Tecno sedang dalam mode agresif.
Dua produk baru hadir nyaris bersamaan, masing-masing membawa proposisi yang berbeda. Brand ini tampak sengaja mengapit beberapa segmen pembeli sekaligus, bukan dengan satu produk kompromi, tapi dengan dua taruhan yang masing-masing berdiri sendiri. Di satu sisi ada Tecno Camon 50 dengan filosofi "cukup di segalanya". Di sisi lain, Camon Slim 5G langsung memancing perhatian dengan klaim ketebalan bodi 5,49 mm, tipis secara absurd untuk kelasnya, tapi tetap dibekali baterai 6.000 mAh dan layar 144 Hz.
Mulai dari yang lebih membumi dulu.
Camon 50 hadir sebagai penerus seri yang sudah mendapat respons cukup hangat di Indonesia. Bukan mengejar angka benchmark tertinggi, pendekatan Tecno di sini lebih ke menjaga keseimbangan yang terasa masuk akal untuk pengguna harian. Chipset MediaTek Helio G200 Ultimate mencatat skor AnTuTu v11 sekitar 578 ribu poin. Bukan yang paling kencang di kelas menengah, tapi stabil untuk multitasking, streaming, dan gaming kasual. RAM hingga 24GB lewat extended RAM turut membantu responsivitas saat banyak aplikasi berjalan sekaligus.
Kamera jadi kartu truf utamanya. Sensor utama 50MP Sony LYT700C menghasilkan foto tajam dengan warna natural dan dynamic range yang terjaga, karakter yang lebih mudah dipakai sehari-hari dibanding sensor agresif yang sering over-saturate. Tecno menambahkan SuperZoom FlashSnap dan AI Auto Zoom untuk menangkap objek bergerak, plus deretan fitur AI lain: Art Gallery, Image-to-Video Generator, hingga asisten bernama Ella. Sebagian pengguna mungkin tidak akan menyentuh semua fitur itu. Tapi keberadaannya tidak terasa dipaksakan.
Baterai 6.500 mAh. Angka yang tidak main-main. Didukung 45W fast charging, bypass charging, dan reverse charging, Tecno mengklaim ketahanan hingga sekitar 9 jam penggunaan aktif campuran, kalau data ini bisa dipercaya, itu keunggulan nyata di segmennya, karena daya tahan sering lebih terasa dampaknya daripada perbedaan benchmark.
Bodi setebal 7,53 mm dengan sertifikasi IP68/IP69/IP69K dan standar militer juga jadi nilai tambah yang jarang ditemukan di harga yang sama. Pilihan warna Malachite Green dan Nebula Titanium membuat tampilan visualnya terasa modern tanpa norak.
Satu catatan serius: Helio G200 belum mendukung 5G. Bagi pengguna yang berpikir jangka panjang soal jaringan, ini bisa jadi penghambat yang cukup signifikan.
Nah, di situlah Camon Slim 5G masuk mengisi celah tersebut.
Ketebalan 5,49 mm bukan sekadar klaim marketing. Angka itu menempatkan Camon Slim 5G di jajaran smartphone tertipis di kelasnya secara global. Yang bikin kepala geleng-geleng: bodi setipis itu tetap diisi baterai 6.000 mAh dan layar refresh rate 144 Hz. Koneksi 5G juga sudah terpasang, menjawab keterbatasan yang ada di Camon 50.
Dua produk ini agaknya dirancang untuk profil pembeli yang sama sekali berbeda. Camon 50 bicara ke pengguna yang mengutamakan ketahanan baterai, kamera konsisten, dan ketangguhan bodi. Camon Slim 5G berbicara ke mereka yang tidak mau kompromi soal konektivitas dan memilih estetika tipis sebagai statement. Pertanyaannya, berapa banyak pembeli yang benar-benar punya preferensi sekeras itu?
Ada satu sudut menarik lagi yang layak disebut. Tecno Camon 40 Pro 5G, yang diluncurkan April 2025 dengan harga Rp3.749.000, kini diperdagangkan di kisaran Rp4,2 jutaan. Naik, bukan turun, pola yang tidak lazim untuk smartphone yang sudah setahun beredar. Entah kebetulan atau tidak, momentum ini bertepatan persis dengan masuknya Camon 50 ke pasar. Bagi pembeli yang bersabar dan tidak butuh yang terbaru, harga segitu untuk spesifikasi Camon 40 Pro 5G masih bisa dipertanggungjawabkan.
Tecno, yang belum lama ini dianggap pemain pinggiran di pasar Indonesia, kini bermain di beberapa meja sekaligus. Bak gayung bersambut, kehadiran dua produk baru ini justru membuat warisan generasi sebelumnya ikut terdongkrak nilainya. Tinggal satu pertanyaan yang tersisa: pembeli mana yang akan mereka menangkan lebih dulu?