RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Drone Iran Ditembak Jatuh di Selat Hormuz, Klaim D...

Internasional

Drone Iran Ditembak Jatuh di Selat Hormuz, Klaim Damai Trump Dibantah Keras Teheran

Pasukan AS menembak jatuh dua drone serang Iran di Selat Hormuz yang mencoba menyerang kapal komersial, hanya beberapa jam setelah Trump mengklaim kedua negara hampir mencapai kesepakatan damai.

Panas! AS Tembak Jatuh 2 Drone Iran di Selat Hormuz

Selat Hormuz kembali memanas. Pasukan Amerika Serikat menembak jatuh dua drone serang satu arah milik Iran yang berupaya menyerang kapal-kapal komersial di jalur pelayaran paling strategis di dunia itu, Kamis malam waktu setempat atau Jumat (12/6/2026) dini hari.

Seorang pejabat senior AS yang enggan disebutkan namanya menyampaikan kepada Fox News, dan dikonfirmasi Reuters, bahwa Iran secara aktif mencoba menyerang kapal komersial yang transit malam itu. "Tampaknya Iran telah berupaya menyerang kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz malam ini," katanya, sebagaimana dikutip NBC News. "Pasukan AS menembak jatuh dua drone serangan satu arah Iran. Arus lalu lintas melalui Selat tersebut terus berlanjut." Tidak ada perincian soal kapal yang menjadi target, atau apakah sempat terjadi kerusakan sebelum kedua drone berhasil dijatuhkan.

Versi Teheran berbeda. Militer Iran mengklaim pihaknya hanya menghentikan "kapal pelanggar" yang mencoba menembus Selat Hormuz, framing yang konsisten dengan pengumuman mereka beberapa hari sebelumnya. Pasca serangan udara AS ke wilayah Iran selatan pada Selasa dan Rabu, Teheran memang sudah mendeklarasikan penutupan Selat Hormuz dan memperingatkan akan menembak kapal mana pun yang berani melintas. Bagi pasar energi global, ancaman itu bukan sekadar retorika.

Konteksnya yang membuat insiden ini lebih pelik. Hanya beberapa jam sebelum drone-drone itu diluncurkan, Presiden AS Donald Trump secara mendadak mengumumkan bahwa Washington baru saja mencapai kesepakatan damai besar dengan Iran guna mengakhiri perang di Timur Tengah. Trump bahkan membatalkan seluruh jadwal pemboman udara ke wilayah Iran yang sedianya diluncurkan malam itu, dan menyebut penandatanganan formal bisa dilakukan "segera, mungkin akhir pekan ini", dengan Wakil Presiden JD Vance, utusan khusus Steve Witkoff, dan Jared Kushner disiapkan sebagai delegasi AS untuk seremoni di Eropa.

Klaim itu langsung dihajar Teheran. Media pemerintah Iran, Fars, menegaskan melalui Telegram bahwa otoritas tertinggi Iran sama sekali belum menyetujui teks apa pun, apalagi nota kesepahaman. Bukan main. Fars justru membaca manuver Trump bukan sebagai sinyal perdamaian, melainkan retret taktis dari ancaman militer yang ternyata tidak bisa ia eksekusi. Trump, menurut pembacaan Teheran, gagal memasukkan poin-poin baru yang menguntungkan AS ke dalam draf perjanjian yang sebelumnya sudah diajukan pihak Iran sendiri. Gambaran yang tidak flattering bagi negosiator yang mengklaim menang.

Insiden drone ini, kalau data lapangan bisa dipercaya, adalah sinyal bahwa realita di Selat jauh lebih berantakan dari pernyataan-pernyataan optimistis yang keluar dari Washington. Gencatan senjata rapuh yang diberlakukan sejak April lalu kembali diuji keras. Selat Hormuz, yang setiap harinya dilintasi sekitar 20% pasokan minyak dunia, kembali menjadi titik api. Pertanyaannya: berapa lama semua pihak sanggup menahan napas?