Dua pekan, dua transaksi jumbo, satu pertanyaan besar dari bursa. Begitulah ringkasan situasi yang dihadapi PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebelum akhirnya memberikan klarifikasi resmi kepada Bursa Efek Indonesia pada Rabu-Kamis pekan ini.
Total dana yang digelontorkan emiten Grup Sinar Mas ini ke PT Bali Media Telekomunikasi (BMT) mencapai Rp12,5 triliun. Rinciannya: akuisisi 100% saham BMT senilai Rp4 triliun yang diumumkan 1 Juli 2026, lalu disusul suntikan modal Rp8,53 triliun pada 6 Juli 2026. Bukan angka kecil.
Yang memancing tanda tanya otoritas bursa adalah selisih harga pelaksanaan dalam dua aksi itu. Akuisisi saham BMT berlangsung di harga sekitar Rp357 per saham, sedangkan penerbitan 8,53 miliar saham baru BMT dalam rangka peningkatan modal dipatok di Rp1.000 per saham. Selisih yang mencolok untuk diabaikan begitu saja.
Manajemen DSSA, melalui Direktur David Fernando Audy dan Daniel Cahya, menjelaskan bahwa keduanya tidak bisa dibandingkan langsung. Harga Rp357 per saham mencerminkan nilai wajar BMT pada saat transaksi jual beli berlangsung, sementara Rp1.000 per saham adalah nilai nominal saham sesuai Anggaran Dasar BMT yang lazim dipakai sebagai dasar peningkatan modal. "BMT merupakan entitas anak perseroan dengan kepemilikan lebih dari 99% dan DSSA perlu memberi keleluasaan bagi BMT untuk berfokus pada pelaksanaan kegiatan usahanya," ujar David dan Daniel dalam keterbukaan informasi BEI, Rabu (22/7/2026).
Seluruh dana hasil peningkatan modal Rp8,54 triliun disebut sudah terpakai untuk memperkuat struktur permodalan BMT, menambah kapasitas pendanaan, dan menjaga fleksibilitas keuangan. Dana itu, kata manajemen, tidak dialokasikan ke entitas anak lain, entitas asosiasi, maupun pihak ketiga. Klaim yang patut dicermati seiring konsolidasi berjalan.
BEI juga menggali soal status utang konversi yang sebelumnya dipegang DSSA di BMT. Penyelesaiannya, kata manajemen, baru diputuskan setelah transaksi afiliasi efektif, dengan pertimbangan BMT kini sudah menjadi anak usaha terkonsolidasi. "Keputusan itu baru diambil setelah terjadinya transaksi. Dengan telah diselesaikannya investasi dalam utang konversi tersebut, DSSA tidak memiliki investasi dalam utang konversi dan BMT tidak memiliki utang konversi," sebut manajemen DSSA.
Satu hal yang perlu dipahami: ini bukan akuisisi bisnis dari pihak asing. BMT dan DSSA sama-sama berada di bawah kendali Franky Oesman Widjaja, salah satu tokoh sentral Grup Sinar Mas, sehingga transaksi ini masuk kategori afiliasi. Konsekuensinya, pengawasan regulator memang lebih ketat, dan klarifikasi publik menjadi kewajiban.
Lantas apa yang sesungguhnya dibidik DSSA? Jawabannya ada di portofolio BMT. Perusahaan itu memegang 24,57% saham PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL), operator telekomunikasi hasil merger XL Axiata dan Smartfren. Dengan menguasai penuh BMT, DSSA menggenggam eksposur signifikan di sektor telko, sektor yang agaknya tengah dipandang strategis oleh para taipan Sinar Mas. Pertanyaannya, berapa lama posisi ini dipegang, dan apakah ada langkah lanjutan?
Manajemen memastikan rangkaian transaksi ini tidak mengubah perlakuan akuntansi maupun berdampak material terhadap laporan keuangan konsolidasian DSSA, setidaknya untuk periode berjalan. Seberapa besar kontribusi BMT ke kinerja perseroan akan terlihat begitu proses konsolidasi penuh rampung.