RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  China Pangkas 12.200 Prodi Usang, Ganti dengan Jur...

Internasional

China Pangkas 12.200 Prodi Usang, Ganti dengan Jurusan AI dan Teknologi

Beijing memangkas lebih dari 30 persen program universitas dalam lima tahun terakhir, mengganti jurusan seni dan humaniora dengan program teknologi mutakhir. Langkah besar yang menyimpan perdebatan.

Perencanaan sektor pelatihan: Membangun kemampuan untuk masa depan bangsa.

Lebih dari 12.200 program sarjana ditangguhkan di universitas-universitas China antara 2021 hingga 2025, sementara 10.200 program baru diluncurkan untuk menggantikannya. Angka dari Kementerian Pendidikan China itu bukan sekadar statistik reformasi pendidikan biasa. Ini cerminan kegelisahan Beijing menghadapi dua masalah sekaligus: pengangguran anak muda yang melampaui 16 persen, dan ambisi menjadi kekuatan teknologi global.

Program yang dikorbankan sebagian besar berasal dari rumpun seni, humaniora, bahasa asing, dan manajemen. Jurusan yang di era sebelumnya dianggap prestis, kini dicap jenuh dan tidak relevan. Penggantinya adalah program-program yang terang-terangan diarahkan ke kebutuhan industri masa depan. Sembilan universitas bahkan sudah meluncurkan jurusan "embodied intelligence" atau kecerdasan terwujud, konsep yang menggabungkan AI generasi berikutnya dengan ekonomi riil.

University of Shanghai for Science and Technology tahun ini menghentikan penerimaan mahasiswa baru untuk program desain produk. Seorang lulusan baru dari program tersebut mengakui bahwa prospek kerja di bidang itu sudah dihajar keras oleh perkembangan AI. Pemodelan, rendering, tugas-tugas inti yang dulu jadi keahlian andalan desainer, kini bisa ditangani mesin. "Banyak tugas inti, seperti pemodelan dan rendering, kini dapat ditangani oleh AI," katanya.

Communication University of China (CUC), salah satu perguruan tinggi media paling bergengsi di Beijing, pun tak luput dari restrukturisasi. Program sinematografi digabung dengan produksi film dan televisi. Song Song, alumni sinematografi CUC angkatan 2012, melihat ini sebagai keniscayaan. Maraknya siaran langsung dan video pendek, katanya, sudah mengubah total standar kompetensi yang dibutuhkan industri. "Perubahan dalam pendidikan mutlak diperlukan," kata Song Song.

Tapi apakah ini solusi yang tepat? Tidak semua sepakat. Chu Zhaohui, peneliti senior di National Institute of Education Sciences China, memandang pendekatan "ganti jurusan" sebagai tambal sulam belaka. Banyak program yang baru didirikan beberapa tahun lalu sudah ikut dipangkas, bahkan sebelum sempat berkembang matang. Alih-alih terus memutar roda pergantian prodi, Chu mendorong universitas mengadopsi sistem yang jauh lebih fleksibel. "Ini akan memungkinkan mereka untuk memilih mata kuliah berdasarkan minat pribadi mereka, kekuatan unik mereka, dan kebutuhan mereka akan jalur karier yang berbeda, yang pada akhirnya membangun profil intelektual mereka sendiri yang khas," kata Chu.

Fenomena China ini, agaknya, bukan anomali. Tekanan serupa tengah membentur institusi pendidikan tinggi di banyak negara. Keterampilan yang menguntungkan lima tahun lalu bisa jadi usang hari ini, dan universitas yang hanya reaktif selalu akan tertinggal. Pertanyaannya bukan sekadar apa yang harus diajarkan sekarang, melainkan kompetensi apa yang dibutuhkan negara dalam 10 hingga 20 tahun mendatang. Sumber dari Vietnam.vn pun menyebut hal serupa: perencanaan sektor pelatihan bukan lagi soal membuka program baru, tapi memprediksi kebutuhan masa depan.

Pendekatan China yang serba cepat dan top-down memang terasa efisien di atas kertas. Tapi reformasi pendidikan yang bergerak terlalu mengikuti selera pasar jangka pendek punya risikonya sendiri. Mahasiswa yang masuk hari ini akan lulus empat tahun kemudian di tengah lanskap industri yang bisa sudah berubah lagi. Bukan main taruhannya.