Sebuah jet tempur F/A-18 Super Hornet dari kapal induk USS Abraham Lincoln menembakkan amunisi presisi ke ruang mesin dan kemudi kapal tanker M/T Marivex berbendera Palau, Senin (8/6), saat kapal itu tengah melintasi perairan internasional Teluk Oman dengan satu tujuan: Iran.
Aksi itu bukan serangan asal tembak. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyebut awak Marivex sudah diberi arahan oleh pasukan AS, tapi diabaikan. Kapal pun dilumpuhkan di tempat. "Marivex tidak lagi berlayar ke Iran," demikian pernyataan CENTCOM yang terasa lebih seperti pengumuman kemenangan ketimbang laporan operasional.
Sejak blokade terhadap Iran resmi diberlakukan pada 13 April lalu, CENTCOM sudah melumpuhkan tujuh kapal, mengalihkan 134 kapal lainnya, dan memberi izin 42 kapal yang membawa bantuan kemanusiaan untuk melintas. Angka yang tidak main-main. Kalau data ini bisa dipercaya, Washington bukan sekadar menggertak.
Tegangan di kawasan agaknya belum akan kendur. Insiden Marivex terjadi hanya beberapa hari setelah Iran dilaporkan mengerahkan rudal dan drone sebagai sinyal peringatan ke arah kapal perang AS yang beroperasi di perairan yang sama. Dua kekuatan saling unjuk gigi dalam jarak yang tidak nyaman, bisa jadi ini cuma babak pembuka.
Buat pasar energi global, setiap eskalasi di Teluk Oman bukan sekadar berita geopolitik. Ini soal nadi suplai minyak yang menghidupi sebagian besar Asia dan Eropa. Blokade yang makin ketat, ditambah respons militer Tehran yang makin berani, adalah kombinasi yang cukup untuk membuat trader komoditas kehilangan selera tidur. Pertanyaannya, berapa lama kedua pihak masih mau menahan diri?