RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Euforia Piala Dunia Berlalu, Argentina Kembali Mem...

Internasional

Euforia Piala Dunia Berlalu, Argentina Kembali Membara

Ribuan warga Argentina turun ke jalan di Buenos Aires pada 22 Juli 2026, menghidupkan kembali gelombang protes terhadap kebijakan austerity Presiden Javier Milei yang sempat redup selama Piala Dunia.

Usai Euforia Piala Dunia, Ribuan Warga Argentina Kembali Turun ke Jalan - Ntvnews.id

Tinta euforia Piala Dunia belum kering, jalanan Buenos Aires sudah kembali dipadati demonstran. Ribuan warga Argentina meluapkan kemarahan terhadap kebijakan penghematan anggaran Presiden Javier Milei pada Rabu, 22 Juli 2026, sebuah pengingat bahwa kemenangan di lapangan hijau tidak otomatis menyelesaikan krisis di darat.

Aksi ini bukan muncul tiba-tiba. Sebelum Piala Dunia bergulir, kelompok pensiunan sudah rutin menggelar demonstrasi mingguan di depan gedung Kongres, menuntut kenaikan dana pensiun dan akses layanan kesehatan yang lebih layak. Beberapa aksi dibubarkan paksa aparat. Selama turnamen berlangsung, perhatian publik beralih ke timnas yang akhirnya menutup kompetisi sebagai runner-up. Begitu peluit panjang berbunyi, jalan kembali jadi panggung.

Kali ini skalanya lebih besar. Konfederasi Buruh Umum (CGT), serikat buruh terbesar di Argentina, memobilisasi massa bersama partai-partai berhaluan kiri. Gelombang manusia yang membanjiri akses masuk ibu kota sempat melumpuhkan lalu lintas Buenos Aires di pagi hari. Bentrokan antara demonstran dan polisi pecah di Avellaneda, kawasan pinggiran kota. Bukan main.

Apa yang membuat pensiunan seperti Raul Maldonado (69) tetap turun ke jalan meski usianya tidak lagi muda? "Dua puluh persen orang menjadi jutawan, sedangkan 80 persen dari kita yang berada di bawah tetap sama, bertahan dengan gaji yang rendah," ungkapnya kepada AFP. Angka-angka itu memang tidak berbohong: hampir separuh dari 7,8 juta pensiunan Argentina hanya menerima pensiun minimum. Ditambah bonus pun, total yang masuk kantong hanya sekitar USD 330 per bulan, kurang dari sepertiga kebutuhan dasar lansia di negara itu. Rp 5 jutaan. Untuk sebulan.

Sekretaris Jaminan Sosial CGT Hugo Benitez tidak menyembunyikan nada ancaman saat bicara soal langkah selanjutnya, menegaskan serikat buruh akan terus menaikkan intensitas aksi. Negara ini, katanya, tengah menghadapi situasi kritis bagi seluruh pekerja.

Wakil Menteri Ekonomi Jose Luis Daza membela kebijakan pemerintah. "Kami sedang menciptakan kondisi agar lapangan kerja membaik, upah meningkat, dan pendapatan seluruh populasi naik," ujarnya. Klaim yang langsung dihajar tokoh serikat buruh Horacio Jerez. "Kondisi makroekonomi adalah satu hal, tetapi kehidupan sosial sehari-hari seluruh rakyat Argentina adalah hal yang sama sekali berbeda," tegas Jerez kepada AFP.

Adil juga untuk dicatat bahwa kebijakan austerity Milei bukan tanpa hasil terukur. Dalam dua setengah tahun pemerintahannya, inflasi berhasil ditekan dari hampir 200 persen menjadi 33 persen, surplus fiskal tercatat, dan peringkat kredit negara meningkat. Pencapaian yang, bagi jutaan warga yang bergantung pada pensiun minimum, agaknya terasa seperti cerita dari planet lain.

Milei sendiri mengakui beratnya tekanan yang dirasakan masyarakat, tapi bersikeras bahwa kesabaran adalah harga yang harus dibayar untuk pemulihan jangka panjang. Pertanyaannya sederhana: sampai kapan kesabaran itu bisa dituntut dari orang yang makan dari USD 330 sebulan?