Rp35.000 dalam satu malam. Itulah yang harus ditelan pembeli emas Antam pagi ini, Jumat (24/7/2026), ketika harga logam mulia produksi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) terkoreksi dari Rp2.640.000 menjadi Rp2.605.000 per gram per pukul 09.03 WIB. Koreksi 1,3 persen ini bukan angka yang bisa diabaikan, terlebih bagi investor yang sudah nyangkut di harga tinggi beberapa hari terakhir.
Harga buyback ikut terseret, turun ke Rp2.345.000 per gram. Selisih antara harga jual dan harga beli kembali hari ini mencapai Rp260.000 per gram, spread yang cukup lebar dan menjadi pengingat bahwa emas batangan bukan instrumen untuk permainan jangka pendek.
Gambarannya makin lengkap kalau kita tengok kanal distribusi lain. Di Galeri 24 milik Pegadaian, mayoritas produk emas kompak melemah. Emas bermerek Galeri 24 ukuran 1 gram dijual Rp2.608.000, turun dari Rp2.619.000 di sesi sebelumnya. Emas UBS 1 gram menyusul di Rp2.620.000, tergerus dari Rp2.632.000. Antam Mulia Retro pun tak luput, dari Rp2.636.000 menjadi Rp2.626.000 per gram.
Satu anomali yang menarik: emas Antam versi Pegadaian justru naik tipis ke Rp2.746.000 dari Rp2.741.000. Beda platform, beda nasib. Selisih lebih dari Rp140.000 per gram antara kanal Logam Mulia resmi dan Pegadaian agaknya mencerminkan perbedaan struktur biaya distribusi dan margin masing-masing platform. Bukan sesuatu yang perlu diperdebatkan, tapi tetap patut dicermati sebelum memutuskan beli di mana.
Bagi yang ingin masuk di ukuran lebih besar, harga emas Antam hari ini di Logam Mulia terpantau sebagai berikut: 10 gram Rp25.545.000, 25 gram Rp63.737.000, 50 gram Rp127.395.000, dan 100 gram Rp254.712.000. Pembelian dikenai pajak PPh 0,25 persen dari harga dasar. Transaksi buyback di atas Rp10 juta kena PPh Pasal 22 sebesar 1,5 persen, langsung dipotong dari nilai transaksi.
Koreksi hari ini bisa jadi hembusan angin sesaat. Bisa jadi juga awal konsolidasi yang lebih panjang, pola yang cukup familiar bagi siapa pun yang sudah lama memantau logam kuning ini. Setelah bertengger di level tinggi beberapa pekan terakhir, tekanan jual seperti ini bukan kejutan, kalau data harga ini bisa dipercaya sebagai cerminan sentimen pasar yang memang sedang mendingin.