepon beberapa wartawan dan kerabat mereka, dalam upaya melacak sumber bocoran. Entah kebetulan atau tidak, pertanyaan soal siapa yang membocorkan informasi rahasia itu agaknya lebih bikin Washington pusing dibanding kelemahan pesawatnya sendiri.

Akun resmi Gedung Putih di X menyebut rencana peningkatan ini dengan istilah "planemaxxing", meminjam slang internet untuk optimasi. Ringan di kata. Situasinya tidak. Pesawat kepresidenan terbaru AS, yang datang dari hibah Qatar dan sudah jadi kontroversi diplomatik sejak hari pertama, ternyata belum siap terbang di bawah ancaman yang kini disebut berada di level tertinggi sepanjang 24 tahun sejarah Secret Service.