Senin (23/3) pagi tidak dimulai dengan baik bagi investor Asia.
Indeks MSCI Asia Pasifik tergerus 1,2%. Angka itu belum menggambarkan betapa paniknya sesi pembukaan. Jepang, yang baru kembali beroperasi setelah libur Jumat lalu, langsung dihajar aksi jual masif. Nikkei amblas hampir 3%. Kospi Korea Selatan bahkan lebih brutal, terpangkas lebih dari 4%, sementara saham-saham Australia melemah 2% dan nyaris masuk zona koreksi teknikal.
Trigger-nya jelas: tenggat waktu ultimatum Donald Trump kepada Teheran.
Presiden AS itu memberi Iran 48 jam untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur laut yang menjadi nadi ekspor minyak Timur Tengah. Kalau tidak, fasilitas pembangkit listrik mereka jadi sasaran. Tenggat habis Senin malam waktu New York. Perang yang sudah berjalan empat minggu ini belum menunjukkan satu pun sinyal de-eskalasi.
Teheran tidak diam. Iran mengancam balik: Selat Hormuz bukan cuma akan ditutup sementara, tapi permanen. Infrastruktur energi AS dan Israel di seluruh kawasan masuk daftar target.
Minyak mentah mencerminkan kebingungan pasar itu sendiri. Sempat melonjak 1,9% di awal sesi, harga berbalik dan jatuh hampir 1,8% ke kisaran US$112 per barel. Naik dulu, lalu turun. Bukan keputusan pasar. Lebih terasa seperti kepanikan yang mencari arah.
Futures S&P 500 tidak jauh berbeda, bergerak fluktuatif sebelum akhirnya melemah 0,4%. Di pasar obligasi, yield surat utang pemerintah Australia tenor 10 tahun melonjak 13 basis poin, sinyal bahwa investor mulai lari ke instrumen yang dianggap lebih aman.
Pertanyaannya sekarang: kalau tenggat Trump lewat tanpa respons Iran, apa yang terjadi Selasa pagi?