Jenderal Pol. (Purn.) Sutarman, mantan Kapolri di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kini punya jabatan baru: Komisaris Utama sekaligus Komisaris Independen PT Bukalapak.com Tbk (BUKA). Keputusan itu disahkan lewat Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan yang digelar Kamis, 11 Juni 2026. Pasar agaknya menyambut kabar ini dengan cukup positif, setidaknya sesaat. Saham BUKA menguat 0,88% ke Rp115 per lembar pada sesi pertama keesokan harinya, dengan kapitalisasi pasar Rp11,86 triliun.
Alasan penunjukan Sutarman bukan soal rekam jejak kepolisian semata. Manajemen Bukalapak secara eksplisit menyebut keahlian keamanan siber sebagai pertimbangan utama. Masuk akal, mengingat lanskap ancaman digital yang kian mengkhawatirkan. Data Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat kerugian akibat kejahatan siber mencapai Rp476 miliar hanya dalam rentang November 2024 hingga Januari 2025. Laporan penipuan digital pun melonjak hingga 1,2 juta kasus pada pertengahan 2025. Buat perusahaan yang seluruh tulang punggung bisnisnya berbasis teknologi, risiko siber bukan ancaman abstrak.
"Bukalapak adalah perusahaan yang menggunakan teknologi secara ekstensif. Dengan pengalaman dan kontribusi beliau yang luas, khususnya dalam bidang kepemimpinan, tata kelola, dan keamanan siber, kami berharap kehadiran beliau dapat semakin memperkuat fungsi pengawasan dan memberikan perspektif strategis," ujar Komisaris Utama Adi Wardhana Sariaatmadja dalam keterangan tertulis, Jumat, 12 Juni 2026.
Ada detail yang luput dari sebagian laporan. Sebelum menjabat Kapolri, Sutarman pernah menjadi Kapolda Kepulauan Riau. Jabatan itu kini dipegang oleh Irjen Pol. Asep Safrudin, yang tak lain besan Sutarman sendiri. Kebetulan yang menarik, kalau data ini bisa dipercaya sebagai sekadar kebetulan.
Di kursi direksi, wajah lama pergi dan wajah baru masuk. Willix Halim yang telah menyelesaikan masa tugasnya digantikan oleh Natalia Firmansyah sebagai Pelaksana Tugas Direktur Utama. Posisi definitif Dirut akan ditentukan kemudian, sesuai rekomendasi Komite Nominasi dan Remunerasi. Victor Putra Lesmana dikukuhkan kembali sebagai Direktur Perseroan. Menurut manajemen, pola pergantian bertahap ini dirancang agar strategi bisnis dan operasional tidak oleng di masa transisi.
Yenny Wahid, putri Presiden Abdurrahman Wahid, resmi mengakhiri tugasnya sebagai Komisaris Independen sekaligus ESG Ambassador Bukalapak. Perusahaan menyampaikan penghargaan atas kontribusinya mendorong tata kelola yang baik dan sejumlah inisiatif keberlanjutan selama masa jabatannya.
Perombakan ini terjadi saat BUKA berupaya mereposisi diri dalam persaingan e-commerce yang sudah jauh lebih ketat dibanding ketika mereka pertama kali melantai di bursa. Pertanyaannya sederhana: apakah barisan komisaris baru ini cukup untuk menggerakkan jarum bisnis? Itu, bisa jadi, yang sesungguhnya ingin dijawab pemegang saham.