Kesepakatan damai Amerika Serikat dan Iran yang diumumkan Senin (15/6/2026) ternyata punya lapisan cerita yang jauh lebih menarik dari sekadar teks perjanjian, dan lapisan itu berbau klinik psikiatri.
Di balik perundingan tidak langsung yang dimediasi Pakistan selama beberapa bulan terakhir, tim negosiator Iran diam-diam merekrut psikolog senior sebagai bagian dari delegasi resmi mereka. Bukan untuk konseling internal. Melainkan untuk membedah pikiran Donald Trump. Laporan ini pertama kali diungkap jurnalis investigatif AS Jeremy Scahill melalui DropSiteNews dan siniar Breaking Points pada 13 Juni 2026, lalu dikutip The Cradle dan sejumlah media lain.
Menurut sumber-sumber Teheran yang berbicara kepada Scahill, para pejabat Iran meyakini Trump mengalami gangguan kognitif dan emosional yang cukup serius, terutama setelah serangkaian insiden publik sepanjang masa jabatan keduanya. Trump beberapa kali tertangkap kamera tertidur di tengah rapat kabinet. Memar dan bengkak di tangan serta kakinya juga menarik perhatian, meski Gedung Putih menjelaskan kondisi itu akibat konsumsi obat pengencer darah sebagai langkah pencegahan medis.
Kekhawatiran soal stabilitas sang presiden agaknya tidak cuma dirasakan Teheran. Sejumlah mediator internasional, termasuk Qatar dan Turki, disebut juga menyampaikan catatan serupa secara tertutup.
Strategi Iran pun bergeser. Alih-alih membangun postur konfrontatif yang jadi kebiasaan lama, delegasi Teheran beralih ke pendekatan yang oleh sejumlah pejabat Iran digambarkan mirip "manajemen pasien": memilih waktu bicara, mengatur nada, memilih diksi yang paling tidak memancing reaksi impulsif. Hasilnya, menurut pejabat-pejabat yang berbicara anonim, pendekatan itu membuka jalan bagi kemajuan tak terduga di sejumlah poin krusial, termasuk pembatasan program nuklir dan kerangka pencabutan sanksi.
Para akademisi menyebutnya "diplo-psikologi." Sebagian memuji kreativitasnya. Sebagian lain mempertanyakan etikanya, karena secara eksplisit mengeksploitasi kelemahan kognitif kepala negara lawan sebagai variabel strategi diplomatik. Langka? Ya. Tapi bukan belum pernah ada dalam sejarah diplomasi gelap.
Kompleksitas cerita ini makin berlapis ketika Trump berbicara sendiri. Dalam wawancara via telepon dengan New York Times pada Minggu (14/6) sore waktu AS, ia mengungkap bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu nyaris menggagalkan seluruh proses ini. Trump menyebut Netanyahu sebagai "orang yang sangat sulit" dan mengklaim bahwa dirinya yang menyelamatkan Israel dari ancaman nuklir. Pernyataan itu dirilis tepat setelah mediator Pakistan mengumumkan tercapainya kesepakatan.
Dari Tel Aviv, reaksi datang keras. Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben Gvir menegaskan lewat Telegram bahwa negaranya tidak terikat oleh kesepakatan tersebut. "Kesepakatan Trump tidak mengikat kami, kami bukan pihak dalam kesepakatan ini," tulis Ben Gvir, seraya menambahkan bahwa Israel tidak akan berhenti sebelum Hizbullah dibubarkan sepenuhnya.
Tidak semua pihak di Iran juga menyambut momen ini dengan tepuk tangan. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi mendapat tekanan keras dari kalangan nasionalis yang membaca kesepakatan ini sebagai konsesi strategis. Suara paling menarik datang dari Mojtaba Khamenei, putra Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, yang dalam pernyataan jarang menyebut bahwa "kesepakatan bukanlah kepercayaan, tapi kebutuhan strategis."
Pertanyaannya, berapa lama konsensus rapuh ini bertahan?
Trump sendiri sudah memasang klausul ancaman. Dalam wawancara yang sama, ia menyebut bahwa jika Iran gagal mencapai kesepakatan nuklir final, serangan militer baru ke Teheran bukan pilihan yang dicoret dari meja. Ia juga mengklaim salah satu capaian perjanjian ini adalah menjamin Selat Hormuz "bebas pungutan tol secara permanen."
Satu hari sebelum pengumuman bersejarah itu, Trump merayakan ulang tahun ke-80 dengan cara yang, katakanlah, khas. Halaman Gedung Putih disulap jadi arena UFC, ribuan penonton bersorak menyaksikan pertarungan di dalam kandang. Presiden yang tengah menangani negosiasi paling sensitif dalam satu dekade itu duduk di barisan depan, menikmati tontonan yang berdarah-darah. Bukan main.
Kesepakatan ini, yang rencananya ditandatangani di Swiss pekan ini, mungkin akan dicatat sebagai titik balik hubungan Washington dan Teheran. Tapi catatan kaki yang tidak akan muncul di dokumen resminya adalah ini: bahwa sebagian dari keberhasilan negosiasi itu mungkin berutang pada sebuah tim psikolog yang, dengan teliti dan sabar, belajar cara berbicara kepada seseorang yang mereka anggap tidak sepenuhnya stabil.