RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Anjing Hantu Amazon Ternyata Tak Sesepuh Namanya

Internasional

Anjing Hantu Amazon Ternyata Tak Sesepuh Namanya

Setelah 25 tahun riset dan 594 foto jebakan kamera, ilmuwan akhirnya punya gambaran utuh soal Atelocynus microtis, si anjing hantu Amazon yang ternyata lebih banyak dari dugaan siapa pun.

Misteri Anjing Hantu Amazon Terkuak Setelah 25 Tahun Penelitian

Lima belas ekor per 100 kilometer persegi. Angka itu mungkin terdengar tidak banyak, tapi bagi para peneliti yang sudah menghabiskan seperempat abad mengejar spesies yang nyaris tidak pernah terlihat manusia, ini semacam jackpot ilmiah.

Anjing telinga pendek (Atelocynus microtis), yang selama ini dijuluki "anjing hantu" karena hampir mustahil dijumpai di belantara Amazon, ternyata lebih banyak populasinya dari yang pernah dibayangkan. Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Neotropical Biology and Conservation, hasil dari 34 survei kamera jebak di dataran rendah Bolivia dan Peru yang berlangsung lebih dari dua dekade.

Total 594 foto berhasil dikumpulkan, dan untuk pertama kalinya para ilmuwan punya data visual yang cukup untuk menyusun profil lengkap spesies ini. Kepala besar, telinga bulat kecil, kaki pendek, ekor panjang lebat, bulu gelap dengan gradasi warna dari cokelat kemerahan hingga abu-abu kehitaman. Bukan tampilan yang membuat orang berpikir "ah, pasti gampang dicari." Dan memang tidak.

"Aspek paling mengejutkan dari hasil ini adalah bahwa meskipun spesies ini bagaikan hewan mitos, anjing telinga pendek ternyata jauh lebih banyak dari yang kami bayangkan," ungkap tim peneliti, sembari tetap mengingatkan bahwa hewan ini jauh dari kategori mudah dijumpai.

Salah satu detail fisik yang bikin peneliti penasaran sejak lama adalah selaput parsial di antara jari-jari kakinya. Tidak ada spesies anjing liar Amazon lain yang punya fitur ini. Logikanya, hewan berselaput berarti akrab dengan air, bukan? Justru sebaliknya. Anjing telinga pendek adalah spesialis hutan lahan tinggi yang menghindari sungai dan daerah basah. Selaputnya, agaknya, bukan untuk berenang.

Paling aktif antara pukul enam pagi hingga siang hari, mereka memilih kawasan hutan lebat yang jauh dari jangkauan manusia. Ditambah indera pendengaran dan penciuman yang luar biasa tajam, kombinasi ini menjadikan mereka maestro menghilang. Manusia datang, anjing hantu sudah pergi.

Soal posisi dalam rantai karnivora, estimasi 15 individu per 100 km persegi menempatkan spesies ini di atas jaguar dalam hal kepadatan di habitat yang sama, tapi masih di bawah oselot. Bukan puncak piramida, bukan juga yang paling banyak. Posisi tengah ini, kalau data ini bisa dipercaya, mungkin justru yang membuat mereka bertahan lama tanpa terdeteksi.

Robert Wallace dari Wildlife Conservation Society, penulis utama studi ini, menyebut hasil riset tersebut sebagai bukti kemampuan teknologi konservasi modern. "Penelitian ini adalah contoh luar biasa tentang bagaimana teknologi konservasi dan penginderaan jauh dapat memberi data substansial mengenai salah satu spesies paling tak dikenal di hutan hujan Amazon," kata Wallace.

Bagi dunia konservasi, data kepadatan populasi dan preferensi habitat ini bukan sekadar angka akademis. Ini fondasi untuk merancang strategi perlindungan yang lebih tepat sasaran, sementara deforestasi terus menggerus habitat Amazon tanpa jeda. Kalau 25 tahun baru bisa menghasilkan potret awal seperti ini, bayangkan berapa banyak spesies lain yang masih menunggu untuk dipahami.