Sepuluh kapal berbalik arah. Dua tanker Saudi diserang. Selat Bab el-Mandeb kembali jadi titik panas yang bikin pelaku pasar energi global menahan napas.
Angkatan Bersenjata Yaman di bawah kendali Ansarullah secara resmi memberlakukan larangan pelayaran bagi kapal-kapal Arab Saudi, Kamis (23/7), dalam apa yang mereka sebut strategi "blokade dibalas blokade." Bukan sekadar retorika. Larangan itu langsung dieksekusi: dua kapal tanker Saudi dilaporkan jadi sasaran operasi, sedikitnya sepuluh kapal lain dipaksa berbalik dari perairan sekitar Bab el-Mandeb.
Anggota senior Biro Politik Ansarullah, Mohammed Al-Farah, tampil dengan pernyataan yang tidak main-main. Ia memperingatkan bahwa nasib Firaun sedang menanti Riyadh jika blokade dan agresi sebelas tahun terakhir terus dipertahankan. Al-Farah bahkan mengutip Surah Yunus ayat 91, mengingatkan bahwa penyesalan tidak lagi berguna ketika azab telah datang, seraya menutup pernyataannya dengan doa agar "Qarun masa kini pun ditelan bumi."
Retorika keagamaan yang keras. Tapi di balik kata-kata itu ada kalkulasi geopolitik yang dingin.
Al-Farah berargumen bahwa hubungan Arab Saudi dengan Yaman sejak era Abdulaziz Al Saud selalu bertumpu pada satu tujuan: menundukkan Sanaa. "Seandainya mereka yang kalian sebut Houthi, bersama kabilah-kabilah Yaman, tentara, dan rakyat merdeka Yaman tidak berdiri melawan, Arab Saudi pasti telah menelan seluruh Yaman," ujarnya. Ia juga menawarkan jalan keluar, satu paket syarat yang agaknya tidak akan mudah ditelan Riyadh: cabut blokade, tarik pasukan, kembalikan hak-hak rakyat Yaman, dan bayar kompensasi perang.
Dari Jakarta, Kementerian Luar Negeri RI mengambil posisi yang tegas. Lewat akun resminya di X, Jumat (24/7), Kemenlu menyatakan Indonesia mengecam serangan terhadap kapal-kapal komersial di perairan internasional Laut Merah. "Tindakan tersebut bertentangan dengan hukum internasional, termasuk prinsip kebebasan bernavigasi, serta membahayakan keselamatan pelayaran, perdagangan internasional, dan stabilitas kawasan," tulis Kemenlu. Indonesia juga menyerukan agar semua pihak menahan diri dan menghormati UNCLOS, sekaligus menegaskan kembali dukungan terhadap penyelesaian konflik Yaman melalui proses politik inklusif, Yemeni-led and Yemeni-owned, di bawah fasilitasi PBB.
Konsisten dengan prinsip non-intervensi. Tapi pernyataan ini datang di momen yang timing-nya tidak bisa diabaikan.
Bab el-Mandeb bukan sembarang selat. Jalur sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Samudra Hindia ini adalah urat nadi perdagangan Asia-Eropa, dilalui kapal-kapal yang mengangkut minyak, gas, pupuk, dan komoditas vital lainnya. Gangguan di sini terjadi bersamaan ketika Selat Hormuz juga terdampak tensi antara Amerika Serikat dan Iran. Dua titik tercekik, dalam waktu yang sama. Bagi pasar komoditas global, ini bukan sekadar berita geopolitik, ini variabel risiko yang nyata dan langsung.
Pertanyaannya sekarang: sampai seberapa jauh Riyadh akan merespons eskalasi ini, dan adakah pihak yang punya kapasitas untuk memediasi sebelum krisis di dua selat itu benar-benar menyatu menjadi satu bencana pelayaran global?