Laptop bisa dicuri. Tapi datanya? Tidak bisa diambil.
Kalimat itu bukan tagline iklan sembarangan. Eric Khoven, Commercial Director ASUS Indonesia, mengucapkannya dengan nada yang cukup serius saat memperkenalkan ASUS ExpertBook Ultra kepada pasar Indonesia pertengahan Juni 2026. Dan kalau dilihat dari spesifikasi yang dibawa, klaim tersebut agaknya bukan sekadar retorika marketing.
"The Flagship of the Industry. Period." Begitu kalimat yang dipilih ASUS, langsung tanpa tanda tanya. Pesaing yang disasar bukan sembarangan: Lenovo ThinkPad X1 Carbon Gen 13 Aura Edition, Dell Latitude 7450 Premium, HP EliteBook Ultra G1i AI 14, sampai Apple MacBook Air M4 13 inci masuk daftar yang ingin digulingkan.
Dapur pacunya bertumpu pada prosesor Intel Core Ultra X9-388H, chip generasi terbaru yang dikombinasikan dengan Neural Processing Unit berkemampuan 50 Trillion Operations Per Second. Besar. Untuk konteks, hampir seluruh pesaing flagship di pasar Indonesia saat ini masih bertengger di Intel Core Ultra 7 Series 2 dengan NPU 48 TOPS. Selisihnya tidak dramatis dalam angka, tapi ASUS berargumen bahwa total platform 180 TOPS dengan TDP 50W yang dikelola teknologi ExpertCool Pro itulah yang membedakan pengalaman nyata di lapangan.
Skenario yang paling sering dikutip Eric: rapat maraton via Teams, sambil membuka ribuan baris data Excel, sambil mereview ratusan slide PowerPoint, semuanya berjalan bersamaan. "ASUS ExpertBook Ultra dapat menjalankannya tanpa masalah," katanya. Yang lebih relevan bagi pengguna mobile, fitur ASUS AI ExpertMeet menjalankan transkripsi rapat, penerjemahan bahasa real-time, dan optimasi kamera web sepenuhnya di dalam NPU. Artinya prosesor utama tidak terbebani, baterai lebih hemat, dan data percakapan sensitif tidak pernah dikirim ke cloud. Krusial bagi lingkungan korporat.
Layarnya layak dapat perhatian tersendiri. Panel Tandem OLED 14 inci beresolusi 3K (2880x1800) dengan kecerahan puncak 1.400 nits adalah teknologi yang selama ini lebih sering dijumpai di perangkat konsumer premium, bukan di laptop bisnis. Struktur dua lapis Tandem OLED mengonsumsi 40% lebih sedikit daya dibanding OLED konvensional sambil menggandakan kecerahan, dan secara nyata menekan risiko burn-in yang selama ini jadi momok panel OLED. "Keberanian ASUS membawa teknologi Tandem OLED ke dalam segmen laptop kerja ini lompatan industri yang masif," kata Eric, kalimat yang patut dicermati mengingat tidak banyak vendor B2B yang berani mengambil langkah serupa. Lapisan Corning Gorilla Glass Victus dengan nano-etching 19 Gloss Units juga diklaim 80% lebih sedikit silau dibanding layar anti-glare standar.
1,09 kg. Angka yang tidak main-main untuk laptop sekelas ini. Bobot tersebut berlaku untuk versi Tandem OLED, sementara versi Polymer OLED lebih ringan lagi di 0,99 kg, keduanya dikemas dalam sasis CNC magnesium-aluminium paduan kedirgantaraan dengan teknologi nano-keramik kekerasan 9H. Bersertifikat US MIL-STD 810H dengan 24 prosedur uji ketahanan, tahan tekanan hingga 100 kg. Bukan untuk pamer, kata Eric, tapi karena kerusakan laptop korporat lebih sering terjadi karena tas yang penuh sesak daripada karena jatuh.
Nah, yang paling bikin perusahaan tertarik agaknya ada di sini: sistem ASUS ExpertGuardian bersertifikasi NIST SP 800-193 Level-4. Enkripsi berlapis di level perangkat keras ini, kombinasi ASUS Security Processor, Dual Self-healing BIOS ROM, TPM 2.0 (FIPS 140-2), Microsoft Pluton, dan opsi SSD OPAL 2.0 SED, dirancang agar data tetap terkunci meskipun SSD fisiknya dilepas dan dipasang ke mesin lain. Entah kebetulan atau tidak, ini kekhawatiran yang sangat nyata di lingkungan korporat Indonesia yang mulai serius merespons ancaman kebocoran data internal.
Spesifikasi lengkap ExpertBook Ultra (B9406CAA) membawa RAM hingga 64 GB LPDDR5x pada bandwidth 9.600 MT/s, melampaui standar 8.533 MT/s yang umum di kelas pesaing. SSD hingga 2 TB PCIe Gen 5 menawarkan kecepatan baca 14.000 MB/s lebih, dua kali lipat SSD Gen 4 kompetitor. GPU terintegrasi Intel Arc B390 dengan 12 Xe Cores diklaim mengungguli NVIDIA RTX 4050 TGP 30W hingga 35% dalam benchmark 3DMark Time Spy. Konektivitas mencakup Wi-Fi 7 triple-band dengan antena LDS, Bluetooth 6.0, dua port Thunderbolt 4, dan baterai 70 Wh yang diklaim tahan 26 jam dengan pengisian 50% dalam 30 menit.
Di tahun 2025, pangsa pasar laptop ASUS menembus angka lebih dari 30% untuk segmen consumer, menjadikan mereka pemimpin pasar lebih dari satu dekade berturut-turut. Di segmen commercial, ASUS mencatat pertumbuhan 117% year-on-year di 2025. Bak gayung bersambut, tren ini datang tepat saat industri PC commercial global justru mengalami kontraksi.
Pertanyaannya kini sederhana: apakah pasar B2B Indonesia siap membayar harga flagship untuk semua ini? Kalau data ini bisa dipercaya, setidaknya dari sisi pertumbuhan commercial, pasar sudah mulai bergerak ke arah itu. ExpertBook Ultra tampak serius ingin mengubur perdebatan itu sebelum sempat muncul.