RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Bitcoin Melemah, Tapi Ekosistem Kripto di Baliknya...

Bisnis

Bitcoin Melemah, Tapi Ekosistem Kripto di Baliknya Justru Sedang Berubah

Bitcoin melemah ke kisaran US$62.700 di tengah rotasi investor ke saham AI dan tekanan regulasi, sementara infrastruktur kripto seperti stablecoin dan tokenisasi aset justru tumbuh pesat secara institusional.

Bitcoin Kembali Melemah, Ethereum Ikut Anjlok

Bitcoin menyentuh US$62.700 (sekitar Rp1,13 miliar) pada Selasa (9/6/2026), melanjutkan tren koreksi yang sudah berlangsung sepekan terakhir. Dalam tujuh hari, koin terbesar di dunia ini kehilangan US$235 miliar valuasi pasar, atau sekitar 11,47 persen dari harganya. Angka yang membuat banyak holder lama menahan napas.

Ethereum ikut terseret. ETH terkoreksi 1,05 persen dalam 24 jam ke level US$1.663,75 (Rp29 juta), dengan penurunan mingguan mencapai 16,82 persen, lebih dalam dibanding Bitcoin. Tekanan di sisi ETH agaknya lebih berat, dipicu arus keluar institusional yang belum berhenti dan sentimen makro yang masih menghimpit aset berisiko.

Kenapa Bitcoin melemah? Setidaknya ada tiga faktor yang berjalan bersamaan. Pertama, rotasi spekulatif ke saham-saham AI dan chip memori, terutama di Korea, menyedot likuiditas yang sebelumnya mengalir ke kripto. Kabar bahwa Anthropic, perusahaan di balik Claude AI, bersiap melantai di bursa turut menambah daya tarik sisi ekuitas. "Para spekulator berinvestasi besar-besaran pada saham AI dan chip memori, terutama di Korea, dan pasar juga mengantisipasi bahwa IPO besar yang akan datang akan mengalihkan sebagian uang investor ritel ke saham-saham baru tersebut," kata Charles-Henry Monchau, kepala investasi di Syz Group.

Kedua, Clarity Act, rancangan undang-undang struktur pasar kripto yang ditunggu industri, masih tersendat di Kongres AS. Ketidakpastian regulasi ini bukan hal baru, tapi ketiadaan kepastian hukum selalu jadi beban yang menggerus valuasi token. Ketiga, ketegangan geopolitik seputar konflik Iran memaksa Presiden Trump membuat keputusan-keputusan yang ikut mengguncang risk appetite pasar global.

Tapi di sinilah ceritanya bercabang. Kalau kita hanya baca grafik harga Bitcoin, kita akan melewatkan sesuatu yang jauh lebih besar sedang terjadi di belakang layar.

Stablecoin kini memproses transaksi tahunan senilai US$390 miliar menurut McKinsey dan Artemis Analytics, dengan volume total melonjak 72 persen menjadi US$33 triliun sepanjang 2025. Visa dan Mastercard sudah memperluas kemampuan penyelesaian berbasis stablecoin. BUIDL, reksa dana pasar uang yang ditokenisasi milik BlackRock yang diluncurkan 2024, sudah mengelola aset US$2,4 miliar. Lebih dari US$30 miliar aset dari berbagai kelas, mulai saham hingga properti, telah ditokenisasi secara global. Nasdaq bahkan bermitra dengan Kraken untuk menawarkan saham yang ditokenisasi.

"Grafik harga Bitcoin dulu adalah keseluruhan cerita kripto. Kini tidak lagi," kata Eric Jackson, pendiri dan CIO EMJ Capital. "Harga dan adopsi bukanlah metrik yang sama untuk kripto, dan seharusnya tidak demikian."

Paradoks ini bukan tanpa preseden. Kereta api bertahan meski banyak perusahaan keretanya bangkrut. Internet tetap eksis meski ratusan saham dot-com runtuh. Spekulasi, entah kebetulan atau tidak, seringkali mendanai infrastruktur yang nilainya baru terlihat setelah euforia mereda. Kripto, bisa jadi, sedang masuk ke fase serupa.

Puluhan juta token telah diciptakan dalam beberapa tahun terakhir. Kurang dari 1.700. Itulah jumlah yang masih menghasilkan aktivitas perdagangan berarti, menurut Delphi Digital. Konsolidasi ini brutal, tapi kalau data ini bisa dipercaya, itulah proses pematangan yang memang harus dilalui.

Mike McGlone dari Bloomberg Intelligence bahkan lebih blak-blakan. Stablecoin adalah teknologi paling krusial dalam ekosistem ini sekarang, dan Anda tidak butuh Bitcoin atau XRP untuk menyimpan nilai ketika dolar digital tersedia. "Kami sedang melakukan pembersihan dan ini baru saja dimulai," tegasnya.

Bagi investor ritel yang sudah nyangkut di level atas, kondisi jangka pendek memang tidak nyaman. Tapi bagi mereka yang bermain di sisi infrastruktur dan adopsi institusional, narasi yang berkembang justru berbeda arah dari apa yang ditunjukkan ticker harga hari ini. Pertanyaannya: berapa lama pasar butuh waktu untuk membaca perbedaan itu?