RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Brain Drain Medis Israel: 1.370 Dokter Hengkang da...

Internasional

Brain Drain Medis Israel: 1.370 Dokter Hengkang dalam Dua Tahun

Studi Universitas Tel Aviv mengungkap lebih dari 1.370 dokter meninggalkan Israel antara 2023 hingga 2025, dipicu gejolak politik dan perang Gaza yang berkepanjangan.

Israel di Ambang Krisis Tenaga Medis, Ribuan Dokter Tinggalkan Negara

Satu dari lima warga Israel pernah mempertimbangkan untuk angkat kaki dari negerinya sendiri. Kini, data terbaru menunjukkan bukan hanya warga biasa yang pergi, tapi juga orang-orang yang paling dibutuhkan negara itu untuk tetap berdiri: para dokter.

Studi Universitas Tel Aviv yang dirilis surat kabar Haaretz pekan ini mencatat 1.370 dokter hengkang dari Israel sepanjang 2023 hingga 2025. Angka ini bukan sekadar statistik emigrasi biasa. Ini sinyal krisis yang, kalau dibiarkan berlarut, bisa menggoyahkan fondasi layanan kesehatan salah satu negara dengan sistem medis paling maju di kawasan.

Para peneliti mendefinisikan "emigrasi" secara ketat: seorang dokter diklasifikasikan pergi jika menghabiskan lebih dari 270 hari di luar negeri pada tahun pertama dan tidak kembali menetap di Israel lebih dari tiga bulan berturut-turut. Artinya, angka 1.370 itu bukan mereka yang sekadar liburan panjang. Mereka yang pergi, memang pergi.

Satu dari lima dokter yang hengkang berusia di atas 45 tahun. Bukan dokter muda yang masih meraba-raba karier, melainkan spesialis senior, tulang punggung rumah sakit, mentor bagi generasi dokter berikutnya. Kepergian mereka meninggalkan lubang yang tidak mudah ditambal.

Dampaknya terasa paling keras di bidang paling kritis. Tercatat 188 ahli bedah, sekitar 6 persen dari total tenaga bedah nasional, sudah pindah ke luar negeri. Disusul 116 dokter spesialis mata, kulit, dan THT, mewakili 6,2 persen dari total tenaga di bidang-bidang tersebut. Tel Aviv, sebagai pusat medis terbesar Israel, mencatat persentase kepergian tertinggi di angka 5,4 persen.

Gunting krisis ini bergerak dari dua arah sekaligus. Data Kementerian Keuangan Israel memproyeksikan sekitar 24 persen dokter spesialis di rumah sakit umum akan pensiun dalam beberapa tahun ke depan, sementara 25 persen dokter lainnya kini masih bertugas melebihi batas usia pensiun, semata-mata karena tidak ada cukup pengganti.

Akar masalahnya, agaknya, bukan satu sebab tunggal. Profesor Itay Ater, salah satu penulis studi, menyebut rangkaian gejolak politik dan keamanan sebagai pemicu utama. Kekhawatiran pertama kali muncul saat pemerintah mendorong reformasi peradilan yang kontroversial, lalu semakin intensif setelah serangan 7 Oktober 2023 dan perang Gaza yang menyusulnya. "Trennya dapat memburuk setelah pemilihan umum Israel pada 27 Oktober mendatang," ujar Ater.

Fenomena ini bukan berdiri sendiri. Studi terpisah dari universitas yang sama, dirilis Agustus lalu, mencatat rekor 268.509 warga Israel meninggalkan negara selama minimal tiga bulan antara 2023 dan 2025. Dorongannya: ketidakpastian perang, biaya hidup yang melonjak, polarisasi politik yang makin dalam. Jajak pendapat Kantar untuk lembaga penyiaran KAN bahkan menunjukkan 12 persen warga Israel menegaskan hasil pemilu Oktober mendatang akan menentukan apakah mereka benar-benar angkat kaki atau memilih bertahan.

Bagi Israel, ini bukan sekadar soal angka dokter yang berkurang. Ini soal kepercayaan. Ketika orang-orang paling terdidik dan paling mobile di suatu negara memilih pergi, itu biasanya bukan karena satu alasan sempit, bak cermin retak yang retak-retak kecil dulu sebelum akhirnya pecah. Entah kebetulan atau tidak, kepergian para dokter ini polanya sama dengan gelombang emigrasi profesional yang selalu mendahului instabilitas jangka panjang. Pertanyaannya, berapa lama Israel bisa menutup retakan itu sebelum fondasi medisnya benar-benar amblas?