RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Asing Net Sell, tapi Diam-Diam Mereka Masuk Lewat...

Bisnis

Asing Net Sell, tapi Diam-Diam Mereka Masuk Lewat Pintu Belakang

Di balik derasnya aksi jual investor asing secara agregat, sejumlah saham energi, komoditas, dan perbankan justru diborong habis-habisan sepanjang pekan 6-10 April 2026.

Angka agregat memang menunjukkan net sell. Tapi jangan buru-buru simpulkan asing angkat kaki dari Bursa Efek Indonesia.

Sepanjang pekan 6-10 April 2026, investor global ternyata masih rajin mengakumulasi saham-saham pilihan, agaknya dengan pertimbangan yang cukup matang. Mereka keluar dari satu pintu, masuk dari pintu lain.

PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) jadi rebutan paling sengit. Net foreign buy-nya menyentuh Rp206 miliar dalam sepekan. Bukan angka kecil. Di belakangnya, PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) dan PT United Tractors Tbk (UNTR) masing-masing membukukan pembelian bersih Rp168,2 miliar dan Rp163,9 miliar.

Pola yang muncul cukup jelas: grup Adaro mendominasi. AADI, ADRO, dan PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) sekaligus masuk daftar 10 besar, yang berarti tiga entitas satu grup berhasil menarik perhatian asing secara bersamaan. Entah kebetulan atau tidak, ini terjadi saat sentimen global masih penuh ketidakpastian.

Saham-saham luar komoditas pun ikut diborong. PT Astra International Tbk (ASII) bertengger di posisi keempat dengan net buy Rp162,6 miliar, disusul PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) sebesar Rp141,6 miliar. Masuknya dua nama ini patut dicermati karena mewakili sektor yang berbeda, otomotif-konglomerasi dan perbankan BUMN, yang biasanya jadi barometer selera risiko investor asing terhadap Indonesia.

Lengkapnya, 10 saham dengan net foreign buy terbesar pekan itu: AADI (Rp206 miliar), ADRO (Rp168,2 miliar), UNTR (Rp163,9 miliar), ASII (Rp162,6 miliar), BBNI (Rp141,6 miliar), PT Sinar Mas Multiartha Tbk atau SMMA (Rp123,5 miliar), ADMR (Rp109 miliar), PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk atau CPIN (Rp96,8 miliar), PT Elang Mahkota Teknologi Tbk atau EMTK (Rp93,2 miliar), dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk atau INDF (Rp82,5 miliar).

IHSG? Meledak 6,14% dalam sepekan ke level 7.458,50. Sejalan dengan reli bursa regional yang ikut panas: KOSPI Korea Selatan melesat 8,96%, Nikkei Jepang 7,15%.

Likuiditas pasar ikut bergolak. Rata-rata transaksi harian naik 17,26% menjadi Rp17,31 triliun, frekuensi harian melonjak 15,05% ke 2,05 juta kali, volume harian melesat 24,81% menjadi 32,28 miliar saham. Total selama sepekan, nilai transaksi pasar mencapai Rp86,59 triliun, dengan volume 161,42 miliar saham dan frekuensi 10,24 juta kali transaksi.

Pertanyaannya buat investor ritel: kalau asing, yang punya akses riset dan modal jauh lebih besar, memilih masuk ke saham-saham ini justru saat pasar sedang tertekan, apa yang sebenarnya mereka lihat yang mungkin belum kamu lihat?