Tujuh puluh dua pesawat tanker militer Amerika Serikat kini memadati lebih dari separuh ruang parkir Bandara Internasional Ben Gurion, Tel Aviv. Di selatan, 26 unit lainnya mengambil alih hampir 90 persen kapasitas Bandara Internasional Ramon. Angka yang tidak main-main, tapi yang lebih mengkhawatirkan adalah konsekuensi sipilnya: jutaan penumpang yang sudah memesan tiket liburan musim panas kini tergantung di ujung ketidakpastian.
Menteri Transportasi Israel Miri Regev secara resmi menyurati Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, memperingatkan bahwa hingga 2,4 juta tiket penerbangan berpotensi dibatalkan jika situasi ini tidak segera diurai. "Ini adalah kerugian ekonomi langsung miliaran shekel bagi maskapai penerbangan, industri pariwisata, dan perekonomian," tulis Regev dalam surat tersebut, sebagaimana dikutip CNN. Dampaknya, kata Regev, tak berhenti di konter check-in, ini juga soal moral nasional dan ketahanan sipil.
Gelombang pembatalan dalam skala sebesar ini bisa merembet jauh. Hotel, transportasi lokal, usaha kecil di koridor wisata, seluruh ekosistem jasa yang selama ini bergantung pada kunjungan turis asing, semuanya ikut terancam. Musim panas bagi Israel bukan sekadar musim liburan, melainkan urat nadi ekonomi pariwisata.
Yang bikin situasi ini terasa ironis: tidak satu pun dari puluhan tanker AS itu ditempatkan di pangkalan udara militer Israel. Semuanya parkir di bandara sipil yang sibuk. Pemerintah Israel pun mengajukan permintaan konkret kepada Washington, pindahkan minimal 30 pesawat tanker ke pangkalan militer di luar negeri. Seorang pejabat Israel menyampaikan bahwa negaranya tidak menolak kehadiran pesawat tersebut. "Kami hanya ingin mendistribusikan beban ke seluruh negeri," ucapnya kepada CNN.
Konflik yang memicu kehadiran tanker-tanker ini bermula 28 Februari 2026, ketika perang antara Israel dan Iran meletus seiring eskalasi krisis program nuklir Teheran. Iran membalas dengan serangan rudal dan drone ke wilayah Israel serta sekutunya di kawasan Teluk, termasuk menutup sementara Selat Hormuz, jalur yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak global. Penutupan itu sendiri sudah cukup untuk mengguncang pasar energi dunia.
Ada perkembangan yang agaknya membuka celah dari kebuntuan ini. Presiden AS Donald Trump mengumumkan melalui Truth Social pada Sabtu, 13 Juni, bahwa Washington dan Teheran telah mencapai kesepakatan lisan untuk mengakhiri konflik. "Kesepakatan dijadwalkan ditandatangani besok, dan segera setelah ditandatangani, Selat Hormuz TERBUKA UNTUK SEMUA," tulis Trump. Penandatanganan disebut dijadwalkan berlangsung Minggu, 14 Juni 2026.
Kesepakatan lisan dengan Iran. Perlu dibuktikan. Sejumlah poin krusial, terutama soal pembatasan program nuklir Teheran, dilaporkan belum sepenuhnya disepakati secara tertulis. Pasar minyak dan pelaku industri penerbangan global akan mencermati setiap perkembangan dengan seksama, kalau data diplomatik ini bisa dipercaya.
Jika perjanjian benar-benar terwujud dan tanker-tanker itu segera dipindahkan, tekanan di Ben Gurion dan Ramon bisa mereda dalam hitungan hari. Kalau tidak, musim panas Israel tahun ini bisa menjadi yang paling sepi dalam satu dekade.