Ketegangan di Timur Tengah yang merembet dari Selat Hormuz ke Selat Bab el-Mandeb bukan sekadar berita geopolitik. Bagi sebagian fund manager, ini sinyal buat portofolio.
Sucor Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy PT Elnusa Tbk (ELSA) dengan target harga Rp1.280 per saham, atau potensi kenaikan 92% dari harga terakhir di level Rp665. Angka yang tidak main-main.
Berbeda dari MEDC maupun ENRG yang lebih langsung ketiban volatilitas harga minyak, ELSA bermain di zona lebih nyaman: jasa hulu, bukan produksi. "Perseroan diuntungkan oleh peningkatan aktivitas di bisnis hulu tanpa harus menghadapi risiko langsung dari volatilitas harga," tulis Sucor Sekuritas dalam laporan risetnya, dikutip Minggu (26/7/2026).
Logikanya lumayan sederhana. Semakin panas konflik kawasan, semakin cepat pemerintah mendorong ketahanan energi nasional. Target produksi minyak yang hendak dilipatgandakan otomatis menggairahkan aktivitas pengeboran, dan megaproyek seperti Masela serta Andalan yang selama ini berjalan lambat kini kian gencar digarap. ELSA, sebagai penyedia layanan jasa hulu migas, jadi yang pertama ketiban rezeki.
Tiga fondasi di balik proyeksi optimistis Sucor: pandangan konstruktif terhadap pergerakan harga minyak, akselerasi bisnis hulu yang terlihat nyata di lapangan, dan neraca keuangan ELSA yang saat ini dipenuhi kas melimpah. Kombinasi ketiganya, kalau data ini bisa dipercaya, cukup meyakinkan bagi Sucor untuk tidak bergeser dari posisinya.
Di pasar minyak sendiri, sepekan terakhir cukup dramatis. Brent sempat menembus US$102 per barel pada Kamis, level psikologis yang sudah lama tidak terjadi, sementara WTI melonjak ke US$91,7 per barel. Pasar merespons. Tapi sentimen berbalik di akhir pekan setelah muncul laporan perundingan AS-Iran yang difasilitasi Pakistan, sehingga kekhawatiran gangguan pasokan sedikit mereda. Brent ditutup di US$98,6 per barel, WTI di US$89,1 per barel pada Jumat. Koreksi terbatas, dan bisa jadi hanya jeda sesaat.
Kalaupun harga minyak kembali tergerus karena perundingan damai berlanjut, ELSA agaknya tidak terlalu terguncang. Model bisnis berbasis fee jasa hulu membuat perseroan tetap bisa mengantongi pendapatan selama aktivitas pengeboran berjalan, terlepas dari apakah harga komoditas sedang di puncak atau mulai amblas.
Dengan upside potensial hampir dua kali lipat dari harga sekarang, pertanyaannya justru lebih ke sini: apakah pasar sudah sepenuhnya mempricing ini, atau ELSA masih genuinely undervalued di mata sebagian besar investor?