Mulai 8 September, konsumen Iran yang doyan ngebut di jalanan harus menanggung beban baru. Pemerintah Teheran menaikkan harga bensin untuk tier ketiga dari 5.000 Toman menjadi 10.000 Toman per liter, langkah fiskal yang sulit dihindari ketika Rial terus ambruk dan sanksi Washington makin mencekik.
Sistem kuota Iran sendiri membagi harga bensin dalam tiga tingkatan: 1.500 Toman per liter untuk 60 liter pertama tiap bulan, 3.000 Toman untuk 50 liter berikutnya, lalu kini 10.000 Toman untuk konsumsi di atas batas itu. Dua tier bawah tidak berubah. Juru bicara pemerintah Fatemeh Mohajerani yang mengumumkan kebijakan ini pada Minggu (6/9) menyebut angka 10.000 Toman bukan muncul dari ruang hampa. "Berbagai angka sempat dibahas dalam pertemuan para ahli, namun karena presiden telah berjanji kepada masyarakat, maka ditetapkanlah tarif 10.000 Toman," kata Mohajerani.
Konteks politiknya tidak bisa diabaikan. Iran adalah produsen minyak besar yang selama bertahun-tahun memanjakan warganya dengan bensin murah bersubsidi, bahkan setelah kenaikan ini harganya masih tergolong paling rendah di dunia. Tapi inflasi dan pelemahan Rial sudah lama menggerus daya beli rakyat biasa, dan setiap sentuhan pada harga BBM selalu berpotensi meledak.
Rial memang sedang babak belur. Di pasar gelap, kursnya kini menembus 2,2 juta Rial per dolar AS, jauh dari posisi 1,7 juta sebelum konflik bersenjata pecah pada 28 Februari lalu. Sesaat setelah perang meletus, Rial sempat menyentuh rekor terlemahnya di kisaran 1,8 juta per dolar pada akhir April. Angka itu pun sudah lama terlampaui.
Tekanan dari Washington? Bukan gertakan biasa. Menteri Keuangan AS Scott Bessent bulan lalu secara gamblang memaparkan rencana untuk "mencekik perekonomian" Iran lewat instrumen finansial, melengkapi rezim sanksi yang sudah berjalan sejak 2018 ketika Trump pertama kali menarik AS keluar dari perjanjian nuklir. Kali ini Washington bahkan memberlakukan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, dengan target memangkas ekspor minyak negara itu hingga ke angka nol.
Teheran agaknya tidak mau terlihat tersudut. Juru bicara IRGC Brigadir Jenderal Hossein Mohibi balik menyerang secara retoris, mengklaim setiap satu dolar kerugian yang ditimpakan ke Iran akan memukul balik Washington berlipat ganda. "Jika AS ingin menimbulkan kerugian ekonomi sebesar satu dolar terhadap Iran, mereka mungkin harus menanggung biaya dan kerugian beberapa dolar," kata Mohibi kepada kantor berita Mehr pada Minggu (6/9/2026). Klaim yang masih perlu dibuktikan, tentu saja.
Argumentasinya: AS kini menanggung beban utang domestik yang besar plus persaingan ekonomi sengit dengan China, sehingga sulit memenangkan perang ekonomi jangka panjang. Mohibi juga mengklaim blokade sudah mengganggu pasokan bahan baku strategis kawasan, termasuk aluminium, yang pada gilirannya menekan cadangan dan akses AS sendiri.
Konflik ini bermula ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Februari, dibalas Teheran dengan serangan terhadap target-target AS dan Israel sekaligus eskalasi ketegangan di Selat Hormuz. Jalur pelayaran vital itu kini jadi salah satu arena perang ekonomi paling krusial di planet ini.
Bagi siapa pun yang mengamati pasar energi global, pola ini sudah familiar: setiap derajat ketegangan di Selat Hormuz adalah variabel nyata bagi harga minyak. Pertanyaannya, berapa lama rakyat Iran bisa menyerap tekanan fiskal yang makin berat sebelum ketidakpuasan domestik berubah jadi kartu politik baru dalam permainan ini?