Dua lokasi eks diler Honda kini berganti papan nama. Yang satu jadi Jaecoo, yang satu lagi Chery. Keduanya punya induk yang sama: Chery Holding Group.
Sejak April ini, diler Honda Pondok Pinang di kawasan Kebayoran Lama resmi beralih ke Jaecoo. Gerai Serpong sudah lebih dulu diambil alih Chery. Bukan sekadar kebetulan lokasi kosong yang diisi. Ini bagian dari strategi ekspansi yang sudah dikalkulasi matang.
Vice Country Director Chery Business Unit Budi Darmawan Jantania terang-terangan soal alasan di balik pilihan Serpong. "Diler Serpong ini kami pilih karena telah memiliki spesifikasi yang sesuai dengan kebutuhan Chery, mulai dari lokasi yang strategis, luas lahan yang besar, dan juga infrastruktur yang sangat layak untuk ragam fasilitas yang akan disematkan oleh Chery," ujarnya kepada CNBC Indonesia. Artinya, Chery tidak perlu buang waktu dan uang untuk membangun dari nol. Tinggal masuk, pasang logo, buka pintu.
Soal kenapa Serpong, Budi punya jawaban yang jelas. Kawasan ini tumbuh pesat sebagai pusat hunian dan bisnis di Tangerang Raya. "Area ini menjadi relevan untuk menjangkau konsumen urban yang membutuhkan kemudahan akses, baik untuk pembelian kendaraan maupun layanan purnajual," lanjutnya. Basis konsumen urban yang sudah terbentuk, agaknya, jadi daya tarik utama bagi Chery untuk masuk ke segmen bernilai tinggi ini.
Ambisi Chery tidak berhenti di dua lokasi itu. Perusahaan membidik total sekitar 120 diler aktif hingga akhir 2026. Bukan angka kecil. Jaringan distribusi adalah tulang punggung penetrasi pasar otomotif, apalagi di negara seluas Indonesia.
Kontras sekali dengan apa yang terjadi di kubu seberang.
Honda Prospect Motor (PT HPM) memilih kalimat yang lebih diplomatis saat merespons gelombang penutupan diler. "Kami memahami bahwa penyesuaian jaringan diler merupakan bagian dari dinamika industri otomotif yang terus berubah. Bagi Honda, yang terpenting adalah memastikan setiap konsumen tetap mendapatkan layanan yang mudah diakses, cepat, dan dapat diandalkan," ujar Sales & Marketing and After Sales Director HPM Yusak Billy. Pernyataan yang terdengar matang, sekaligus agak defensif kalau dibaca dalam konteks ini.
Dua pendekatan bertolak belakang sedang beradu di pasar yang sama. Satu pihak menahan dan menyeleksi, pihak lain justru menginjak gas. Momentum ini datang persis saat tekanan terhadap APM lama sedang di titik tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Pertanyaannya, berapa lama formasi ini bertahan?
Bagi investor dan pelaku industri, soal yang lebih relevan mungkin bukan siapa yang menang hari ini. Tapi siapa yang lebih siap menanggung ongkos ekspansi agresif ini jika pasar tidak tumbuh secepat proyeksi.