Sepanjang April hingga Agustus 2026, investor asing konsisten memborong saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) setiap bulan tanpa jedah. Total net buy asing sepanjang Agustus saja tembus Rp 179,2 miliar. Lalu datanglah September, dan segalanya berbalik dalam hitungan hari.
Pada 31 Agustus, GGRM sempat jadi bintang sesi. Harganya melejit 6,53% ke Rp 20.800, net buy asing Rp 37,83 miliar, dipicu efektifnya hasil tinjauan indeks MSCI untuk periode Agustus 2026. Nilai transaksi di sesi itu mencapai Rp 87,66 miliar dengan frekuensi 5.376 kali. Cukup ramai untuk ukuran emiten rokok yang sedang dalam fase konsolidasi.
Momentum itu tidak bertahan lama. Sejak 1 September, asing mulai melepas posisi: net sell Rp 11,99 miliar di tanggal 1, Rp 2,15 miliar di tanggal 2, dan Rp 197,7 juta di tanggal 3. Total net sell asing dalam empat hari pertama September mencapai sekitar Rp 14 miliar. Bukan angka yang mengkhawatirkan secara absolut, tapi cukup untuk menggeser sentimen. Pada penutupan Jumat (4/9), GGRM parkir di Rp 20.075, melemah 1,1% di hari itu, meski dalam sepekan masih menguat 2,8%.
Angka year-to-date-nya tetap impresif: melejit 43,39% dari posisi Rp 14.000 di awal tahun. Saham ini juga masih bertahan di Indeks MSCI Small Cap.
Cerita sesungguhnya justru ada di laporan keuangan semester I-2026 yang, jujur saja, di luar dugaan banyak analis. GGRM membukukan laba bersih Rp 3 triliun di paruh pertama tahun ini, melonjak 2.440,2% secara tahunan. Rp 3 triliun. Angka yang sulit diabaikan begitu saja.
Lonjakan itu bukan karena penjualan rokok tiba-tiba membaik. Justru sebaliknya: pendapatan semester I-2026 amblas 7,2% menjadi Rp 41,2 triliun, mencerminkan permintaan inti yang masih lesu. Pemulihan laba datang dari sisi biaya. Harga pokok penjualan tergerus 13,3%, beban cukai menyusut 14%, dan beban operasional dipangkas habis 33,8% lantaran efisiensi tenaga kerja yang agresif. Jumlah karyawan GGRM per Juni 2026 sekitar 21.100 orang, turun dari sekitar 27.000 orang pada Juni 2025.
"Beban pokok pendapatan yang turun lebih cepat daripada pendapatan, ditambah komposisi produk yang lebih baik, membantu pemulihan margin. Penurunan opex kemudian membuat perbaikan tersebut ikut tercermin pada laba bersih," jelas analis MNC Sekuritas Catherine Florencia M dalam risetnya.
Berdasarkan kinerja semester pertama itu, Catherine merevisi naik proyeksi laba bersih GGRM untuk 2026 sebesar 32,3% dan untuk 2027 sebesar 20,9%. Laba bersih penuh tahun 2026 diperkirakan mencapai Rp 4,6 triliun, melonjak 198,4% secara tahunan. Tahun berikutnya diproyeksikan tumbuh lagi 15,5% ke Rp 5,3 triliun. Realisasi semester pertama yang sudah 64,1% dari proyeksi MNC Sekuritas, dan 68,5% dari estimasi konsensus, membuat angka-angka itu terasa tidak terlalu muluk.
Seiring revisi tersebut, MNC Sekuritas meng-upgrade rekomendasi GGRM dari hold menjadi buy, dengan target harga Rp 24.700. Valuasinya mencerminkan PE 10,2 kali untuk 2026 dan 8,9 kali untuk 2027, dengan PBV 0,7 kali. Dari posisi harga sekarang sekitar Rp 20.000-an, target itu menyiratkan upside sekitar 20-an persen.
Satu faktor kebijakan yang agaknya disambut lega industri: Menteri Keuangan Purbaya mengindikasikan pemerintah tidak berniat menaikkan maupun menurunkan tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT) pada 2027, dengan fokus bergeser ke stabilitas industri dan pengawasan. Bagi GGRM, sinyal itu bak gayung bersambut, mengingat tekanan cukai selama beberapa tahun terakhir menjadi salah satu biang kerok profitabilitas industri rokok.
Meski begitu, MNC Sekuritas tidak menyembunyikan catatannya. Pemulihan laba GGRM saat ini lebih banyak bersandar pada pemangkasan biaya ketimbang pertumbuhan pendapatan yang sesungguhnya. Pertanyaannya, sampai kapan efisiensi bisa mengompensasi permintaan rokok yang mandek? Kalau volume penjualan tidak ikut pulih dalam satu atau dua kuartal ini, ruang efisiensi tambahan bakal makin sempit, dan ceritanya bisa berubah.