RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Market  ›  Dana Asing Banjiri Saham Jepang 2,96 Triliun Yen S...

Market

Dana Asing Banjiri Saham Jepang 2,96 Triliun Yen Setelah Tiga Pekan Jual Bersih

Investor asing memborong saham Jepang senilai 2,96 triliun yen dalam sepekan seiring meredanya tensi AS-Iran dan kejatuhan harga minyak yang picu selera risk-on global.

Tiga pekan jual bersih, lalu tiba-tiba berbalik arah. Itulah yang terjadi di pasar saham Jepang pekan lalu.

Investor asing membukukan pembelian bersih sebesar 2,96 triliun yen, atau sekitar USD18,65 miliar, di bursa Tokyo. Bukan rebound teknikal biasa. Sepanjang tiga pekan hingga akhir Maret, investor global sudah membuang sekitar 7,37 triliun yen dari pasar yang sama.

Pendorong utamanya, agaknya, sudah bisa ditebak: meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Harapan gencatan senjata yang mulai menguat mendorong sentimen risk-on secara global. Jepang, sebagai salah satu pasar ekuitas terbesar Asia, ikut kecipratan.

Harga minyak mentah dunia amblas lebih dari 13 hingga 16 persen dalam waktu singkat, bak batu dilempar ke kolam tenang. Penurunan sebesar itu cukup untuk mengubah kalkulasi inflasi global sekaligus memulihkan nafsu investor terhadap aset-aset berisiko yang sebelumnya mereka jauhi. Saham Asia, termasuk bursa Tokyo, langsung jadi sasaran akumulasi.

Tapi pelaku pasar tampaknya tidak mau terlalu euforia. Reuters mengutip pandangan investor yang melihat situasi ini sebagai kelegaan, bukan pemulihan. Ketidakpastian dinilai masih membayangi arah pasar. Klaim yang, jujur saja, masih perlu dibuktikan data-data ekonomi berikutnya.

Ada satu faktor lagi yang kerap luput dari perhatian. Maret adalah bulan tutup buku fiskal di Jepang, dan pergerakan dana lintas batas pada periode ini lazim terjadi sebagai bagian dari rebalancing institusional. Bukan semata refleksi keyakinan terhadap fundamental. Pola klasik akhir tahun fiskal. Ini yang membuat angka pembelian 2,96 triliun yen itu perlu dibaca dengan sedikit hati-hati.

Kombinasi tiga faktor itulah yang menarik kembali uang yang sempat kabur: deeskalasi geopolitik, harga energi yang ambles, dan teknikal akhir tahun fiskal. Pertanyaannya sekarang, apakah ini awal dari arus masuk yang lebih panjang atau sekadar rebalancing yang kebetulan waktunya pas?