RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Harga CPO Tertekan Dua Sesi Beruntun, B50 Tetap Ja...

Bisnis

Harga CPO Tertekan Dua Sesi Beruntun, B50 Tetap Jadi Kartu Truf Emiten Sawit

Harga CPO di Bursa Malaysia rontok dua sesi berturut-turut, tapi kebijakan biodiesel B50 mulai Juli 2026 bikin prospek emiten sawit Indonesia tetap menarik di mata analis.

Dua sesi, dua kali koreksi. Harga crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) mencatat pelemahan beruntun akhir pekan lalu dan awal pekan ini, memutus reli tiga hari yang sempat memompa optimisme pelaku pasar.

Pada penutupan Senin (27/4/2026), kontrak berjangka CPO Mei 2026 jatuh 52 Ringgit Malaysia ke level 4.465 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak Juni 2026 terkoreksi lebih dalam, amblas 60 Ringgit Malaysia ke 4.505 Ringgit Malaysia per ton. Sehari sebelumnya bukan sehari, tapi Kamis (23/4), kontrak Mei sudah lebih dulu tergerus 44 Ringgit Malaysia ke 4.505 Ringgit Malaysia per ton, dipicu aksi profit taking setelah harga olein sawit di pasar China melandai.

Di pasar domestik, tekanan serupa terasa. PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) Inacom menetapkan harga CPO Franco Dumai di Rp15.459 per kilogram pada Senin, turun Rp41 atau sekitar 0,26 persen dari harga Jumat (24/4) di Rp15.500 per kilogram.

Permintaan lesu dari pasar utama, ditambah ekspektasi produksi yang meningkat selama April, jadi kombinasi yang menekan sentimen. Malaysian Palm Oil Council (MPOC) mencatat stok minyak sawit Malaysia per Maret 2026 turun 16,1 persen ke 2,26 juta ton, seiring ekspor yang melonjak ke 1,55 juta ton dan melampaui produksi bulanan 1,37 juta ton. Tapi justru di situlah pasar mulai gelisah: musim puncak produksi mendekat, dan stok berpotensi menumpuk lagi.

MPOC memproyeksikan harga CPO bertahan di kisaran RM4.500 per ton dalam waktu dekat, ditopang margin biodiesel yang membaik, penguatan harga minyak mentah dunia, dan ancaman El Niño yang bisa mengganggu produksi regional. Ruang naik tetap terbatas. Tapi juga tidak ada pemicu kuat untuk amblas jauh.

Cerita yang berbeda datang dari emiten sawit Indonesia.

Pemerintah menjadwalkan implementasi mandatori biodiesel B50 mulai 1 Juli 2026. Kebijakan ini diprediksi jadi katalis positif yang cukup kuat, eh, koreksi: bukan diprediksi, ini sudah dihitung analis. Serapan domestik yang meningkat akan mengurangi ketergantungan pada harga ekspor global. Sejumlah analis menilai kombinasi B50 dengan kinerja keuangan 2025 yang solid membuat saham-saham CPO layak dicermati ulang, meski ruang kenaikan sudah mulai sempit setelah reli year-to-date yang cukup kencang.

Lihat datanya. PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) membukukan laba bersih Rp1,8 triliun di 2025, melonjak 60,2 persen secara tahunan, dengan pendapatan tumbuh 21,7 persen ke Rp12,3 triliun. Peremajaan lahan 5.500 hektare dan total area tertanam 111.900 hektare dengan rata-rata usia tanaman 15 tahun membuat produktivitas DSNG diperkirakan bisa menyentuh 23 ton per hektare tahun ini, kalau cuaca bersahabat, tentu.

PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) mencatatkan laba bersih Rp3,7 triliun, naik 18,65 persen, dengan 82,7 persen tanaman sudah di usia produktif. Manajemen menargetkan produksi CPO naik 8 persen ke 1,01 juta ton pada 2026. Angka yang tidak main-main.

PT London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) membukukan laba tahun berjalan Rp1,89 triliun di 2025. Laba operasional tumbuh 28 persen, didorong kenaikan harga jual rata-rata, meski produksi TBS inti stabil di 1,34 juta ton. Pasokan TBS eksternal yang naik 19 persen ikut mendorong produksi CPO tumbuh 2 persen ke 292 ribu ton, dengan rasio ekstraksi 21,9 persen.

Di pasar saham, reli sudah lebih dulu berlari. SIMP naik 42,11 persen year-to-date ke Rp810, LSIP melonjak 41,42 persen ke Rp1.690, TAPG menguat 28,81 persen ke Rp1.945. AALI dan DSNG masing-masing terkerek 12,54 persen dan 11,63 persen. Setelah kenaikan sekencang itu, bisa jadi harga sudah mencerminkan sebagian besar katalis positif yang ada, termasuk B50. Setidaknya begitu kalau data ini bisa dipercaya sebagai cermin ekspektasi pasar.

Satu sisi lagi patut dicermati. Harga minyak goreng di pasar konsumen mulai terasa naiknya, dengan proyeksi lonjakan hingga 20 persen akibat permintaan global yang meningkat dan gangguan rantai pasok kemasan plastik akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Bak pedang bermata dua: bagi emiten produsen, margin terbantu. Bagi konsumen akhir, dompet yang lebih tipis.

Pertanyaannya sederhana: setelah B50 benar-benar berjalan Juli nanti, apakah katalisnya sudah keburu habis di harga saham yang terlanjur naik duluan?