Pemeriksaan itu awalnya cuma karena ada promo diskon. Dr. Andik Wijaya, dokter spesialis kesehatan reproduksi dari YADA Institute, ikut skrining coronary artery calcium score pada April 2024 tanpa banyak pikir, ia merasa kondisinya baik-baik saja, tidak ada keluhan yang mengkhawatirkan.
Hasilnya menghantam. Skor kalsium koroner Andik mencapai 431, angka yang dalam dunia medis berarti risiko tinggi serangan jantung dan stroke. "Ternyata saya yang semula sangat percaya diri, hasilnya sangat buruk," ungkapnya saat diwawancarai Kompas.com, Jumat (12/6/2026).
Yang membuat temuan ini semakin mengejutkan: kadar LDL-nya. Selama bertahun-tahun, kolesterol jahat Andik berada di kisaran 100 hingga 120 mg/dL, angka yang memang di atas batas ideal, tapi bukan yang biasanya bikin orang panik. Ia merasa cukup percaya diri justru karena angka itu, bukan terancam olehnya.
Di sinilah letak jebakan yang banyak orang tidak sadari. Laboratorium umum biasanya menetapkan 100 mg/dL sebagai batas atas normal LDL. Tapi sejumlah penelitian kardiologi menunjukkan risiko penyakit jantung koroner baru bisa ditekan optimal ketika LDL berada di bawah 70 mg/dL. "Kalau ini ditambah ada inflamasi atau peradangan, ya sudah bisa masuk ke pembuluh darah," jelas Andik. Riwayat keluarga juga tidak bisa diabaikan: satu kakaknya meninggal karena stroke, anggota keluarga lain pernah pasang ring jantung.
Sebagai dokter, Andik tahu persis apa yang biasanya direkomendasikan berikutnya: kateterisasi untuk melihat tingkat penyumbatan, dan kalau sudah menyentuh 70 persen atau lebih, ring jantung menunggu. Tapi ia memilih jalur berbeda. Ia menemukan penelitian Dr. Dean Ornish, ahli preventive cardiology asal Amerika Serikat, yang menunjukkan bahwa penyakit jantung koroner bisa diperbaiki lewat perubahan gaya hidup secara menyeluruh. "Siapa yang enggak mau? Enggak perlu prosedur mahal, enggak perlu ke luar negeri," kata Andik.
Perubahan paling drastis terjadi di meja makan. Andik beralih ke pola makan berbasis nabati, memangkas konsumsi makanan hewani hingga tinggal sekitar 5 persen dari total asupan hariannya. Menu andalannya terbilang sederhana: oatmeal dengan topping lima jenis kacang, yaitu kacang tanah, kacang merah, kacang hijau, kedelai, dan kacang tolo, ditambah aneka buah sesuai musim. Menu ini ia santap pagi dan malam. Siang hari ia masih makan seperti biasa, tapi tetap memilih yang nabati. "Tadi siang saya makan pecel. Tetap nabati kan?" katanya.
Beberapa bulan setelah perubahan itu, LDL Andik amblas ke kisaran 47 hingga 61 mg/dL. Jauh di bawah target 70 mg/dL yang ia pelajari dari penelitian-penelitian kardiologi. Pemeriksaan USG pembuluh darah karotis yang ia jalani setelahnya juga menunjukkan kondisi aterosklerosis, penumpukan plak, yang sudah jauh membaik.
Lalu datanglah babak yang agaknya tidak banyak yang prediksi. Andik mulai berlari. Bukan langsung kencang, bukan langsung jauh. Pertama kali mencoba, 250 meter saja sudah ngos-ngosan. Tapi ia terus berlatih bertahap: dari 500 meter, satu kilometer, hingga ikut lomba 5K dan 10K. Desember 2025, dua tahun setelah diagnosis yang mengubah hidupnya itu, ia menyelesaikan maraton penuh 42 kilometer. Finis. Tanpa cedera.
VO2 max Andik kini berada di angka 45. Angka yang, menurut Andik mengutip sejumlah referensi, setara dengan kebugaran kardiovaskular pria berusia 30 tahun. Ia sendiri kini 62 tahun.
Bagi mereka yang sudah terlanjur didiagnosis penyakit jantung, Andik punya pesan yang tidak terasa seperti klise. "Tubuh kita dirancang memiliki kapasitas regenerasi yang luar biasa. Untuk bisa memperbaiki diri, tubuh perlu dibantu dengan makanan yang baik, aktivitas fisik yang cukup, tidur yang cukup, mengelola stres, dan membangun hubungan sosial yang sehat," katanya.
Dan untuk mereka yang merasa sehat, entah kebetulan atau tidak, pengalaman Andik justru menjadi peringatan yang lebih keras. Merasa baik-baik saja bukan berarti memang baik-baik saja.