RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  BUMI Meledak 16% Intraday, Emas Jadi Bahan Bakarny...

Bisnis

BUMI Meledak 16% Intraday, Emas Jadi Bahan Bakarnya

Saham PT Bumi Resources Tbk melonjak hingga 16% di sesi pertama perdagangan 23 Juli 2026, ditopang akumulasi besar domestik dan katalis akuisisi tambang emas Wolfram Limited di Australia yang mulai beroperasi penuh.

Saham BUMI dibuka Naik ke Rp 151 Pada Perdagangan 20 Juli 2026

Empat koma enam miliar saham berpindah tangan dalam hitungan jam. Begitulah gambaran perdagangan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) pada Kamis, 23 Juli 2026, ketika saham emiten Grup Bakrie dan Salim itu menjadi ladang transaksi paling brutal di Bursa Efek Indonesia.

Dibuka di Rp169, harga sempat melejit hingga Rp196 di sesi pertama, kenaikan hampir 16% dari pembukaan. Banyak trader yang telat masuk cuma bisa mengepalkan tangan. Memasuki sesi dua, tekanan jual muncul dan harga terkoreksi ke kisaran Rp183, atau +8,93% dari penutupan sebelumnya Rp168. Nilai transaksi tembus Rp826,67 miliar dari 76.316 kali frekuensi. Bukan sembarang ramai.

Yang mendorong aksi borong ini bukan sekadar euforia. Data Stockbit mencatat net buy BUMI pada sesi tersebut mencapai Rp218 miliar, tertinggi di antara seluruh saham yang dibeli bersih hari itu. Ada tangan-tangan besar yang secara agresif mengakumulasi, bukan retail yang ikut-ikutan tren.

Samuel Sekuritas dalam riset 21 Juli tetap mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp300, angka yang terasa ambisius tapi tidak datang tanpa alasan. Katalis utamanya: akuisisi 100% saham Wolfram Limited yang diumumkan November 2025, perusahaan pertambangan emas dan tembaga berbasis di Australia.

Wolfram bukan aset sembarangan. Perusahaan ini memegang dua tambang utama: Crush Creek dengan cadangan 191 ribu oz dan sumber daya 470 ribu oz, serta Mount Carlton dengan cadangan 129 ribu oz. Valuasi akuisisi mencerminkan EV per cadangan sebesar USD 133 per oz, diskon 64% dibandingkan rata-rata global untuk transaksi sejenis. "Kami memandang akuisisi ini sebagai langkah yang memberikan nilai tambah, serta memperkuat stabilitas laba jangka panjang dan diversifikasi portofolio BUMI di luar sektor batu bara," tulis Samuel Sekuritas dalam risetnya.

Bukan sekadar wacana. Proyek Mt. Carlton diresmikan kembali pada 30 Juni 2026 oleh Menteri Pertambangan Queensland Dale Last, menciptakan sekitar 300 lapangan kerja baru. Open pit mining di area V2 sudah berjalan sejak April 2026 dengan kapasitas pengolahan 40.000 hingga 50.000 ton ore per bulan, konsentrat sudah mengalir ke Glencore lewat perjanjian offtake tujuh tahun. Underground mining di area A39, yang menyimpan potensi kadar bijih lebih tinggi, juga sudah dimulai. Manajemen BUMI menyebut kemajuannya lebih cepat dari jadwal. Kalau angka-angka ini bisa dipercaya, mesin produksi Wolfram sudah mulai berputar lebih kencang dari perkiraan awal.

Anak usaha PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) ikut memanaskan sentimen. Pada 21 Juli, BRMS ditutup menguat 7,83% ke level 620 dengan nilai transaksi Rp673,29 miliar dan volume 11,36 juta lot. Penguatannya ditopang selesainya aktivitas pengupasan overburden di area tambang Poboya, Palu, yang dikelola PT Citra Palu Minerals, sehingga volume penjualan emas kuartal II-2026 ikut terkerek. Secara teknikal, BRMS bertengger di atas seluruh moving average dari MA5 hingga MA200, dengan ADX di 62,69 yang menandakan kekuatan tren tinggi. Target berikutnya berada di kisaran 640 hingga 670. RSI di 76,48 menunjukkan momentum mulai masuk area jenuh beli, sinyal yang patut dicermati.

Mundur ke awal pekan, arah BUMI sebenarnya sudah terbaca. Senin 20 Juli, harga bergerak di kisaran Rp147 hingga Rp152 dengan volume 1,09 miliar saham dan nilai transaksi Rp163,35 miliar. CGS International Sekuritas kala itu memproyeksikan resistance berikutnya di Rp152 hingga Rp155. Jumat 17 Juli, BUMI sudah melesat 6% ke Rp159, dan CGS kemudian merevisi target resistance ke Rp163 hingga Rp166 untuk perdagangan Selasa 21 Juli.

DEWA juga kena cipratan rezeki. Saham PT Darma Henwa Tbk melonjak 9,34% ke Rp398 pada Senin 20 Juli, dengan net buy asing Rp51,91 miliar dan nilai transaksi Rp375,98 miliar. Mandiri Sekuritas merekomendasikan beli dengan target Rp406. BCA Sekuritas mencatat DEWA berhasil mengantongi kontrak baru dari PT Suku Sejaka Coal di luar lingkup Grup Bumi, capaian yang disebut bersejarah bagi perusahaan jasa pertambangan ini. Kontrak mencakup overburden removal 55 juta bcm dan produksi 5 juta ton batu bara. Untuk 2027, BCA Sekuritas memproyeksikan laba bersih DEWA tumbuh 23% menjadi Rp1,1 triliun.

Konteks makro ikut berperan. IHSG sepanjang Juli 2026 membukukan penguatan lebih dari 12% month-to-date, hanya sekali ditutup di zona merah dari 14 hari perdagangan. Pasar bullish seperti ini ibarat angin buritan bagi saham-saham berlikuiditas besar dan volatilitas tinggi. BUMI termasuk yang paling kencang diterbangkan.

Tapi satu angka perlu dilihat dengan kepala dingin: secara year-to-date, BUMI masih tergerus lebih dari 56%. Reli beberapa pekan terakhir, semenarik apapun, belum cukup menambal lubang yang terbentuk sepanjang tahun ini. Bagi yang sudah nyangkut di harga atas, reli ini mungkin terasa bak oase. Bagi yang baru melirik, pertanyaannya sederhana: sudah terlambat, atau belum mulai?