RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Internasional  ›  Gunung Pickaxe: Lubang Terdalam Iran yang Kini Dib...

Internasional

Gunung Pickaxe: Lubang Terdalam Iran yang Kini Dibidik Trump

Kompleks bawah tanah di dekat Natanz yang diduga menampung ribuan sentrifugal nuklir Iran kini jadi sasaran ancaman militer AS. Mengapa lokasi ini begitu krusial, dan seberapa sulit menghancurkannya?

Kenapa Trump Membidik Gunung Pickaxe Iran?

Trump sudah menyebut namanya terang-terangan dari Gedung Putih. Dunia pun mendadak memutar perhatian ke sebuah gunung di provinsi Isfahan yang selama ini dijaga dalam keheningan total.

Kompleks bawah tanah yang dikenal sebagai Gunung Pickaxe, dalam bahasa Farsi Kuh-e Kolang Gaz La, bukan nama asing di kalangan analis proliferasi senjata. Tapi pernyataan Donald Trump pada Selasa (21/7) mengubah status lokasi ini dari objek pengamatan intelijen menjadi potensi zona konflik terbuka. "Kami kemungkinan besar akan menyerang wilayah itu dalam waktu dekat. Tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk menghalanginya," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih. Iran tak tinggal diam: Teheran mengancam akan memperluas perang jika fasilitas nuklirnya menjadi sasaran.

Dua kilometer. Sejauh itulah jarak Gunung Pickaxe dari pabrik pengayaan uranium Natanz, salah satu jantung program nuklir Iran. Digali jauh di perut gunung, kompleks ini menurut estimasi Institut Ilmu Pengetahuan dan Keamanan Internasional (ISIS) yang berbasis di Washington kemungkinan tertanam pada kedalaman 80 hingga 100 meter. Kedalaman yang tidak main-main, karena pada titik itu bahkan bom penembus bunker paling mutakhir milik militer AS pun mulai kehilangan efektivitasnya.

Aktivitas konstruksi di lokasi ini mulai terdeteksi lewat citra satelit komersial Maxar Technologies sejak 2020, memperlihatkan pintu masuk terowongan baru, jalan akses, instalasi keamanan, dan tumpukan besar batu galian. Percepatan pembangunan berlangsung persis setelah ledakan Juli 2020 yang merusak bengkel perakitan sentrifugal canggih di Natanz, yang oleh Teheran diklaim sebagai sabotase. Beberapa bulan berselang, Iran mengumumkan rencana fasilitas bawah tanah pengganti yang lebih besar, lebih canggih, dan lebih terlindungi.

Pada Juni 2026, The Wall Street Journal melaporkan bahwa intelijen Israel menilai Iran kemungkinan telah memindahkan ribuan mesin sentrifugal pengayaan uranium ke kompleks tersebut, terutama setelah serangkaian serangan udara AS dan Israel selama 12 hari pada Juni 2025 yang menghantam Fordo, sebagian Natanz, dan Isfahan. Trump sendiri merespons klaim ini dengan setengah hati: Iran "mungkin telah" memindahkan sentrifugal ke sana, tapi "kami tidak memiliki catatan mengenai hal itu."

Ketidakpastian itu berakar dari satu masalah yang tidak bisa disiasati: tidak ada yang pernah masuk ke sana. Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi berulang kali menegaskan bahwa para inspektur badan atom internasional tersebut belum pernah diberi izin masuk. Tanpa inspeksi langsung, semua penilaian tentang isi Gunung Pickaxe, apakah berisi sentrifugal, bahan nuklir, atau sekadar infrastruktur pendukung, tetap bersandar pada citra satelit dan penilaian intelijen. Asap tanpa api, atau sebaliknya, belum ada yang bisa memastikan.

Farzin Nadimi, peneliti senior di Washington Institute for Near East Policy, mengatakan kepada DW bahwa nilai strategis Gunung Pickaxe terletak pada dua hal sekaligus: ketahanannya terhadap bom penembus bunker, dan kedekatannya dengan kompleks Natanz. Dengan rusaknya sejumlah fasilitas Iran pasca serangan Juni 2025, Nadimi berpendapat bahwa kegiatan pengayaan uranium ke depan, termasuk yang berkaitan dengan senjata, agaknya akan terkonsentrasi di satu titik paling terlindungi. "Gunung Pickaxe adalah kandidat paling logis untuk peran tersebut," tegasnya.

Iran sendiri konsisten berdalih bahwa pembangunan fasilitas bawah tanah adalah respons logis terhadap ancaman sabotase dan serangan militer yang memang nyata. Teheran juga tak pernah goyah mengklaim program nuklirnya untuk tujuan damai. Tapi angka yang beredar di kalangan inspektur internasional sulit diabaikan: sekitar 440 kilogram uranium yang diperkaya hingga kemurnian 60%, jauh di atas kebutuhan sipil dan hanya selangkah dari 90% yang dibutuhkan untuk senjata nuklir.

Seandainya serangan benar terjadi, tujuan realistisnya bukan menghancurkan seluruh kompleks. Meruntuhkan pintu masuk terowongan, merusak jalur akses, melumpuhkan infrastruktur pendukung, itu skenario yang lebih masuk akal secara militer. Pertanyaannya: apakah itu cukup untuk menghentikan ambisi nuklir Iran, atau justru mendorong Teheran bergerak lebih dalam lagi ke perut bumi?