RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  AS-Saudi Teken Perjanjian Nuklir Sipil, Industri E...

Internasional

AS-Saudi Teken Perjanjian Nuklir Sipil, Industri Energi Amerika Rebut Peluang Miliaran Dolar

Washington dan Riyadh resmi menandatangani kesepakatan kerja sama nuklir sipil bernilai miliaran dolar, membuka pintu bagi perusahaan-perusahaan Amerika memasok teknologi reaktor ke Arab Saudi, di tengah tekanan nuklir yang masih memanas dengan Iran.

Sah! Kata Trump, Raja Salman Boleh Punya Nuklir

Amerika Serikat dan Arab Saudi resmi menandatangani kesepakatan pengembangan tenaga nuklir sipil, sebuah perjanjian yang agaknya akan mengubah peta energi sekaligus geopolitik Timur Tengah dalam satu gerakan.

Menteri Energi AS Chris Wright dan Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman meneken dua dokumen: perjanjian kerja sama nuklir sipil dan perjanjian bilateral soal pengamanan atau nuclear safeguards. Departemen Energi AS menegaskan kesepakatan ini membuka akses bagi perusahaan-perusahaan Amerika untuk memasok teknologi dan peralatan nuklir ke Saudi, sekaligus memperkuat posisi ekspor nuklir Washington yang selama ini tergerus oleh Rusia, China, dan Prancis.

"Kami akan menjunjung standar tertinggi dalam keselamatan nuklir dan nonproliferasi dengan mengandalkan teknologi serta ilmuwan nuklir terbaik di dunia dari Amerika Serikat," ujar Wright. Pernyataan itu terdengar meyakinkan, meski Kongres belum memberikan lampu hijau.

Soal Kongres ini yang menarik. Sesuai Atomic Energy Act, kerja sama nuklir sipil antara AS dengan negara lain wajib melalui tinjauan parlemen sebelum berlaku, tepatnya lewat mekanisme Section 123. Artinya, perjanjian ini baru dikirim ke Capitol Hill untuk ditinjau. Belum final. Langkah eksekutif Trump memang cepat, tapi jalan masih panjang.

Di ujung jalan itu sudah ada barisan oposisi. Senator Chris Murphy dari Connecticut angkat suara, menilai perjanjian ini bisa memantik perlombaan nuklir di kawasan. "Perjanjian ini akan memicu perlombaan nuklir di kawasan dan semakin mengurangi insentif bagi Iran untuk membatasi program nuklirnya," tulisnya di media sosial. Kritik Murphy bukan tanpa dasar. Washington kini masih dalam mode tekanan maksimum terhadap Teheran soal ambisi nuklir mereka. Memberikan restu pengembangan nuklir kepada tetangga Iran yang sekaligus rivalnya secara sektarian, entah kebetulan atau tidak, bisa dibaca sebagai ironi yang cukup tajam.

Bagi industri nuklir Amerika, ini karpet merah yang sudah lama ditunggu. Westinghouse, pengembang reaktor AP1000 generasi III+ berbasis Pressurized Water Reactor, masuk sebagai kandidat utama pemasok teknologi. Nama lain yang ikut masuk radar: Bechtel, BWX Technologies, dan Centrus Energy.

CEO Westinghouse Dan Sumner menyebut ini langkah bersejarah yang memperkuat ketahanan energi sekaligus memperluas peluang bisnis perusahaan-perusahaan AS. Presiden firma riset pasar nuklir UxC, Jonathan Hinze, menambahkan konteks yang lebih telanjang. "Tanpa kesepakatan perdagangan nuklir seperti ini, perusahaan nuklir Amerika akan tetap tersingkir dari pasar. Arab Saudi kemungkinan akan beralih menggunakan teknologi dari Prancis, Rusia, atau China," ujarnya. Kalau data ini bisa dipercaya sebagai cermin kondisi persaingan global, posisi AS di sektor ini memang lama terpinggirkan.

Alasan Saudi membangun nuklir sipil sebenarnya gamblang kalau dilihat dari angka-angka energi domestik mereka. Hampir 60% listrik Saudi masih berasal dari gas alam, sekitar 40% sisanya dari minyak, berdasarkan data IEA. Rp2,3 triliun per hari, bukan. Tapi bagi produsen minyak terbesar OPEC, membakar minyak untuk lampu rumah sendiri adalah kemewahan yang makin mahal oportunitas biayanya. Nuklir sipil menjadi jalan keluar: membebaskan lebih banyak barel untuk diekspor, bukan dikonsumsi sendiri.

Pertanyaannya, berapa lama proses di Kongres ini akan berjalan? Apakah perjanjian ini meluncur mulus atau justru menjadi arena pertempuran politik berikutnya antara kubu Trump dan Demokrat, itulah yang bakal ramai dicermati dalam beberapa bulan mendatang.