RABU, 21 OKTOBER 2026

Home  ›  Bisnis  ›  Harga Emas Menggantung di US$ 4.200, Semua Mata Te...

Bisnis

Harga Emas Menggantung di US$ 4.200, Semua Mata Tertuju ke FOMC

Setelah sempat tersungkur mendekati US$ 4.000, harga emas pulih ke US$ 4.210 per ons troi. Tapi dengan rapat The Fed di depan mata, pelaku pasar masih menahan napas.

Begini Ramalan Harga Emas Pekan Depan - Halaman all

Harga emas spot menutup pekan ini di US$ 4.210,52 per ons troi, sebuah pemulihan yang cukup dramatis setelah sebelumnya sempat terkapar ke US$ 4.023,10, level terendah sejak akhir 2025. Menyentuh area psikologis US$ 4.000 selalu cukup untuk bikin jantung investor emas berdegup tidak karuan.

Tiga faktor sekaligus menghajar logam mulia ini sepanjang pekan: lonjakan inflasi AS yang melampaui perkiraan, meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, dan eskalasi konflik Timur Tengah yang justru berjalan berlawanan dengan narasi emas sebagai aset safe haven. Agaknya pasar sedang memilah ulang risiko, dan emas untuk sementara jadi korbannya.

Namun aksi beli kembali muncul menjelang akhir pekan, mendorong harga pulih ke kisaran US$ 4.200-an. Pertanyaannya sekarang: apakah ini pemulihan sejati atau sekadar dead cat bounce?

Para analis Wall Street terbelah. Dari 17 analis yang disurvei Kitco News, sebanyak 11 orang atau 65% memilih menunggu hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 16-17 Juni sebelum menentukan arah. Hanya empat analis yang berani pasang badan untuk skenario kenaikan, sementara dua sisanya memprediksi harga akan terkoreksi lebih lanjut.

Sentimen investor ritel bahkan lebih pesimistis. Dari 70 responden jajak pendapat daring Kitco, hampir separuhnya, 49%, memperkirakan emas akan amblas pekan depan. Bukan cermin yang menyenangkan bagi para bulls.

Managing Director Bannockburn Global Forex Marc Chandler mewakili suasana kebingungan ini dengan cukup jujur. Momentum teknikal mulai menunjukkan tanda-tanda kejenuhan, tapi belum ada sinyal pembalikan yang meyakinkan. "Saya lebih cenderung menambah kepemilikan emas jika harga kembali mencetak level rendah baru," kata Chandler, strategi yang terdengar lebih defensif daripada agresif.

Adrian Day, Presiden Adrian Day Asset Management, masuk kubu optimistis. Argumennya: meredanya ketegangan Iran berpotensi menekan harga minyak, yang pada gilirannya mengurangi tekanan inflasi dan memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga. "Meski belum tentu terjadi pemulihan yang agresif, peluang harga emas bergerak lebih tinggi terlihat lebih besar dibandingkan turun lebih dalam," katanya.

Rich Checkan dari Asset Strategies International, yang menjabat Presiden di lembaga itu, senada. Level US$ 4.000 sudah terbukti sebagai area support yang solid. "Jika kesepakatan damai tercapai, emas berpotensi naik pekan depan. Bahkan jika kesepakatan gagal tercapai, harga emas masih berpeluang menguat, hanya saja kenaikannya mungkin tidak sebesar yang diharapkan pasar," ujarnya.

Tapi Senior Market Analyst FxPro Alex Kuptsikevich punya pandangan yang lebih suram. Ia menunjuk penembusan harga di bawah moving average 200 hari sebagai konfirmasi bahwa tren kenaikan jangka panjang sudah rusak. Pengetatan kebijakan moneter oleh bank sentral utama dunia, bukan cuma The Fed, menjadi beban yang tidak ringan.

US$ 3.800 hingga US$ 4.650 per ons troi. Rentang selebar hampir US$ 850 itu adalah proyeksi CPM Group untuk beberapa pekan mendatang, dan angka itu sendiri sudah cukup menceritakan betapa tidak ada yang benar-benar yakin dengan arah pasar saat ini.

Katalis utamanya jelas: rapat FOMC 16-17 Juni, yang untuk pertama kalinya dipimpin Ketua The Fed Kevin Warsh. Nada pernyataan Warsh soal inflasi dan suku bunga akan menjadi penentu. Sinyal dovish bisa mendorong emas melanjutkan pemulihannya, sementara pernyataan hawkish berpotensi kembali menghajar logam mulia ini ke kisaran US$ 4.000. Bagi pemegang emas, kalau data ini bisa dipercaya sebagai peta jalan, pekan depan bisa jadi salah satu yang paling mendebarkan sepanjang tahun ini.