RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Brent Tembus $100, Trump Ancam Bom Satu Jembatan I...

Internasional

Brent Tembus $100, Trump Ancam Bom Satu Jembatan Iran per Serangan Kapal

Konflik AS-Iran memasuki babak baru yang lebih panas: Trump mengancam akan menghancurkan satu jembatan atau pembangkit listrik Iran setiap kali ada serangan di Selat Hormuz, sementara minyak Brent melonjak 7 persen menembus $100 per barel untuk pertama kali sejak Mei.

Bukan Asal Nge-Bom! Ini Alasan Amerika Serang Pelabuhan-Jembatan Iran

Harga minyak mentah Brent melonjak sekitar 7 persen hingga menembus $100 per barel pada Kamis, pertama kali sejak Mei. Bukan angka yang muncul tanpa sebab.

Trump memperkeruh situasi lewat postingan di Truth Social, Rabu waktu setempat. Isinya singkat tapi berbobot: "Setiap kali Republik Islam Iran menembaki sebuah kapal di Selat Hormuz, Amerika Serikat akan mengebom dan menghancurkan satu jembatan atau pembangkit listrik," tulis Trump, termasuk fasilitas di sekitar Teheran. Bukan gertakan pertama, tapi formulasi satu banding satu itu terasa seperti eskalasi terstruktur, bukan sekadar retorika.

Hampir bersamaan, Trump mengumumkan kebijakan baru: aset Iran yang dibekukan AS akan dipakai untuk membayar ganti rugi kapal dan kargo yang rusak akibat serangan di Teluk dan Laut Merah. Nilainya tidak dirinci. Menurut Congressional Research Service dan Council on Foreign Relations, total aset Iran yang dibekukan di berbagai negara diperkirakan mencapai $100 miliar. Sebagian langsung di bawah kendali AS, sisanya berupa pendapatan ekspor minyak yang tertahan akibat sanksi.

Ini pergeseran fungsi yang patut dicermati. Selama ini aset beku Iran lebih sering jadi kartu tawar dalam pembicaraan nuklir atau pelonggaran sanksi. Kini Trump memakainya sebagai instrumen ganti rugi langsung. Belum pernah dilakukan sebelumnya, setidaknya dalam skala ini.

Sementara diplomasi bergerak, bom terus jatuh. Centcom mengonfirmasi ini malam ke-12 berturut-turut operasi udara AS terhadap Iran. Sasarannya sudah jauh melampaui pusat komando atau pertahanan udara. Jembatan, rel kereta, bandara, menara komunikasi, fasilitas air, hingga tempat penyimpanan pangan sudah masuk daftar. Sebagian besar serangan mengarah ke selatan, ke Provinsi Hormozgan dan pesisir sekitar Selat Hormuz.

Alasan geografisnya mudah dibaca di peta. Bandar Abbas, ibu kota Hormozgan, adalah pangkalan utama Angkatan Laut Iran sekaligus armada IRGC. Dari sini Iran bisa mengerahkan kapal perang, rudal antikapal, drone, hingga radar pengawas. Pulau Qeshm dan pulau-pulau kecil di sekitarnya memberi Iran mata yang hampir tak bisa dibutakan dari jalur pelayaran Hormuz. Lebih dari 90 persen ekspor minyak Iran melewati selat ini.

Enam jembatan di Hormozgan sudah kena. Tersebar di jalur Bandar Abbas-Khamir-Lar, Kahurestan-Lar, Bandar Khamir-Keshar-Bandar Abbas, serta Latidan dan Maroo. Logika di baliknya sederhana. Mark Hilborne, pengajar senior di School of Security Studies King's College London, menjelaskan: "Jembatan sangat penting bagi logistik dan operasi militer. Menyerangnya akan melemahkan kemampuan Iran mengganggu pelayaran di selat dan mempertahankan operasinya." Pasukan dan amunisi yang tadinya bisa datang cepat kini harus memutar lewat jalur yang lebih sempit dan jauh.

Salah satu jembatan yang diserang bahkan masuk koridor yang terhubung Belt and Road Initiative China, jalur yang selama ini membantu Iran menjaga perdagangan minyak di tengah tekanan sanksi dan diduga dipakai untuk memasok komponen senjata.

Di lapangan, kerugian sipil mulai menumpuk. Dua orang tewas di Shalamcheh dekat perbatasan Iran-Irak. Dua rudal menghantam Bushehr, lokasi satu-satunya pembangkit nuklir sipil Iran. Lebih dari 200 pasien harus dievakuasi dari Rumah Sakit Khusus Baghaei di Ahvaz setelah fasilitas itu lumpuh. Bandara Iranshahr rusak, menara komunikasi roboh, pemadaman listrik meluas. Masif.

Dari Teheran, juru bicara militer Iran Mohammad Akraminia menegaskan Iran akan terus membalas selama serangan AS berlanjut. IRGC mengklaim telah menghentikan tiga kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz, bersaing langsung dengan Angkatan Laut AS untuk menguasai jalur yang membawa sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.

Front lain ikut membara. Houthi mengumumkan blokade pelabuhan Arab Saudi dan mengklaim menyerang dua tanker Saudi di Laut Merah, Encelia dan Layla. Arab Saudi mengonfirmasi Encelia memang kena. Badan pemantau maritim Inggris UKMTO melaporkan sebuah tanker terbakar sekitar 70 mil laut dari Al Shuqaiq. Jalur alternatif ekspor minyak Saudi via Laut Merah, yang mestinya jadi pelarian ketika Hormuz panas, kini juga tidak aman.

Kuwait melaporkan drone menyerang pos perbatasannya dengan Irak. Uni Emirat Arab mencegat rudal dan drone Iran. Konflik yang tadinya terasa bilateral kini menyebar ke seluruh kawasan Teluk. Pertanyaannya, berapa lama api ini masih bisa dikendalikan?

Sekjen PBB Antonio Guterres berbicara di Dewan Keamanan dengan nada yang justru karena tenangnya bikin bulu kuduk berdiri. "Situasinya semakin tidak terkendali. Situasinya berada di ambang sesuatu yang tidak dapat dibayangkan. Satu krisis akan memicu krisis lainnya, satu eskalasi akan memicu eskalasi berikutnya," kata Guterres.

Guncangan sudah merambat ke pasar keuangan global. Presiden ECB Christine Lagarde memperingatkan lonjakan harga energi bisa mempertebal tekanan inflasi dan membuka kemungkinan kenaikan suku bunga di zona euro pada September. Bagi negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia, ini bukan sekadar berita geopolitik. Ini soal harga BBM, ongkos logistik, dan neraca berjalan yang agaknya akan semakin terjepit jika konflik tidak juga mereda.