RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  China Tuding Barat Gunakan Penyu dan Ikan sebagai...

Internasional

China Tuding Barat Gunakan Penyu dan Ikan sebagai Alat Mata-mata Bawah Laut

Kementerian Keamanan Negara China memperingatkan adanya hewan laut bersensor yang diduga digunakan agen intelijen asing untuk memetakan kelemahan pertahanan pesisir Tiongkok.

China Teriak, Sebut Dimata-matai Penyu dari Barat

Judulnya terasa seperti cerita fiksi ilmiah, tapi Beijing rupanya serius. Kementerian Keamanan Negara China pekan ini mengeluarkan peringatan resmi bahwa hewan laut, khususnya penyu dan ikan berukuran besar, telah ditemukan di perairan Tiongkok dengan sensor mata-mata yang terpasang di tubuhnya.

Peringatan itu datang lewat unggahan media sosial kementerian yang diberi judul cukup puitis: "Di bawah birunya laut, arus bawah laut bergejolak." Isinya jauh dari puitis. Kementerian mengklaim bahwa badan-badan intelijen internasional kini menggunakan apa yang mereka sebut sebagai "jenis peralatan spionase baru" untuk mencuri data kelautan sensitif dari perairan Tiongkok. Hewan-hewan itu ditemukan berenang di area tertentu sambil mengumpulkan data suhu air, salinitas, dan pola arus laut, lalu mengirimkan seluruhnya ke luar negeri via satelit.

Data semacam ini bukan sekadar statistik oseanografi. Kementerian secara eksplisit menyebut bahwa informasi terkumpul tersebut akan digunakan untuk menyusun peta bawah laut yang rinci, peta yang berpotensi mengidentifikasi titik-titik lemah dalam sistem pertahanan pesisir Tiongkok. Ancaman yang, kalau klaim ini bisa dipercaya, cukup serius untuk tidak diabaikan begitu saja.

Fauna bersensor bukan satu-satunya yang disebut. Metode lain turut dirinci: kendaraan peluncur laut bertenaga surya, pelampung dengan sensor presisi tinggi, hingga perangkat tersembunyi yang dipasang di kapal-kapal kargo untuk memantau dinamika pelabuhan secara real-time. Jaringan pengumpulan intelijen maritim yang sistematis dan berlapis. Kalau klaim ini akurat, ini bukan operasi amatiran.

Siapa pelakunya? Beijing tidak menyebut nama. Tapi arah tudingannya cukup transparan: kementerian mengarahkan jari ke "pesaing Barat", tanpa perlu mengeja satu negara pun.

Merespons temuan ini, pemerintah China mendesak pemeriksaan keamanan ketat terhadap semua peralatan impor dari luar negeri. Para nelayan juga diminta waspada dan segera melapor bila menemukan pelampung atau benda asing mencurigakan di laut. Instruksi yang, entah kebetulan atau tidak, juga berfungsi sebagai pesan ke publik domestik: ancaman itu nyata dan ada di sekitar kalian.

Konteks geopolitiknya tidak bisa diabaikan. Saling tuding soal spionase antara Beijing dan negara-negara Barat sudah berlangsung bertahun-tahun, dan belakangan intensitasnya meningkat dari dua arah. Aliansi intelijen Five Eyes bulan ini mengungkap bahwa agen-agen China menyamar sebagai perekrut kerja daring untuk memburu informasi sensitif. Tahun lalu, Beijing sendiri memperingatkan pegawai pemerintahannya agar waspada terhadap skema honeytrap setelah seorang pejabat dilaporkan terjerat agen asing.

Apakah penyu bersensor benar-benar berkeliaran di Laut China Selatan? Belum ada yang bisa memverifikasi klaim ini secara independen. Tapi yang patut dicermati bukan kebenarannya semata, melainkan momentumnya: peringatan ini keluar tepat saat eskalasi retorika intelijen global sedang panas-panasnya. Bagi Beijing, agaknya cerita soal penyu mata-mata ini adalah cara paling efisien untuk menyampaikan pesan ke dalam sekaligus ke luar.