RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Bennett dan Lapid Bersatu, Netanyahu Kian Terjepit...

Internasional

Bennett dan Lapid Bersatu, Netanyahu Kian Terjepit Jelang Pemilu

Dua mantan PM Israel, Naftali Bennett dan Yair Lapid, resmi membentuk aliansi 'Together' untuk menggulingkan Benjamin Netanyahu pada pemilu yang harus digelar paling lambat Oktober 2026.

Survei terbaru Maariv menempatkan partai Bennett setara dengan Likud milik Netanyahu, masing-masing di angka 24 kursi Knesset. Bagi Netanyahu, angka itu bukan sekadar statistik. Itu alarm.

Mantan Perdana Menteri Naftali Bennett dan pemimpin oposisi Yair Lapid resmi mengumumkan penggabungan partai mereka, Bennett 2026 dan Yesh Atid, menjadi satu daftar tunggal bernama "Together, Led by Bennett". Pengumuman dibuat Minggu (26/4) waktu setempat lewat pernyataan bersama yang disiarkan langsung di televisi Israel.

Gabungan ini strategis. Bennett dari sayap kanan, Lapid dari tengah. Secara ideologis mereka jauh, tapi permusuhan terhadap Netanyahu agaknya lebih kuat dari perbedaan apapun.

"Bergabungnya kekuatan ini adalah tindakan paling Zionis dan patriotik yang pernah kami lakukan, demi negara kami. Era perpecahan telah berakhir," ujar Bennett kepada wartawan. Lapid, senada, menegaskan aliansi ini berdiri "demi anak-anak kami" karena Israel, katanya, harus mengubah arah.

Keduanya pernah membuktikan bahwa kemitraan lintas ideologi bukan sekadar retorika. Pada 2021, koalisi serupa berhasil mengakhiri 12 tahun kekuasaan berturut-turut Netanyahu lewat "pemerintahan perubahan", sebelum akhirnya bubar kurang dari 18 bulan kemudian. Netanyahu kembali berkuasa setelah memenangi pemilu November 2022 dan membentuk pemerintahan paling kanan dalam sejarah Israel.

Kini sejarah coba diulang. Kondisinya lebih berat buat Netanyahu.

Tekanan berlapis-lapis. Di luar negeri, Mahkamah Pidana Internasional telah mengeluarkan surat perintah penangkapan atas dugaan kejahatan perang di Gaza sejak 2024. Di dalam negeri, persidangan kasus korupsi, suap, dan penipuan kembali bergulir pekan ini setelah sempat terhenti akibat konflik bersenjata dengan Iran. Presiden Isaac Herzog mengindikasikan pengampunan baru akan dipertimbangkan setelah semua opsi kesepakatan pembelaan benar-benar habis.

Belum lagi beban perang Gaza. Serangan Hamas pada Oktober 2023 menewaskan 1.200 orang Israel dan menyandera 250 lainnya, memicu operasi militer berskala masif. Otoritas kesehatan Palestina mencatat lebih dari 72.000 korban jiwa dan 172.000 luka-luka sejauh ini. Operasi yang belum selesai, biaya politik yang terus menumpuk.

Bennett tidak membuang momentum. Ia menjanjikan komisi penyelidikan nasional atas kegagalan intelijen yang berujung pada serangan 7 Oktober, tuntutan yang selama ini diblokir pemerintahan Netanyahu. Lapid lebih keras: gencatan senjata dua minggu dengan Iran, sebutnya, adalah "bencana politik".

Soal kebijakan dalam negeri, Bennett menawarkan paket reformasi yang cukup menggigit: wajib militer universal tanpa pengecualian, penghentian pendanaan bagi yang mangkir dari dinas, dan batas masa jabatan perdana menteri delapan tahun. Klausul terakhir itu, entah kebetulan atau tidak, persis menyasar rekam jejak Netanyahu.

Satu hal menarik dari aliansi ini: Bennett dan Lapid secara eksplisit mengecualikan faksi-faksi Arab dari potensi koalisi pemerintahan. Keduanya menegaskan hanya akan bermitra dengan partai-partai oposisi Zionis. Pilihan yang mempersempit opsi, sekaligus cermin dari ke mana sentimen pemilih Israel saat ini bergerak.

Survei N12 News per 23 April memproyeksikan Likud meraih 25 kursi, Bennett 21 kursi, sementara Yesh Atid hanya 7 kursi, turun tajam dari 24 kursi yang dipegang Lapid saat ini. Kalau data ini bisa dipercaya, kekuatan gabungan jauh lebih menggigit daripada dua suara yang terpecah. Itulah yang mempercepat keputusan merger.

Pemilu harus digelar paling lambat akhir Oktober 2026. Netanyahu punya beberapa bulan untuk membuktikan bahwa kali ini ia bisa bertahan dari badai yang jauh lebih kencang dari sebelumnya.