Satu miliar dolar. Bukan estimasi, bukan proyeksi, angka itu klaim resmi Menteri Keuangan AS Scott Bessent soal nilai aset kripto Iran yang berhasil disita Washington dalam beberapa pekan terakhir.
Operasi ini berjalan di bawah sandi "Operation Economic Fury", diluncurkan sejak Maret 2025 dengan satu tujuan: memutus akses Teheran terhadap sumber pendanaan. "Kami telah menyita sekitar satu miliar dolar kripto mereka. Kami langsung mengambil dompet-dompet itu," kata Bessent, sebagaimana dilansir Fox Business, Sabtu (30/5/2026). Pernyataan yang keluar dari mulut seorang menteri keuangan, bukan jenderal, tapi bunyinya seperti briefing militer.
Penyitaan kripto hanyalah satu jalur serangan. Secara paralel, AS membekukan rekening keuangan Iran dan menggandeng sekutu Eropa untuk menyita properti serta aset bernilai tinggi dari entitas yang terafiliasi dengan Teheran. Hasilnya, kata Bessent: inflasi melonjak, layanan publik terganggu, sebagian aparat keamanan Iran kesulitan digaji.
Klaim yang masih perlu dibuktikan secara independen, itu jelas. Tapi kalau separuh saja dari deskripsi itu akurat, kondisi fiskal Teheran agaknya jauh lebih terjepit dibanding yang mereka akui ke publik.
Washington juga disebut menjajaki skenario penggunaan aset sitaan Iran untuk mendukung sekutu-sekutunya di kawasan Teluk. Kalau benar terealisasi, ini mengubah aset yang "tidur" di brankas penyitaan menjadi instrumen geopolitik aktif. Preseden yang tidak kecil.
Hubungan negara-negara Gulf Cooperation Council dengan Iran pun bergeser. Bessent menilai sejumlah negara Teluk kini lebih terbuka berkoordinasi dengan AS dalam mengawasi aliran keuangan dan perdagangan yang terhubung ke Teheran. Bak gayung bersambut, tekanan ekonomi Washington bertemu dengan keengganan beberapa anggota GCC untuk terus menjadi celah bagi Iran.
Semua ini berlangsung ketika meja negosiasi AS-Iran masih terbuka. Trump pada Jumat menyatakan akan mengambil "keputusan akhir" soal kebijakan terhadap Iran setelah pertemuan di Gedung Putih. Dua jalur dijalankan serentak: sanksi diperketat, pintu diplomatik belum ditutup. Entah kebetulan atau tidak, kombinasi semacam ini adalah pola klasik yang Washington sudah berkali-kali pakai.
Buat pelaku pasar, ada dua hal yang patut dicermati. Eskalasi sanksi terhadap Iran secara historis berkorelasi dengan kenaikan premi risiko energi, mengingat posisi Teheran sebagai produsen minyak besar. Dan penyitaan kripto skala miliaran dolar ini memperkuat satu narasi yang semakin sulit dibantah: aset digital bukan lagi zona abu-abu yang bebas dari jangkauan regulator global. Washington sudah membuktikan kemampuan teknisnya untuk benar-benar "mengambil dompet."
Pertanyaannya sekarang: apakah tekanan ini akan membawa Iran ke meja perundingan dengan posisi lemah, atau justru memperkeruh ketegangan yang ujungnya lebih susah diprediksi?