RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Autoclave Merapat di Sambalagi, HPAL Vale Masuk Ba...

Bisnis

Autoclave Merapat di Sambalagi, HPAL Vale Masuk Babak Penentu

Kedatangan autoclave di pesisir Morowali menandai babak baru proyek HPAL Sambalagi milik PT Vale Indonesia, yang ditargetkan produksi 90 ribu ton nikel per tahun dalam bentuk MHP untuk rantai pasok baterai kendaraan listrik global.

HPAL Sambalagi, Harapan baru hilirisasi nikel

Bukan kapal biasa yang merapat di pesisir Sambalagi, Kecamatan Bungku Pesisir, Morowali, Rabu (22/7). Autoclave, peralatan raksasa yang di industri pertambangan kerap disebut "jantung" teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL), akhirnya tiba setelah menempuh perjalanan panjang lintas laut. Kedatangannya menandai tonggak fisik paling penting dalam pembangunan proyek HPAL Sambalagi, kolaborasi PT Vale Indonesia Tbk (INCO) bersama GEM Co. Ltd. asal Tiongkok dan EcoPro dari Korea Selatan.

Proyek ini bukan proyek sembarangan. HPAL Sambalagi telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) dan menjadi bagian dari Indonesia Growth Project (IGP) Morowali, skema integrasi tambang Bahodopi dengan fasilitas pengolahan hilir yang digadang-gadang sebagai model baru hilirisasi nikel Indonesia. Kapasitasnya pun tidak main-main: sekitar 90 ribu ton kandungan nikel per tahun dalam bentuk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), bahan antara yang krusial dalam manufaktur baterai kendaraan listrik.

Secara teknis, autoclave bekerja dengan tekanan dan suhu tinggi menggunakan larutan asam sulfat untuk mengekstraksi nikel dan kobalt dari bijih limonit. Setiap tahun, fasilitas ini membutuhkan sekitar 10,4 juta ton bijih limonit yang dipasok langsung dari tambang Vale di Bahodopi. Pembangunan dilakukan melalui tiga jalur produksi, dengan target first mechanical completion pada akhir 2026.

Presiden Direktur sekaligus CEO PT Vale Indonesia Bernardus Irmanto menyebut kedatangan autoclave bukan sekadar kemajuan konstruksi. Ini cerminan komitmen perusahaan dalam membangun industri pengolahan nikel yang berkelanjutan dan berdaya saing global. Sebagai inti proses HPAL, autoclave memungkinkan pengolahan limonit menjadi produk bernilai tambah tinggi yang akan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok kendaraan listrik dunia.

Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Indonesia Rosan P. Roeslani hadir langsung menyaksikan seremoni kedatangan autoclave, didampingi Managing Director Danantara Asset Management Febriany Eddy. Rombongan kemudian meninjau sejumlah inisiatif keberlanjutan PT Vale: fasilitas nursery untuk program reklamasi lahan pascatambang, pengelolaan sediment pond, hingga aktivitas penambangan yang diamati dari udara.

Apa yang dilihatnya agaknya melampaui ekspektasi. "Saya sangat senang dan berbahagia dapat melihat langsung lokasi PT Vale di Morowali. Hal yang paling saya perhatikan adalah bagaimana aspek sustainability yang menjaga keseimbangan antara lingkungan dan sosial sangat diperhatikan di sini," ujar Rosan. Ia menilai praktik penambangan PT Vale telah memenuhi standar internasional dan berharap standar itu konsisten dijaga.

Rosan juga menekankan bahwa proyek HPAL Sambalagi bukan sekadar pembangunan fasilitas industri, melainkan upaya membangun ekosistem hilirisasi yang mampu menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, dan memperkuat kedaulatan sumber daya Indonesia lewat kolaborasi tiga negara. "Yang tidak kalah penting adalah bagaimana kita menjaga keselarasan dari segi bisnis itu sendiri, baik dari aspek ESG maupun dari sisi masyarakat di sekitarnya. Dengan begitu, investasi yang masuk dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan, bukan hanya bagi perusahaan tetapi juga bagi daerah dan masyarakat," tambahnya.

Komisaris Utama PT Vale Indonesia Fauzambi Syahrul Multhazar menyebut Morowali sebagai pilot project yang tepat untuk hilirisasi nasional. "Saya menilai proyek ini dipersiapkan dengan baik, direncanakan dengan baik, dan akan dieksekusi dengan baik," ujarnya.

Dari sisi energi, fasilitas HPAL Sambalagi dirancang dengan sistem Waste Heat Recovery Power Generation (WHRPG) yang mengonversi panas sisa proses produksi menjadi listrik. Bak dua burung satu batu, efisiensi energi sekaligus menekan jejak karbon. Perusahaan juga merencanakan pembangkit listrik tenaga surya untuk memperkuat bauran energi bersih di kawasan. Dermaga logistik, kawasan hunian pekerja, ruang rekreasi, sarana olahraga, hingga fasilitas sosial turut dibangun sebagai bagian dari pengembangan kawasan jangka panjang.

Wakil Gubernur Sulawesi Tengah Reny Arniwaty Lamadjido berharap pengembangan kawasan tidak berhenti di level industri besar, melainkan membuka ruang bagi UMKM lokal untuk ikut tumbuh. Bupati Morowali Iksan Baharudin Abdul Rauf melihat proyek ini sebagai penggerak utama ekonomi daerah yang akan menciptakan efek berganda, dari lapangan kerja hingga penghidupan usaha lokal. Pemerintah daerah pun berkomitmen menjaga iklim investasi yang kondusif.

Setelah autoclave terpasang, masih ada proses commissioning panjang sebelum fasilitas beroperasi penuh. Pertanyaan yang lebih besar sudah menggantung sejak jauh hari: apakah nilai tambah yang diciptakan di Sambalagi kelak benar-benar mengalir ke masyarakat sekitar, atau sekadar transit sebelum terbang ke luar negeri? Jawaban atas pertanyaan itu, bisa jadi, jauh lebih penting dari kapasitas produksi 90 ribu ton sekalipun.