RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  BBCA Dihajar Asing Rp2,38 T Sepekan, BBNI Justru J...

Bisnis

BBCA Dihajar Asing Rp2,38 T Sepekan, BBNI Justru Jadi Pelarian

Rotasi besar-besaran investor asing dari saham perbankan ke komoditas dan energi mewarnai perdagangan dua pekan terakhir. BBCA jadi bulan-bulanan, sementara BBNI dan deretan emiten tambang justru diborong.

Sepekan perdagangan 20-24 April 2026, satu gambar besar terbentuk: asing keluar dari bank, masuk ke tambang.

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) jadi korban paling telak. Investor asing melepas saham ini senilai Rp2,38 triliun sepanjang pekan tersebut, membuat BBCA tergerus 5,84% ke posisi Rp6.050 per saham. Bukan sendirian. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) kena net sell Rp1,8 triliun, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp1,16 triliun. Tiga bank terbesar di Indonesia, dihajar bersamaan.

Total net sell asing di seluruh pasar selama pekan itu mencapai Rp2,95 triliun, atau Rp5 triliun kalau dihitung khusus dari pasar reguler. IHSG tersungkur 504,51 poin, minus 6,61%, parkir di 7.129,49. Kapitalisasi pasar ambles sekitar Rp973 triliun dalam seminggu.

Satu anomali mencolok di tengah ambruknya sektor perbankan: PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) justru selamat. Lebih dari sekadar selamat, sebenarnya. Berdasarkan data Bloomberg Technoz, BBNI menjadi saham dengan net foreign buy terbesar sepanjang pekan itu, Rp352,92 miliar, dan harganya naik 1,62% ke Rp3.770. Entah kebetulan atau tidak, BBNI menjadi satu-satunya bank besar yang berhasil menutup pekan dengan catatan positif di buku asing.

Di luar perbankan, deretan nama yang diborong asing lebih banyak berbau sumber daya alam. PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) mencatat net buy Rp824 miliar, disusul PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) Rp817,6 miliar. PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) juga masuk radar, angkanya berbeda tergantung sumber: Rp492,4 miliar versi CNBC Indonesia, Rp237,41 miliar versi Bloomberg Technoz. PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), dan PT United Tractors Tbk (UNTR) juga masuk daftar yang sama. Rotasi sektoral, bukan pelarian.

Tren ini berlanjut ke Senin (27/4/2026), bahkan dengan eskalasi yang agak mengkhawatirkan. Sempat menguat di sesi pagi, IHSG dihajar balik di sesi kedua dan ditutup minus 22,97 poin atau 0,32% ke level 7.106,52. Nilai transaksi Rp16,57 triliun. Net sell asing membengkak lagi ke Rp2,04 triliun, sementara volume bersih asing meroket ke 1,61 miliar lembar dari 475,87 juta lembar di Jumat sebelumnya.

Penguatan pagi itu agaknya dimanfaatkan sebagai jendela distribusi. Klasik.

BBCA kembali memimpin daftar yang tidak ingin dipimpin: net sell Rp897,5 miliar. BMRI Rp679,2 miliar, BBRI Rp200,3 miliar. Sektor perbankan terus jadi kantong keluar utama. Di sisi beli, EMAS, INCO, dan PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) masuk tiga besar penerima aliran masuk, masing-masing Rp92 miliar, Rp60 miliar, dan Rp50,9 miliar.

Tarik lebih panjang, gambarnya lebih suram. Dalam rentang 15 Maret hingga 24 April 2026, net foreign sell di bursa Indonesia sudah tembus Rp17,45 triliun. Angka yang tidak main-main. Tapi asing tidak angkat kaki sepenuhnya, mereka memilih ulang. Saham-saham berbasis komoditas dan dua emiten konsumer yang disebut-sebut punya karakteristik defensif, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), jadi pilihan pengganti.

Apakah ini sekadar profit taking dari saham-saham yang valuasinya sudah melar, atau ada sesuatu yang lebih struktural di balik eksodus dari sektor perbankan? Pertanyaan yang belum ada jawabnya. Pasar, untuk saat ini, memilih diam.