RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  DSSA Genjot EBT dan Digital, Batu Bara Tak Lagi Sa...

Bisnis

DSSA Genjot EBT dan Digital, Batu Bara Tak Lagi Satu-satunya Andalan

Di tengah pendapatan yang tergerus normalisasi harga batu bara, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk justru mempercepat transformasi ke energi terbarukan dan infrastruktur digital sebagai mesin pertumbuhan baru.

DSSA Percepat Sektor EBT dan Infrastruktur Digital di 2026 - Market

Pendapatan konsolidasi PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) turun 7,5% menjadi USD 2,79 miliar pada 2025, tertekan normalisasi harga batu bara global yang sudah berlangsung beberapa kuartal terakhir. Tapi angka itu agaknya bukan yang paling menarik dari paparan manajemen di RUPST pekan ini.

Kontribusi segmen infrastruktur digital dan teknologi terhadap total pendapatan melompat dari 4,8% di 2024 menjadi 7,6% di 2025, diiringi kenaikan pendapatan segmen tersebut sebesar 47% secara tahunan. Bukan angka kecil. Dan trennya jelas menunjukkan ke mana perusahaan ini sedang berjalan.

Di sisi pertambangan, DSSA sebetulnya tidak sedang buruk-buruk amat. Produksi batu bara sepanjang 2025 mencapai 57,2 juta ton, tumbuh 7,7% year-on-year, sementara volume penjualan naik 4,4% menjadi 56,7 juta ton. Penurunan pendapatan lebih banyak mencerminkan tekanan harga jual, bukan masalah operasional. Justru di sinilah diversifikasi menjadi krusial: ketika komoditas tidak bisa diandalkan untuk mengangkat topline, mesin pertumbuhan lain harus siap mengambil alih. Kalau data ini bisa dipercaya, mesin itu sedang dipanaskan.

Ekspansi digitalnya bukan sekadar di atas kertas. Lewat merger yang efektif secara hukum per 22 April 2026, PT Eka Mas Republik alias MyRepublic dan PT Mora Telematika Indonesia Tbk bergabung menjadi PT Ekamas Mora Republik Tbk, atau MoraRepublic. Entitas baru ini mewarisi jaringan fiber optik lebih dari 116.000 kilometer dan langsung bertengger sebagai pemain FTTH terbesar kedua di Indonesia. Jumlah homepass melonjak 64,1% menjadi 10,5 juta, sementara pelanggan aktif hampir dua kali lipat dalam setahun: naik 102,9% menjadi 1,9 juta subscribers. Masif.

Ekosistem digital itu juga sedang dilengkapi lapisan data center. Bersama KIRA SG One Pte. Ltd., DSSA tengah membangun Metro Data Center SMX01 di kawasan CBD Jakarta dengan kapasitas IT Load 18 MW, ditargetkan beroperasi kuartal IV-2026. Kalau jadwal ini terealisasi, DSSA akan punya stack digital yang cukup lengkap: koneksi, jaringan, sekaligus infrastruktur komputasi.

Di sisi energi terbarukan, langkahnya tidak kalah ambisius. Pabrik manufaktur sel dan modul surya berkapasitas 1 GW per tahun sudah diresmikan di Kendal. DSSA juga menjalin kemitraan dengan PT FirstGen Geothermal Indonesia, anak usaha First Gen Corporation asal Filipina, untuk menggarap proyek panas bumi dengan potensi kapasitas awal 440 MW di enam wilayah Indonesia. Di lini pertambangan sendiri, anak usaha PT Borneo Indobara sudah mengoperasikan 176 unit kendaraan listrik dan hybrid hingga Mei 2026 sebagai bagian dari peta jalan menuju net zero emisi pada 2028-2029.

"Fokus kami saat ini adalah mengakselerasi digitalisasi operasional guna memperkuat dan mengoptimalkan kinerja produksi di seluruh lini. Di saat yang sama, kami terus mengakselerasi investasi pada sektor energi baru terbarukan dan memperkokoh infrastruktur digital dan teknologi guna mendorong pertumbuhan yang lebih progresif," ujar Presiden Direktur DSSA Krisnan Cahya dalam keterangan resmi usai RUPST.

Dari sudut pandang analis, gambaran jangka panjangnya memang menarik. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menyebut strategi diversifikasi agresif DSSA sebagai salah satu faktor pendukung prospek emiten ini, mengingat kebutuhan konektivitas digital Indonesia yang terus membesar dan tekanan dekarbonisasi global yang tidak akan mereda. Tapi Nafan juga mengingatkan satu risiko yang tidak boleh diabaikan: ekspansi padat modal seperti ini rentan terhadap kenaikan suku bunga. Kalau sebagian besar pendanaan bertumpu pada utang eksternal, setiap perubahan arah kebijakan bank sentral otomatis menggerakkan biaya modal DSSA. "Kemampuan eksekusi proyek jadi kunci dan sinergi antar ekosistem bisnis juga penting," tegasnya.

Transformasi DSSA dari emiten batu bara menuju konglomerasi energi hijau dan digital masih dalam proses, dan hasil penuhnya belum akan terlihat dalam satu-dua kuartal ini. Pertanyaannya bukan lagi apakah diversifikasi ini nyata. Yang lebih relevan: seberapa cepat skala bisnis baru ini bisa menutup celah yang ditinggalkan komoditas?