Harga saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) terbang 15,34% ke level Rp 940 pada perdagangan Selasa (21/7/2026), mengakhiri fase sideways yang sudah berlangsung sebulan lebih di kisaran Rp 800-an. Secara intraday, saham Grup Sinar Mas ini sempat menyentuh Rp 985 sebelum ditutup di Rp 940, naik dari penutupan sebelumnya di Rp 815.
Investor asing jadi motor reli ini. Net buy asing pada DSSA tercatat Rp 263,6 miliar di pasar reguler BEI, menjadikannya saham dengan pembelian bersih terbesar hari itu, jauh meninggalkan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) di posisi kedua dengan net buy Rp 91,7 miliar. PT Astra International Tbk (ASII) dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) jadi sasaran net sell asing terbesar, masing-masing Rp 61,3 miliar dan Rp 51,9 miliar.
Secara keseluruhan, asing masih membukukan net buy tipis Rp 30,7 miliar di seluruh pasar BEI. Kontras kecil dari gambaran yang lebih suram: sepanjang tahun berjalan, total net sell asing di bursa sudah menembus Rp 75,5 triliun berdasarkan data BEI. Makanya, derasnya modal asing yang masuk ke DSSA hari ini terasa mencolok.
Koneksi ke momentum pasca-MSCI agaknya bukan kebetulan. DSSA sebelumnya didepak dari indeks MSCI Global Standard, pukulan yang cukup berat bagi likuiditas saham dan menekan harganya ke kisaran Rp 800-an. Pasar kini seperti membaca level itu sebagai titik masuk, bukan sinyal bahaya.
Fundamental yang sedang bergeser jadi konteks penting di balik itu semua. Selama ini DSSA lekat dengan batu bara lewat PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS), tapi manajemen kini mendiversifikasi ke dua arah: telekomunikasi dan energi terbarukan. Sucor Sekuritas menyebut DSSA sebagai konsolidator bisnis telekomunikasi dan teknologi Grup Sinar Mas. Rencana akuisisi 35% saham PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR) di harga Rp 523 per saham dinilai sebagai langkah konkret. "Rencana DSSA mengambil 35% saham PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR) di harga Rp 523 per saham menggambarkan arah kebijakan untuk masuk ke rantai nilai sektor infrastruktur telekomunikasi," tulis Sucor dalam risetnya.
Di sisi energi, DSSA telah membentuk perusahaan patungan dengan First Gen untuk menggarap proyek pembangkit listrik geotermal berkapasitas 460 megawatt. Net present value proyek ini ditaksir US$ 895 juta dengan IRR 11%. Bukan angka yang bikin dada berdegup, tapi cukup untuk meyakinkan pasar bahwa ada arus kas jangka panjang yang bisa diharapkan.
Dua ekspansi itu mengubah kalkulasi total addressable market DSSA. Sucor memproyeksikan pasar yang bisa digarap emiten ini melonjak dari US$ 33 miliar menjadi US$ 76 miliar. Kalau proyeksi itu tak meleset jauh, CAGR pendapatan DSSA bisa menembus 11% pada periode 2025-2030 hingga US$ 4,7 miliar, sementara laba bersih diperkirakan terkerek 27% menjadi US$ 749 juta atau setara Rp 13,3 triliun. Sucor mempertahankan rekomendasi buy dengan target harga Rp 990.
Pertanyaannya sekarang sederhana: setelah reli 15% dalam sehari, masih ada ruang? Target Rp 990 dari Sucor memberi upside sekitar 5% dari penutupan Rp 940. Tipis. Angka itu pun ditetapkan sebelum lonjakan hari ini, artinya revisi ke atas terbuka lebar jika sentimen tetap terjaga. Investor yang nyangkut di Rp 800-an, setidaknya hari ini bisa sedikit bernapas.