RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Dari Mitra Pemadam Kebakaran ke Musuh Teluk: Pesan...

Internasional

Dari Mitra Pemadam Kebakaran ke Musuh Teluk: Pesan Keras Teheran untuk Kuwait

Juru Bicara Kemlu Iran Esmaeil Baqaei melontarkan kritik pedas ke Kuwait sambil mengingatkan sejarah 1991, di tengah laporan serangan Iran ke infrastruktur vital Kuwait yang mengancam jutaan warga.

Gushing oil and roaring fires': 30 years on Kuwait is still scarred by catastrophic pollution | Environment | The Guardian

Esmaeil Baqaei punya cara yang tidak biasa untuk menyampaikan pesan diplomatik. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran itu mengunggah foto hitam-putih para ahli perminyakan Iran yang berjibaku memadamkan sumur minyak yang menyala di Kuwait, lalu di bawahnya menulis kalimat yang terasa lebih seperti vonis ketimbang peringatan.

"Bangsa Iran yang mulia telah memadamkan api yang membakar negeri kalian. Kini kalian justru menjadi bagian dari api para iblis yang ditujukan kepada rakyat kami," tulis Baqaei di akun X-nya, Selasa (21/7/2026). Keras. Tepat sasaran.

Konteks historis yang ia bawa bukan sembarang nostalgia. Pascaperang Teluk 1991, pasukan rezim Baath Irak yang mundur dari Kuwait meninggalkan bencana ekologis berskala masif: ratusan sumur minyak menyala, asap hitam pekat mengepul hingga terlihat dari luar angkasa. Kuwait waktu itu sempat berpihak ke Baghdad selama perang Iran-Irak yang baru berakhir tiga tahun sebelumnya. Luka itu belum kering ketika Teheran justru mengulurkan tangan, mengirim 47 tenaga ahli industri minyak untuk membantu mengendalikan 28 sumur di Lapangan Burgan, salah satu cadangan minyak terbesar di permukaan bumi. Operasi itu tercatat dalam berbagai dokumen internasional sebagai bagian dari upaya pemadaman kebakaran sumur minyak terbesar dalam sejarah.

Baqaei menutup pesannya dengan peribahasa Persia yang agaknya dipilih dengan sangat sadar: "Siapa yang menanam duri, tidak akan memanen anggur."

Pesan itu datang bukan tanpa latar belakang yang sedang membara. Laporan terkini menyebut Iran telah menyerang sejumlah infrastruktur vital Kuwait, termasuk pembangkit listrik dan fasilitas pengolahan air. Kalau data ini bisa dipercaya, dampaknya bisa jauh melampaui kalkulasi militer semata. Kuwait hampir sepenuhnya bergantung pada desalinasi air laut untuk kebutuhan air bersih warganya. Gangguan pada fasilitas itu bukan urusan logistik biasa, ini bisa berujung pada krisis kemanusiaan yang menyentuh jutaan orang.

IRGC juga dilaporkan melumpuhkan radar di Kuwait dalam salah satu gelombang Operasi Nasr 2. Gudang amunisi dan pusat logistik militer AS di negara itu disebut ikut dihantam. Entah kebetulan atau tidak, eskalasi ini terjadi persis setelah Teheran menganggap Kuwait mengambil posisi yang terlalu dekat dengan kepentingan Washington. Bak gayung bersambut, hanya saja yang bersambut kali ini bukan kerja sama, melainkan serangan.

Dalam unggahannya sendiri, Baqaei tidak secara eksplisit merinci operasi militer itu. Ia memilih jalur yang lebih halus tapi sama menusuknya: mengingatkan utang sejarah, lalu menyiratkan bahwa ingatan pendek punya harga yang mahal. Setidaknya itu klaim narasi yang ia bangun, dan kalau boleh jujur, cukup efektif untuk konsumsi publik domestik Iran maupun regional.

Seberapa jauh Kuwait bersedia menyerap tekanan ini? Negara Teluk dengan cadangan minyak raksasa itu kini terjepit di persimpangan yang tidak nyaman: antara kepentingan keamanan bersama AS dan kenyataan geografis bahwa Iran ada tepat di seberang perairan mereka. Posisi yang, bisa jadi, jauh lebih sulit dari sekadar memilih kawan atau lawan.