RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  AS Terjebak di Iran: Kas Jebol, Selat Tetap Tertut...

Internasional

AS Terjebak di Iran: Kas Jebol, Selat Tetap Tertutup, Rezim Masih Berdiri

Dua miliar dolar terbakar setiap hari, tapi rezim Iran tidak goyah. Mantan pejabat AS sendiri yang mengakui: Washington tertinggal jauh dari hampir semua target yang ditetapkan sejak awal perang.

Enam hari pertama perang sudah menelan lebih dari 11,3 miliar dolar. Perkiraan total kini bergerak di kisaran 25 hingga 35 miliar dolar, dan angka itu belum berhenti naik.

Itulah gambaran fiskal dari konflik AS-Iran yang kini masuk fase kebuntuan, bukan kemenangan. Daniel Benaim, mantan wakil asisten menteri luar negeri AS untuk Urusan Jazirah Arab, mengakuinya tanpa basa-basi. "Kami sekarang berada dalam keterlibatan militer yang sangat rumit dengan Iran," ungkapnya kepada Al Jazeera. "Pada semua tujuan tersebut, kami tertinggal cukup jauh dari saat kami memulai perang ini."

Bukan pengakuan kecil. Direktur Anggaran Gedung Putih Russell Vote bahkan mengaku kepada Kongres bahwa ia tidak punya perkiraan biaya keseluruhan. Minim transparansi, masif pengeluaran.

Selat Hormuz tetap tertutup. Rudal Iran masih ada. Rezim Teheran berdiri.

Tiga kegagalan itu sudah cukup untuk mendefinisikan ulang narasi perang ini. Washington masuk dengan tiga ambisi besar: batasi program nuklir, lucuti persediaan rudal, dan jika bisa, gulingkan rezim. Hasilnya? Benaim sendiri mengakui bahwa Iran justru "menemukan cara baru untuk mengancam kawasan" setelah Selat Hormuz ditutup, sebuah taktik yang bahkan belum sepenuhnya terpeta sebelum konflik ini meletus.

Ketika target militer sulit dijangkau, serangan beralih ke infrastruktur sipil: fasilitas energi, medis, ilmiah, bahkan reaktor nuklir Bushehr yang masih aktif. Pakar kebijakan luar negeri Iran Abas Aslani menyebut pergeseran target ini bukan strategi baru, melainkan bukti kegagalan. "Ini mengindikasikan bahwa mereka belum mampu mencapai target militer dan strategis utama mereka dalam perang ini," tegasnya, seraya memperingatkan risiko bencana nuklir jika Bushehr mengalami kerusakan fatal.

Di lapangan, dinamika komando militer kedua belah pihak justru menambah risiko eskalasi yang tidak terduga. Mantan Jenderal Mark Kimmitt, eks komandan CENTCOM, mengingatkan bahwa Garda Revolusi Iran memberi keleluasaan besar kepada perwira tingkat rendah. "Bayangkan seorang komandan tingkat rendah dari 15 kapal cepat mengatakan, saya pikir sudah waktunya mengambil tindakan sepihak," kata Kimmitt. Satu insiden kecil bisa memicu putaran pertempuran baru. Kali ini lebih sengit.

Lalu ada perbandingan yang agaknya paling menusuk bagi Washington: Vietnam.

Majalah Foreign Policy menulis bahwa Iran secara efektif meniru strategi Ho Chi Minh, bukan lewat keunggulan militer langsung, melainkan melalui kesabaran, ketahanan, dan tekanan psikologis yang pelan-pelan menggerus kemauan politik AS dari dalam. Kuncinya ada di ketidakseimbangan horizon waktu: Iran siap berperang lama, sedangkan Washington butuh hasil cepat untuk konsumsi domestik.

Strategi ini terbukti ampuh secara ekonomi juga. Tanpa perlu serangan besar-besaran, Teheran sudah berhasil mendorong harga minyak naik, yang ironisnya memberi tekanan balik kepada AS untuk melunak di meja negosiasi. Armada kapal kecil yang terus mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz adalah contoh klasik asimetri: murah di satu sisi, mahal di sisi lain.

Trump tetap percaya diri di media sosial, menulis bahwa "waktu tidak berpihak pada Iran." Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf langsung menohok balik, menyebut klaim soal kesepakatan yang hampir tercapai sebagai kebohongan. "Musuh telah dikalahkan secara strategis," ujarnya dalam pidato terbaru, dikutip CNN International.

Ada 15 poin yang disodorkan Washington sebagai syarat mengakhiri perang, termasuk pembongkaran fasilitas nuklir dan penghentian program rudal balistik. Profesor Mohammed Elmasry dari Institut Studi Pascasarjana Doha menilai beberapa poin itu "sama sekali tidak dapat diterima" dari perspektif Iran karena menyentuh garis merah kedaulatan.

Vali Nasr dari Johns Hopkins University merangkumnya dengan kalimat yang sebenarnya sudah semua orang tahu, tapi enggan diucapkan Washington. "Anda tidak pergi ke meja perundingan untuk menuntut penyerahan. Pihak lain tidak akan menyerah karena mereka belum kalah."

Problemnya bukan soal siapa yang menang atau kalah secara militer. AS masuk ke perang ini dengan kalkulasi yang keliru sejak awal, mendekati Iran seperti menangani Venezuela, padahal arena dan lawannya sama sekali berbeda. Kalau data ini bisa dipercaya, bahkan jika Trump mengumumkan "kesepakatan damai" besok, Washington tetap harus merogoh kocek dalam-dalam untuk membangun ulang pangkalan militer yang rusak di Bahrain, Qatar, Kuwait, UEA, Arab Saudi, dan Turki. Belum termasuk biaya memperbarui pertahanan terhadap kapabilitas drone Iran yang sudah terbukti di lapangan.

Dua miliar dolar per hari. Bukan angka kecil.