Dipecat karena kinerja buruk, seorang mantan karyawan perusahaan teknologi informasi NCS di Singapura memilih jalur yang tidak biasa untuk melampiaskan kekecewaannya. Kandula, warga negara India yang bergabung dengan NCS sejak November 2021, secara sistematis merancang dan mengeksekusi penghapusan 180 server virtual milik perusahaan lamanya, mengakibatkan kerugian senilai USD 918.000 atau sekitar Rp16,4 miliar.
Pemecatan Kandula terjadi pada Oktober 2022 setelah manajemen NCS menilai kinerjanya tidak memenuhi standar. Ia resmi mengakhiri masa kerjanya pada 16 November 2022, mengaku bingung dan kecewa berat atas keputusan itu. Selama hampir setahun ia mengelola sistem quality assurance (QA) dalam tim beranggotakan 20 orang, dan merasa kontribusinya tidak pernah dihargai. Akhirnya ia pulang ke India.
Tapi urusan belum selesai di sana. Dari India, Kandula mengakses sistem NCS secara ilegal enam kali antara 6 hingga 17 Januari 2023, memanfaatkan kredensial administrator yang agaknya tidak langsung dinonaktifkan tim IT perusahaan setelah pemecatannya. Celah itu yang ia eksploitasi.
Pada Februari 2023, Kandula kembali ke Singapura dengan alasan mencari pekerjaan baru, menumpang di kamar mantan rekan kerjanya. Dari sana, memanfaatkan koneksi Wi-Fi tempat tinggalnya, ia mulai menulis dan menguji skrip penghapus server pada 23 Februari 2023. Tujuannya satu: memastikan program itu bekerja sempurna sebelum dieksekusi. Perencanaan yang cukup dingin untuk seseorang yang mengklaim hanya meluapkan emosi.
18 dan 19 Maret 2023. Kandula masuk ke sistem QA sebanyak 13 kali, lalu menjalankan skrip tersebut secara bertahap hingga seluruh 180 server virtual lenyap. Tim IT NCS baru menyadari ada yang tidak beres keesokan harinya ketika sistem pengujian tidak dapat diakses sama sekali. Upaya troubleshooting awal gagal total. Barulah tim sadar: tidak ada yang perlu dipulihkan karena servernya sudah tidak ada.
NCS melaporkan insiden ini ke kepolisian Singapura pada 11 April 2023, setelah penyelidikan internal berhasil melacak sejumlah alamat IP mencurigakan yang terhubung ke sistem. Polisi menyita laptop Kandula. Di dalam perangkat itu, penyidik menemukan barang bukti yang cukup telak: skrip penghapus server tersimpan rapi.
Perlu dicatat bahwa 180 server yang dihapus adalah bagian dari sistem pengujian mandiri yang tidak menyimpan data sensitif pelanggan maupun data internal perusahaan. Fakta ini mungkin sedikit meringankan dampak operasional jangka panjang. Tapi tidak buat dompet NCS. Biaya pemulihan dan gangguan operasional tetap mencetak kerugian material yang besar, dan entah kebetulan atau tidak, angka USD 918.000 itu hampir setara dengan gaji beberapa tahun posisi setingkat Kandula di industri yang sama.
Pengadilan Singapura menjatuhkan hukuman penjara dua tahun delapan bulan. Bukan main. Kasus ini menjadi cermin retak bagi perusahaan teknologi mana pun: akses kredensial mantan karyawan adalah risiko keamanan siber yang terlalu sering dianggap sepele, sampai ada yang benar-benar memakainya.