Deezer melangkah lebih jauh dari sekadar membersihkan rumahnya sendiri. Platform streaming musik asal Prancis itu, pada 11 Juni 2026, membuka alat deteksi musik AI-nya secara gratis kepada publik luas, eh, bukan em dash, kepada pengguna di 20 platform streaming, mulai dari Spotify, Apple Music, YouTube Music, SoundCloud, Tidal, Amazon Music, hingga layanan-layanan yang lebih kecil seperti Napster, Audiomack, dan Boomplay.
Angka di balik keputusan ini cukup menggelisahkan. Sebanyak 44% dari seluruh lagu baru yang diunggah ke Deezer berasal dari AI, setara dengan hampir 75.000 trek per hari atau lebih dari dua juta per bulan. Yang lebih mencolok: hingga 85% dari konten AI tersebut dikategorikan sebagai penipuan, menjiplak suara dan komposisi seniman manusia untuk mencuri royalti. Volumenya masif. Tapi tingkat pemutarannya masih kecil, hanya sekitar 1-3% dari total streaming.
Sistem deteksi Deezer bekerja dengan melacak artefak digital yang tertinggal dari proses generasi AI. Akurasinya diklaim 99,8%, artinya hanya dua dari setiap seribu lagu yang lolos tanpa teridentifikasi. Angka yang besar, meski Deezer sendiri mengakui tidak ada cara independen untuk memverifikasinya. Kalau data ini bisa dipercaya penuh, itu masalah tersendiri.
Cara pakainya sederhana: pengguna mengunjungi situs detektor Deezer, memilih layanan streaming yang digunakan, lalu memberikan akses ke playlist. Sistem mengimpor dan memindai seluruh daftar putar secara otomatis, menampilkan trek yang teridentifikasi sebagai buatan AI lengkap dengan indikasi kemungkinan peniruan seniman asli. Hasilnya bisa langsung dibagikan ke media sosial. Satu catatan soal privasi yang layak dipertimbangkan: pengguna harus memberikan akses pihak ketiga ke perpustakaan musik mereka. Alat ini juga tidak mendukung pemeriksaan per trek individual tanpa menghubungkan seluruh akun.
CEO Deezer Alexis Lanternier tidak menyembunyikan frustrasinya. "Tidak ada perusahaan lain yang mengikuti langkah kami, jadi kami memutuskan untuk memungkinkan semua orang memeriksa apakah playlist mereka mengandung musik sintetis, apa pun platform streaming yang mereka gunakan," tegasnya. Data internal perusahaan menambah konteks: hampir separuh pengguna baru yang migrasi ke Deezer dari platform lain ternyata membawa serta lagu-lagu AI dalam playlist mereka.
Perbandingan dengan kompetitor tidak menguntungkan bagi Spotify dan Apple Music. Apple Music sudah punya tag transparansi AI, tapi sifatnya label saja, bukan pemblokiran. Spotify masih mengandalkan sistem pelaporan sukarela. Deezer, sebaliknya, sudah satu setengah tahun aktif menyingkirkan trek AI dari rekomendasi dan playlist editorial mereka, serta mengecualikannya dari monetisasi. Bandcamp bahkan selangkah lebih jauh dengan melarang musik AI sepenuhnya awal tahun ini.
Bagi kreator independen, situasi ini ibarat pedang bermata dua. Alat seperti ini membantu pendengar memilih musik asli. Tapi sistem deteksi otomatis berpotensi salah tandai karya manusia, dan kreator kecil yang tidak punya reputasi besar bisa kehilangan pendengar hanya karena kecurigaan algoritmik yang tidak berdasar. Pertanyaannya, siapa yang menanggung risiko kalau detektor meleset?
Apakah tekanan ini cukup untuk menggerakkan Spotify dan Apple Music? Belum ada respons resmi dari keduanya. Tapi dengan data yang kian terbuka dan desakan publik yang makin kencang, agaknya diam bukan lagi pilihan yang nyaman bagi platform-platform besar itu.