RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  FPSO Terbesar Asia Tenggara Mulai Dibangun, Invest...

Bisnis

FPSO Terbesar Asia Tenggara Mulai Dibangun, Investasi USD 15 Miliar

Pemotongan baja perdana FPSO Bahtera Haluan Lestari menandai dimulainya konstruksi North Hub Development Project, proyek migas ultra-deepwater pertama Indonesia dengan nilai investasi USD 15 miliar yang ditargetkan beroperasi akhir 2028.

SKK Migas: 50.000 Ton Material Lokal Digunakan untuk FPSO Bahtera Haluan Lestari

Pemotongan baja perdana FPSO Bahtera Haluan Lestari di Karimun, Kepulauan Riau, Kamis (23/7/2026), bukan sekadar seremonial. Ini pertanda Indonesia resmi masuk ke liga produksi ultra-deepwater, arena yang selama ini jadi wilayah eksklusif pemain migas global.

North Hub Development Project mengintegrasikan Lapangan Geng North dan Lapangan Gehem di Cekungan Kutai, Selat Makassar. Total investasinya USD 15 miliar: hampir USD 3 miliar untuk pembangunan FPSO saja, sisanya sekitar USD 12 miliar mengalir ke fasilitas pendukung. Bukan angka yang bisa diabaikan.

FPSO ini akan beroperasi di kedalaman sekitar 2.000 meter, yang belum pernah dilakukan Indonesia sebelumnya. Senior Vice President North Ganal Mikro Araldi menyebut spesifikasinya: panjang 350 meter, lebar 64 meter, tinggi 32 meter, bobot total sekitar 147.000 metrik ton. Kepala SKK Migas Djoko Siswanto memilih ukuran yang lebih mudah dibayangkan. "FPSO ini adalah yang terbesar di Indonesia dan juga di Asia Tenggara, serta masuk kategori terbesar di dunia," katanya, setelah menyebut kapal ini setara tiga lapangan sepak bola.

Kapasitas produksinya? Gas 1.000 MMSCFD, kondensat sekitar 80.000 BOPD, penyimpanan hingga 1,4 juta barrel. Kelas berat, dengan kata lain.

Pertanyaan yang wajar: seberapa besar kandungan lokal dalam proyek senilai belasan miliar dolar ini? Sekitar 50.000 ton material untuk bagian topside diproduksi di dalam negeri. Pipa yang mampu dibuat industri baja domestik digunakan 100 persen. Tapi untuk pipa khusus operasi ultra-deepwater di 2.000 meter, Indonesia masih harus impor. "Pipa-pipa yang bisa diproduksi di dalam negeri, otomatis 100 persen digunakan untuk proyek ini," kata Djoko. Agaknya situasi yang tidak ideal, tapi realistis untuk tahap ini.

Alokasi produksinya cukup pro-domestik. Sebesar 72 persen gas dari North Hub diserap pasar lokal: 52 persen lewat jaringan pipa untuk industri Kalimantan, mencakup kelistrikan, pupuk, petrokimia, amonia, dan metanol. Dua belas persen dalam bentuk LNG untuk PLN dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS). Sisanya, 8 persen, disiapkan sebagai buffer untuk kebutuhan industri baru yang belum bisa diprediksi sekarang. Soal harga, Djoko menyebut gas dari proyek ini sudah sedikit di atas tingkat keekonomian, dengan LNG mengacu formula sekitar 12,5 persen dikali harga minyak dunia.

Target operasi: kuartal IV 2028. Selain dampak energi, North Hub diproyeksikan menyerap sekitar 8.000 tenaga kerja, mayoritas warga lokal Batam, Bintan, dan Karimun. Penerimaan negara dari proyek ini ditaksir hampir USD 13 miliar sepanjang masa operasinya. Angka yang tidak main-main, apalagi saat tekanan fiskal dari transisi energi global kian terasa.

Bagi industri fabrikasi lepas pantai nasional, proyek ini bisa jadi katalis yang sudah lama dinantikan. Entah kebetulan atau tidak, momentum first steel cut ini datang persis saat Indonesia sedang keras membuktikan kapasitas industri dalam negeri di sektor energi. North Hub, kalau berjalan sesuai jadwal, akan jadi ujian nyata klaim itu.